Tak Tersampaikan Lewat Lisan
Yasmine Qurrataayyun
Perang bantal sudah menjadi rutinitasku bersama Kakak saat kami kecil. Terkadang
alasannya hanya persoalan sepele. Meski begitu, amarah kami selalu meledak-ledak. Wajar
saja, kalau Ibu sampai kalang kabut menghadapi perseteruan kami.
Tak hanya kamar saja, ruang makan menjadi saksi bisu ketidakakuran kami. Ada saja yang
membuat kami sampai adu mulut di meja makan. Namun, makanan dan tempat duduk yang
posisinya mengarah televisi paling sering menjadi pemicunya. Geram melihat tingkah laku
kami di meja makan, Ibu sampai membagi rata makan malam kami. Sekaligus melarang
kami menonton televisi saat makan.
Selain itu, masih ada lagi. Mungkin kalau di hitung-hitung ada ribuan momen pertengkaran
kami yang tersimpan kepalaku. Di momen-momen itu, Ibu selalu menjadi penengah atau
hakim yang menunjukkan letak kesalahan kami berdua.
Salah satu momen yang masih terngiang-ngiang olehku yakni saat ulang tahun Kakak ke
ke-8 . Seperti setiap tahunnya, kami merayakan hari spesial ini hanya bertiga di rumah.
Meski begitu, Ibu tak melupakan esensi perayaan ulang tahun dengan menyediakan kue
dan kado ulang tahun.
“Fuuuuh…” Kakah berhasil menyapu bersih lilin di hadapannya dengan tiupan panjang.
Seketika api-api kecil itu serentak padam dan meninggalkan jejak asap yang lenyap di
udara.
Aku dan ibu langsung bertepuk tangan dengan kencang. Tak lama Ibu menyodorkan kado
yang selama ini dia simpan di tempat persembunyian rahasianya. Dengan tergesa-gesa,
Kakak langsung merobek kertas kado yang menyelimuti kotak itu.
Aku hanya bisa memperhatikan bahasa tubuh Kakak yang begitu menggebu-gebu sambil
menerka-nerka isi di dalam kadonya. Dalam sekejap dia berhasil membuka kotak kado itu.
“Yeeey! Aku dapat sepatu roda! Terima kasih, Ibu!” serunya sambil lompat-lompat
kegirangan. Saking bersyukurnya, Kakak langsung memeluk Ibu dengan erat.
Sementara itu, aku yang menyaksikan momen bahagiannya ini merasakan muncul gejolak
yang memburu di dada. Sungguh tak nyaman rasanya. Seketika akui tergerak untuk
mengintip isi kotak itu. Aku ingin tahu seperti apa tampilan sepatu roda itu yang membuat
Kakak begitu senang.
Rupanya, sepatu itu memiliki warna dominan baby pink dengan kombinasi warna biru di
empat rodanya. Rasa penasaranku malah membuat gejolak ini semakin tumbuh membesar.
Sampai akhirnya tangisku pecah ruah. “Aku juga ingin sepatu roda seperti itu, Bu!”
rengekku di lantai dengan histeris.
Harapanku ibu akan tergerak membelikanku sepatu roda juga lewat pertunjukan drama
yang aku persembahkan ini. Namun, kenyataannya aku salah. Sorot mata ibu malah
berubah tajam. “Gina!” pekiknya yang spontan membuat tubuhku menegang. Di samping itu,
Kakak tampak cemberut. Sebab, ulahku ini merusak momen bahagiannya. Seketika aku
sadar aku sudah egois dan iri hati kepada Kakakku sendiri.
Aku pun menunduk dan nyaliku menciut. Ibu sudah bertolak pinggang, mungkin mukanya
sudah berubah merah padam. “Sekarang, lihat Ibu!” perintahnya yang melihatku hanya bisa
menatap ke arah ubin.
“Kamu tahu alasan Ibu memberikan kakakmu sepatu roda?” tanyanya dengan tegas. Aku
hanya menggelengkan kepala. Sebab, aku sudah tak berani mengeluarkan suara sedikit
pun.
“Alasannya bukan karena hari ini Kakakmu berulang tahun saja. Tetapi, Ibu melihat dia
pantas mendapatkannya. Sebelum dia berulang tahun, Kakakmu ini sudah membuktikan
kepada Ibu. Dia belajar dengan giat untuk mendapatkan nilai bagus di rapot, dan percaya
diri untukikut serta dalam lomba menggambar.”
Aku pun hanya mendengarkan alasan ibu tanpa membela diri. “Kalau kamu mau sesuatu
berusahalah. Ibu bukan orang tua yang mudah memberikan anaknya dengan cuma-cuma.
Kecuali, kamu dan Kakakmu memang benar-benar berhak mendapatkannya. Kalau kamu
masih ingin sepatu roda seperti Kakakmu, maka buktikan ke Ibu kalau kamu berhak
mendapatkannya.”
Aku pun terdiam dan tak lagi merengek soal sepatu roda. Namun tiga tahun setelahnya, aku
memberanikan ikut pentas seni di sekolah. Benar saja, Ibu membelikanku sepatu roda
sebagai hadiah. Setelah itu, aku dan kakakku sudah tidak pernah ada rasa iri satu sama
lain. Namun, itu tak bisa menghentikan keributan kecil di antara kami.
Bahkan saat remaja, hubungan kami terasa lebih memanas. Kami semakin berani adu mulut
dengan perkataan yang sekejap bisa menyulut amarah. Sampai-sampai aku benci berada di
ruangan yang sama dengan dia. Mendengar nafasnya saja aku sudah kesal. Terkadang dia
selalu bertingkah arogan dan tak sabaran di depanku. Tapi aku akui, terkadang aku juga
melakukan hal yang sama. Masa pubertas membuat kami berdua menjadi semena-mena
dan egois.
Puncaknya, saat Kakak sedang mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Saat itu, aku
dan Ibu baru saja pulang menengok tanteku yang sedang di rawat inap. Baru menginjakan
rumah, kami sudah disambut dengan dentuman kencang. Sontak aku dan ibu langsung
kaget dan menghampiri sumber suara tersebut.
Aku pun sampai di depan kamar Kakakku. Dengan penuh hati-hati, aku meraih gagang pintu
dan membukanya secara perlahan-lahan. Di situ aku melihat wajah Kakak yang merah
padam. Nafasnya begitu memburu sambil menatap jaket kesayangannya yang sedang dia
pegangi.
“ADEK HABIS PAKAI JAKET KAKAK, KAN?!” tanya Kakak dengan nada tinggi begitu sadar
dengan kehadiranku.
“APA SIH?! JAKET APA?” balasku yang tak terima dicurigai tak berdasar seperti itu.
Amarahku kembali tersulut. Jangan mentang-mentang dia lebih tua dariku, dia bisa bicara
seenaknya. Ucapku dalam hati.
Ibu yang mendengar pekikan suara kami berdua langsung menengahi kami. “Kenapa sih
kalian selalu ribut-ribut seperti ini. Ibu malu melihatnya. Kalian sudah besar tapi tingkahnya
masih saja seperti anak kecil!”
“Lihat ini, Bu! Jaket aku ada noda seperti ini, susah dibersihkannya. Terakhir kali aku pakai,
tidak ada noda seperti ini. Pasti ini pelakunya Adek!.”
“Bukan aku, Kak!”
“Memang dulu aku sering pinjam baju Kakak tanpa izin. Sekarang aku sudah tidak pernah
lagi, sejak kakak tegur aku. Tapi bukan berarti sekarang kejadian lagi, aku juga pelakunya.”
terangku yang menangis sambil frustasi saking kesalnya dengan tuduhannya.
“Kenapa kamu yakin adek yang kotori?” tanya Ibu yang berusaha mendengarkan alasan
Kakak menuduhku.
“Biasanya memang Adek yang gak bisa jaga barang.”
“Kamu yakin? Kamu punya bukti Adek pakai jaket kamu?” tanya ibu yang mampu membuat
Kakak terdiam dan tak berkutik.
“Kamu gak bisa jawabkan. Ibu bukan belain Adek. Sebelumnya, kamu ini sudah Ibu ingatkan
beberapa kali untuk segera memasukan baju ke lemari. Kamu malah membiarkan baju
menumpuk begitu saja. Setiap ibu ingatkan selalu bilang ‘nanti’. Ibu tahu kamu sedang sibuk
belajar. Tapi, jangan tunda-tunda hal sesederhana itu. Paling-paling kurang dari 10 menit,
kamu sudah bisa selesai memasukan baju ke lemari. Sekarang yang sebenarnya tidak jaga
barang siapa. Kamu sendiri yang teledor. ”
“Sekarang, kalian saling memaafkan. Jadikan hal ini sebagai pelajaran. Setiap meminjam
barang orang lain harus izin, kalau tidak akan jadi seperti ini. Begitu barangnya rusak, kamu
jadi kena tuduh. Lalu, ketika suatu hal buruk terjadi ke kamu, sebaiknya intropeksi diri
sendiri. Barangkali itu terjadi karena kesalahan kamu sendiri.”
“Terakhir, ingat kalian ini saudara. Harus akur. Janganlah biasakan meributkan hal-hal kecil
seperti ini. Suatu saat nanti kalian pasti saling membutuhkan.”
Walaupun tak menemukan siapa yang menyebabkan noda di jaket Kakak, kami diminta oleh
Ibu untuk saling memaafkan. Setelah itu, kami dipaksa oleh Ibu untuk tidur se-kasur. Jujur
saja aku enggan melakukannya. Namun, dibanding kupingku semakin panas dengan
semburan Ibu yang tiada hentinya. Akhirnya, kami berdua menurut saja.
Teguran Ibu saa itu bisa dibilang berhasil membuat kami berhenti bertengkar. Aku menjadi
lebih berhati-hati saat bicara dengan Kakak. Khawatir aku kembali menyulut amarahnya.
Tampaknya dia juga demikian. Sampai datang waktunya, dia harus tinggal di luar kota untuk
kuliah. Meninggalkan aku dan Ibu. Alhasil, rumah ini sudah tidak sebising seperti sedia kala.
Perbedaan kota membuat Ibu rajin menghubungi Kakak. Entah lewat pesan atau telepon.
Pasti ada hal menarik yang Ibu dengar dari cerita-cerita Kakak selama di sana. Sementara
aku malas untuk mendengarkan cerita-cerita itu langsung dari mulutnya. Aku hanya tahu
kabarnya lewat media sosial dan cerita dari Ibu. Mungkin dia juga melakukan hal yang
sama. Lagipula kami sama-sama tak terbiasa saling bercerita. Ditambah, kami juga punya
kesibukan masing-masing.
Sampai tak terasa empat tahun sudah berlalu, Kakak berhasil mendapatkan gelar sarjana
dan pulang ke rumah. Kehadirannya di rumah, membuatku sedikit kikuk di dekatnya.
Walaupun, kami sempat bertemu di momen lebaran atau libur semester.
Dilihat-lihat sosoknya sudah tak sedingin dan tak keras kepala seperti dulu. Aku sampai
heran mengapa dia bisa sampai berada di titik ini. Hal itu malah membuatku semakin
canggung dengannya.
Perubahannya tak sampai di situ. Begitu dia mendapatkan gaji pertama di perusahaan
multinasional. Dia jadi suka mentraktir ibu dan aku di restoran. Terkadang sepulang kerja
maupun sehabis jalan bersama teman-temannya, dia tak lupa meninggalkan makanan di
atas meja untuk aku dan ibu. Padahal dulu dia sangat anti berbagi makanan denganku.
Tiba-tiba aku merinding ketika teringat ucapan orang lain soal perubahan drastis yang
merupakan tanda umur orang itu tidak panjang. Buru-buru aku menepis ucapan itu.
Walaupun aku sering kali kesal dengan Kakak, bukan berarti aku tak masalah ditinggalnya
ke alam lain. Alhasil, perubahan misterius ini membuatku pusing sendiri. Aku seperti hilang
akal.
Dua bulan lalu, Ibu sempat liburan bersama teman SMA-nya ke luar negeri. Seumur hidup,
ini menjadi momen pertama aku dan Kakak ditinggal oleh Ibu. Baru beberapa jam ibu pergi,
tiba-tiba saja aku merasakan pusing. Aku pun segera rebahan dan tidur di kamar, harapanya
aku bisa merasa lebih baik. Sayangnya, begitu aku bangun, aku malah merasakan mual.
Tak enak membangunkan Kakak yang tadi malam pulang larut, aku putuskan menahan rasa
sakit di kamar. Dua jam kemudian, tiba-tiba dia masuk ke kamarku. “Dek, nanti siang kamu
mau makan apa?” tanyanya kepadaku.
Dia pun kaget yang melihatku seketika meraih kantung plastik dengan tergesa-gesa. “Dek,
kamu kenapa? Mual?” Aku pun mengeleng. “Kita ke dokter aja yuk.” ucapnya. Untuk
pertama kalinya dia mengantarku ke dokter.
Sepulang dari klinik, aku langsung disuruhnya minum obat dan istirahat di tempat tidur.
Sementara dia, menghilang ke arah dapur. Setengah jam kemudian, dia membawakan
semangkuk bubur yang dia buat sendiri. “Makan dulu ya, Dek.”
Aku pun mengangguk. Dia pun menyendok bubur ke dalam mulutku dengan hati-hati.
Sampai, bubur tak bersisa. Setelah itu, aku disuruh untuk beristirahat.
Bangun-bangun hari sudah gelap. Aku menyelinap keluar kamar setelah mendengar
suara-suara yang berasal dari ruang televisi. Begitu sampai di sana, aku melihat Kakak
sedang asyik memutarkan serial barat yang saat ini juga sedang aku tonton.
Sadar dengan kehadiranku, dia langsung bertanya “Gimana kamu sudah mendingan?” Aku
pun mengangguk dan duduk di sofa. Sementara, dia mengambil bubur yang sepertinya baru
saja dia hangatkan. Tak lama dia duduk di sampingku dan menyerahkan mangkok yang
sudah dia isi dengan bubur.
“Makasih ya Kak sudah rawat aku.” ucapku dengan spontan. Dia pun tersenyum
mendengarnya. Sambil melahap bubur itu, aku menatap layar televisi. Begitu juga, dengan
Kakak yang kini tinggal beberapa suap lagi piringnya akan kosong lompong.
Seketika aku tertawa terbahak-bahak. Dia pun melirik ke arahku. “Kamu kenapa?” tanyanya
dengan menatapku bingung. “Engga, aku jadi ingat Ibu dulu selalu melarang kita makan
sambil nonton. Gara-gara selalu rebutan untuk bisa duduk menghadap televisi. Eh,
sekarang kita bisa duduk sampingan kayak gini,”
“Iya ya, lucu juga kalau dipikir-pikir. Kenapa dulu kita bisa segitunya ya.”
Semenjak itu, hubungan Kakak dan aku pelan-pelan bertransformasi. Aku tak perlu
memusingkan apa penyebab Kakak menjadi seperti ini. Mungkin saja ini karena ucapan ibu
yang menegur kami saat itu. Kemungkinan dia juga ingin memperbaiki hubungan kami yang
selama ini selalu renggang.
Apapun itu, akibatnya kami sekarang mulai berani bicara hati ke hati. Nostalgia semasa kecil
menjadi pemantik dalam obrolan panjang di malam itu. Lambat laun kami leluasa dalam
mengungkapkan lapisan terdalam yang selama ini telah kami pendam.
Memang kami tak pandai dalam mengatakan kata-kata manis, atau memberikan pelukan
hangat selayaknya dua saudara perempuan pada umumnya. Namun, melihat beberapa
momen kebelakang ini, aku dapat merasakan kasih sayangnya. Hanya saja dia punya
caranya sendiri dalam menyampaikannya kepadaku.


