Yang hilang dengan indah by Fadia Nurfadilah

Yang hilang dengan indah

 

Fadia Nurfadilah

 

Yang hilang dengan indah

Aku sedang berada di luar angkasa.
Bersama dengan seekor kucing berwarna oren. Dan kucing itu bisa
berbicara. Aku sedang melayang tak karuan, tak menapak apapun. Aku
melihat sekelilingku. Aku melihat bumi, bulan, dan sedikit lebih jauh,
matahari. Aku juga bisa melihat Mars dengan warna merahnya, aku juga
melihat saturnus dengan cincinnya, jupiter dengan badan besarnya, dan
neptunus dengan warna biru cantiknya. Di sekelilingku ada cahaya yang
jumlahnya banyak, kemungkinan dari bintang-bintang kecil, ada yang
terang ada yang redup.

Sedangkan bumi ada di depanku, berputar seperti biasanya. Dan aku
melihatnya! Benua, benua amerika, lalu aku melihat samudra atlantik,
lalu afrika, lalu eropa, asia, dan kemudian samudra hindia. Sepertinya di
bumi semua berjalan seperti biasa, hidup bersama penderitaan.
“Bagaimana pikiranmu Nat?” tanya kucing oren itu yang tengah
melayang dihadapanku. Posisinya seperti patung gayer anderson.
“Wow, di sini sangat tenang. Jadi aku benar-benar menghilang dari muka
bumi?”

“Bagaimana kalau kamu tidak bisa kembali lagi tetapi orang-orang masih
mengingatmu?”
“Maka aku akan dikenal sebagai orang hilang.”
“Menurutmu bagaimana seterusnya, jika kamu katakanlah satu tahun
berada di sini?” tanya kucing itu, kini posisinya loaf, pawnya dilipat ke
bagian bawah tubuhnya.
“Bagus dong, aku jadi tidak perlu memikirkan apapun.”

“Yakin kamu akan selamanya merasa tenang di sini. Bagaimana dengan
yang lain? Makanan, teman, musik, game, buku, semua yang kau miliki.
Tidakkah di sini terlalu sepi.”
Sepi. Aku mempertanyakan kalimat itu. Karna, di sini ada banyak benda
kecil maupun besar. Bintang-bintang bertebaran meskipun tidak cukup
untuk menerangi, lalu ada planet, bumi, bulan. Dan aku sendiri, dan
kucing ini.

“Tidakkah ini terlalu aneh, kosong, dan menakutkan. Tidakkah kamu
berpikir seperti itu? Manusia normal sih begitu”
“Tapi lebih baik begini daripada melibatkan banyak orang. Lagipula, kan
ada kamu.”
“Aku tidak ditakdirkan selamanya di sini. Jadi kamu akan sendiri”
Ada suatu sengatan di dadaku. Siapkah aku untuk hidup sendiri? Tanpa
melakukan apapun, tanpa hobi, tanpa musik, makan, berbicara, bahkan
mungkin tanpa tidur. Lalu apa yang akan aku lakukan?
Lalu, saat aku tengah sibuk dengan pikiranku, sesuatu yang bercahaya,
kecil mungkin seukuran kepalan tanganku. Tiba-tiba lewat dan melesat
ke depanku. Kobaran api menyelimutinya, ia berwarna biru dan pergi ke
arah bumi.

“Hah! Itukan? Meteor.”
Meteor itu semakin menjauh dari ku dan mendekat ke bumi. Oh itu
berada di sisi lebih jauh sedikit dari lingkar arktik, norwegia. Di sana pasti
malam hari, jadi mereka bisa menikmati pemandangan bintang jatuh.
Tetapi sepertinya mereka akan jatuh di rusia, kalau memang jatuh.
Tentu saja meteor itu tidak sampai ke bumi. Ia menguap lalu
mengeluarkan cahaya sebelum pada akhirnya menghilang secara
perlahan di udara.

“Dia sangat indah di saat-saat terakhirnya.”
“Kamu pasti akan sangat cantik, kalau saja tidak ada penderitaan di bumi
ini.” Aku jadi teringat perkataan seseorang.
Lalu, sesuatu yang panas mulai terasa dari belakang tubuhku. Aku
menengok ke belakang, hanya untuk melihat sebuah meteor berukuran
besar dengan api merah yang menyala di sekitarnya. Ia lewat di depan
mataku. Sekonyong konyongnya aku merasakan takjub dan aneh
sekaligus.
Ia melesat pergi, ke arah bumi. Yang kemudian mengubah rasa anehku
menjadi rasa takut.

 

 

Aku ingin bergerak, tapi tidak bisa. Aku ingin berteriak, namun tidak ada
yang keluar. Mengetahui pada saat itu juga kalau diriku bisa hancur dan
meledak kapan saja. Aku merasa takut dengan setiap detik berikutnya.
Aku cukup kosong untuk bereaksi. Jadi aku hanya melihat.
Pada akhirnya, meteor itu meledak secara dasyat di tengah jalannya
menuju bumi. Kepingan dan asapnya betebarang, api masih menyala.
Aku bahkan tidak bisa melihat bumi.

“Dan kamu tahu hidup terlalu aneh dengan semua yang terjadi. Apa yang
akan kamu lakukan?” kucing itu kembali berbicara.
Ada sesuatu yang dalam, yang kemudian menusukku.
“Aku akan menghilang.”
Segala hal yang yang ada di dalam diriku hanya bersifat sementara dan
pada akhirnya menghilang. Lalu apa yang akan terjadi kalau aku
menghilang? Aku tidak akan pernah merasakan sesuatu yang
bersemayam fana.

Aku tidak perlu lagi melepaskan, menyimpan, dan membendung
semuanya. Kemudian menyaksikan puing-puing itu masih berada di
sekitarku.
Aku menatap ke arah kucing itu. Kamu kecil namun pasti ada rasa iba
yang ditunjukan kepadaku. Dan aku tersenyum untuknya.
“Aku akan menghilang.”
Aku menutup mata. Di sana gelap. Lalu aku membuka mata, seolah olah
ini sudah waktunya untuk bangun. Kali ini terang.

Baiklah. Pada akhirnya, semua bisa diwajarkan, karena kita manusia yang
sama- sama baru soal hidup ini. Pada akhirnya semua itu seperti meteor,
ia melesat cepat, kadang besar kadang kecil, beberapa bahkan
mengatakan kalau ia membawa berkah. Namun pada akhirnya, ia lenyap
di atmosfer, kadang pula ia hancur di langit. Pancarannya berbeda-beda,
tetapi ia tetap indah, terutama di saat-saat terakhirnya.

Gabung Rabu Pagi Club

WhatsApp Community tempat kamu menemukan dirimu sendiri dan berkembang dengan support system dari Rabu Pagi

© 2024 – 2026 | Rabu Pagi Alrights reserved