Sekuntum Kupu-kupu di Pundakmu
Ali Yassin Akillah

“Menurutmu, apa yang kurang dari kupu-kupu?” tanyamu dengan nada hendak berteka teki. Sejujurnya aku tidak mengerti apa yang kamu maksud. Namun, percakapan ini harus terus berlanjut.
Pameran seni dibuka masih setengah jam lagi, dan kita datang terlalu awal. Kamu terlalu bersemangat untuk bisa melihat karya-karya Vincent van Gogh, seniman kegemaranmu. Awalnya aku tidak tahu siapa dia. Namanya seperti orang Belanda. Dalam kepalaku, Belanda adalah penjajah. Kini justru duniaku yang terjajah oleh “tombak” kesenian. Itu semua karena kamu.
Aku mencari jawaban dari pertanyaanmu di lalu lalang kendaraan di hadapan kita. Perjalanan ke sini membuat tubuh kita kering sehingga kita memutuskan menunggu di kafe kecil, tepat di seberang gedung pameran. Langit yang mendung membuat aku kesulitan kapan petang benar-benar datang. Kecuali dengan melirik jam di layar ponsel. Ini akan menjadi momen menunggu yang panjang. Sedangkan aku masih belum mampu menghadapi pertanyaan pertamamu.
“Hmm, kamu suka kupu-kupu?” kataku merasa kehabisan waktu. Setelah mengatakan itu aku membodoh-bodohi diri sendiri dalam hati. Aku tak ingin tahu apa yang kamu pikirkan ketika aku menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan lain. Mungkin kamu menganggap aku orang yang kikuk. Atau bahkan lebih buruk. Sungguh aku malu untuk tahu.
“Suka, warna sayapnya seperti bunga-bunga.” Bicaramu lembut sekali. Bukan lembut yang pelan, tapi lembut yang menawan. Aku lebih setuju kalau suaramu mirip bunga-bunga.
Sebenarnya ada pertanyaan yang lebih penting dari semua itu. Di antara banyak lelaki di sekitarmu, mengapa pilihanmu jatuh padaku. Kita cuma tidak sengaja sama-sama membaca buku Tidak Ada New York Hari Ini di sebuah book cafe waktu itu. Kemudian kamu menghampiriku, membicarakan buku yang kebetulan aku ambil karena paling tipis dan berisi banyak gambar di antara barisan rak kafe itu.
Kalimat-kalimatmu lewat begitu saja. Perhatianku teralihkan oleh keindahan wajahmu. Bukan hanya aku, sebelumnya sekelompok lelaki di depan mejaku juga beberapa kali kulihat melirik-lirik sambil berbisik-bisik tentang dirimu. Aku pun jadi gugup dan gelagapan menanggapi cerita betapa kamu menyukai buku itu.
***
Semenjak pertemuan itu kita saling bertukar pesan. Mengucapkan selamat malam sebelum tidur dan selamat pagi setelah bangun. Kamu sering membuka topik soal puisi, lukisan, dan segala hal yang berbau seni. Aku sibuk mencari sederet nama penulis atau pelukis yang sempat kamu sebutkan di tengah percakapan agar bisa mengimbangi. Kita makin dekat. Beberapa kali kamu mengajak bertemu. Tapi aku amat malu. Kamu perempuan cantik yang didambakan orang-orang, sementara aku tidak lebih dari debu-debu kotor di kaca jendela. Cara berpakaianku tidak modis. Gaya rambutku jauh dari kata necis. Sungkan rasanya berjalan bersisian dengan sosok bak putri kerajaan. Dan aku lebih mirip pelayan, atau mungkin penjaga ternak yang berbau tak sedap.
Kunjungan ke pameran seni adalah pertemuan kedua kita. Kamu memaksa supaya aku menemanimu ke sana. Aku kesulitan untuk mengelak karena sudah sering menolak, pada akhirnya terpaksa mengiyakan. Pikirku segalanya akan berjalan cepat. Datang ke tempat acara, mengambil beberapa foto di sana, lalu pulang ke rumah. Ternyata harapan jauh dari kenyataan. Di sinilah kita sekarang, menantikan sesuatu dimulai. Aku, kamu, dan kecanggungan yang mengusik.
“Memangnya apa yang kurang dari kupu-kupu?” tanyaku untuk mengisi jeda yang cukup lama dari kalimat terakhirmu.
“Kalau kupu-kupu punya kesempatan bicara, ia akan mengatakan sesuatu kepada kita, kepada semua manusia.”
Aku terdiam, menunggu penjelasanmu lebih lanjut. Sambil berpikir ke mana arah pembicaraan ini. Tetap saja pikiranku buntu, aku kesulitan menangkap kata-katamu yang penuh dengan misteri.
Kamu menyesap gelasmu yang permukaan luarnya menyembulkan butiran-butiran air. Beberapa di antaranya meluncur ke bawah ketika tanganmu menggenggam gelas itu. Es batu di dalamnya belum banyak mencair. Kamu melanjutkan bicara.
“Ia akan berkata, ‘Beri aku cermin!’. Kamu tahu kenapa? Karena ia tidak bisa melihat sayapnya sendiri. Ia heran mengapa semua orang mengaguminya, bahkan terobsesi untuk menangkapnya.”
Lalu kamu meraih ponsel yang tergeletak di meja dan menggulir layarnya. Jemarimu tampak buru-buru seperti hendak menunjukkan sesuatu. Benar saja, kamu menyodorkan layar ponsel itu kepadaku, memperlihatkan sebuah lukisan yang lagi-lagi tidak aku mengerti.
“Lihat, ini lukisan Van Gogh. Judulnya Butterflies and Poppies. Tanpa kupu-kupu, lukisan ini tak punya arti. Beberapa tangkai bunga popi tidak cukup seksi untuk menarik minat orang lain. Itulah mengapa judulnya diawali dengan kata butterflies, bukan poppies.”
Saat aku masih berusaha mencerna kata-katamu, selasar gedung pameran sudah ramai. Kamu menyadari itu dan segera merapikan barang bawaanmu. Kita bergegas ke sana. Langkamu tergopoh-gopoh sehingga kamu berada beberapa meter di depanku. Kepalaku masih saja memikirkan penjelasanmu tadi dan itu membuat gerak langkahku lebih lambat.
Aku sedang berusaha mengikuti kecepatan langkahmu ketika tiba-tiba seekor kupu kupu bernuansa hitam dengan corak putih-kuning terbang ke arahmu. Kamu bergeming, memandangi kupu-kupu itu yang entah akan terbang ke mana. Arah terbangnya meliuk-liuk tanpa pola. Sayapnya mengepak dengan tangkas dan tegas.
Sungguh tak disangka, kupu-kupu itu mendarat di pundakmu. Kamu makin membeku karena tidak ingin hewan itu pergi hanya karena gerak kecil tubuhmu. Di pundakmu, sayap hewan itu mengibas pelan sekali, seperti bunga yang merekah lalu menguncup lagi. Terus begitu hingga beberapa kali, sebelum ia terbang kembali, pergi meninggalkanmu.
Aku menghampiri tubuhmu yang masih terpaku di sana. Dan melihat sorot matamu yang nanar ke depan. Aku mengguncang lenganmu, lantas bertanya mengapa kamu diam saja. Kamu lebih mirip orang yang habis dihipnotis. Kamu pun akhirnya mulai bicara dengan bibir sedikit bergetar, mengucapkan kata-kata yang masih saja tidak aku mengerti.
“Aku salah. Kupu-kupu ternyata tidak meminta cermin. Ia justru berbisik, ‘Keindahan adalah kutukan!’”
Kupu-kupu itu kembali, terbang mengitari kita berdua yang sama-sama berdiri mematung di bawah langit mendung.
***
Bionarasi:
Ali Yassin Akillah lahir di Jakarta pada 4 Agustus 2004. Suka menulis di Medium dan Instagram. Puisi-puisinya pernah terbit di Redaksi Nawala Rabu Pagi, masuk antologi Langkah-Langkah Sunyi Ayah (SIP Publishing, 2025), Berdikari Banjir Puisi (Penerbit Lawan Arah, 2026). Dapat disapa di akun Instagram @alii.y__

