Sepotong Korespondensi Seekor Gajah kepada Manusia
Muhammad Raza Pahlawan

“… Johan yang baik, saya pikir kamu terlalu mempersempit makna sebuah penjajahan. Seolah, bila kamu hendak membuka lahan dengan mengusir kelinci yang bermain-main di rumputnya, menebang pohon tempat burung dan tupai berkediaman, memburu ular-ular yang dianggap mengancam, tak bermakna apa-apa. Seakan-akan hanya karena hewan dianggap tak punya akal, maka mereka tak merenungkan apa maknanya untuk jadi yang tertindas.
Sejatinya saya heran, apakah manusia memang bisa benar-benar nyaman dengan kehidupan mereka bila tak ada hewan yang berkeliaran? Kenyataan di dunia ini menunjukkan bahwa justru manusia suka sekali meromantisasi kami. Sebagai salah seorang dari kaum gajah, saya lihat rupa kami dirayakan dalam logo dan simbol, tapi apa artinya itu semua? Semisal semua gajah mati, untuk apa membuat organisasi dengan lambang sebuah gajah?
Manusia itu aneh betul, Johan. Lantaran mereka suka sekali melihat hewan dengan cara pandang manusia. Seolah hewan punya kompas moral dan sanggup untuk mempertimbangkan kejahatan. Namun, bagaimana cara menggambarkan hal yang demikian? Seolah ular, mentang-mentang beracun dan membunuh makhluk berdaging, lantas dituduh berbuat kejahatan.
Atau mari kita tengok yang lain, seperti kaum serigala yang harus menanggung pepatah di atas bahunya karena leluhurnya (entah bagaimana caranya) berkembang menjadi seorang tukang tipu demi menerkam mangsanya? Baik, hewan memang punya kemampuannya masing-masing untuk berburu, tapi “serigala berbulu domba” itu terlampau berpusat pada laku hidup manusia.
Sementara itu, keliaran para manusia yang gemar membawa senapan ke area hutan tak pernah digugat hari nuraninya. Apalagi jika mereka mengawetkan para korban mereka. Oh betapa bangganya melihat gading dipoles dan diawetkan, lalu dipajang di dinding untuk mengenang masa lalu yang agaknya menyedihkan. Semua orang bersorak-sorai, menyebut-nyebut penemuan baru.
Halnya akan berbeda jika benda dari hewan-hewan itu diganti dengan kepala manusia. Pastilah dunia heboh, kecaman akan terdengar dari mana saja. Namun mengapa kehebohan itu absen terkait hewan?
Saya sudah berkali-kali merenungkan tentang ini, Johan. Manusia, memangnya apa jika bukan hewan? Hanya saja nasib mereka lebih mujur dengan menyongsong nasib yang lain.
Tapi gajah tak pernah lupa, Johan.
Tiap-tiap dari kami punya dendam atas apa-apa yang direnggut dari belalai kami. Seperti anak kami yang masih kecil, para orang tua yang punggungnya tak sanggup lagi memberi tumpangan, atau rumah yang terbakar. Entah berapa banyak orang mencoba untuk mengatakan hal yang lain, tapi tak ada yang peduli dengan kami.
Gajah menginjak manusia: kejahatan.
Manusia memburu gajah: meraup profit.
Maka sudah seharusnya manusia mendengarkan kicau burung, decit tikus, lolongan serigala, dan segala hal yang mereka butuhkan untuk masa depan yang lain dari hari ini…”

