Kuanggap Makhluk Itu Jahat, Karena Dia Meninggalkanku Sendirian
Dreamfairy012

Dengan telingaku yang tajam, aku mendengar suara pintu putih itu terbuka.
Kriek….
Suaranya yang berderit pelan membuatku bangkit dari ambang jendela. Oh, sudah waktunya makan.
Sesuai dugaanku, perempuan tua itu—yang tidak diketahui siapa namanya karena tidak pernah memperkenalkan dirinya—datang membawa toples hijau penuh dengan makanan kering rasa tuna. Kesukaanku.
Dia memanggil namaku. Setidaknya itulah yang dia yakini sebagai namaku. Aku pun mendekat, bukan karena Manis benar-benar namaku, tapi karena aku sudah hapal setiap gerak-geriknya ketika hendak memberiku makan.
Aku menggunakan gigi taringku yang tajam untuk menghancurkan makanan kering itu. Perempuan tua yang berjongkok di sampingku tersenyum, lalu mengelus pelan tubuhku.
“Makan yang banyak,” ucapnya sebelum akhirnya berlalu pergi, duduk di sebuah kursi. Menatapi anak laki-laki itu lagi.
Seusai makan, aku berdiri di sampingnya. Bukan karena aku ingin menemaninya, tetapi karena aku mengharapkan makanan tambahan.
Dia ternyata menyadari kehadiranku. Bukannya memberikan makanan tambahan, wanita tua itu dengan kulit tangannya yang kasar sekaligus keriput mengangkat tubuhku, menaruhku tepat di atas tubuh anak laki-laki yang selalu berbaring ini.
Aku sebenarnya tidak suka. Tubuhnya terlalu keras dan dingin, tarikan nafasnya juga terasa sangat pelan, membuatku merasa tidak nyaman.
Aku turun di detik pertama kala dia menaruhku di atas tubuh si anak laki-laki. Aku mengira dia akan marah, namun ternyata tidak. Dia hanya tersenyum tipis, namun dengan mata yang berkaca-kaca.
Seperti hari-hari sebelumnya, dia akan pergi setelah berdiam cukup lama menciumi tangan si anak laki-laki. Lalu seperti biasanya juga, dia akan selalu berbicara kepadaku sebelum melewati pintu putih itu lagi. Sebelum kembali mengurungku bersama si anak laki-laki.
“Manis, kucing yang baik. Jagain Aldo, ya.”
Ya, Aldo. Nama si anak laki-laki. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli. Toh, pasti akan kulupakan lagi.
Momen yang paling kuingat tentang anak laki-laki itu—siapa namanya tadi? Ya, Aldo—adalah ketika dia pertama kali menemukanku.
Aldo bisa dibilang menyelamatkanku. Saat itu, aku hanyalah seekor anak kucing hitam kesepian dengan tubuh kurus dan dekil. Kutu-kutu merayap lincah di seluruh tubuhku, membuat rasa gatal yang terus menyiksaku.
Ditendang dan dipukul oleh makhluk berkaki dua adalah makanan sehari-hariku. Aku bertahan hidup dengan cara mengambil makanan sisa dari makhluk yang bisa berjalan dengan kedua kakinya, dan terkadang, aku mencurinya.
Aldo datang dengan sembrono. Dia mengangkat tubuhku, membawaku ke dalam pelukannya tanpa bertanya apakah aku mau ikut dengannya.
Sepanjang jalan, aku terus memberontak. Aku percaya Aldo tak berbeda dari makhluk besar berkaki dua lainnya, dia pasti ingin melakukan sesuatu yang tidak baik untukku.
Benar saja dugaanku, dia memandikanku. Apakah dia tidak tahu bahwa seekor kucing tidak suka mandi?
Kabar baiknya, setelah memandikanku, dia memberiku makan. Dia juga membiarkanku tinggal di tempat yang hangat sebelum akhirnya kembali melakukan hal jahat kepadaku keesokan harinya.
Belum satu hari aku tinggal bersamanya, dia sudah membawaku ke tempat yang sangat asing. Tempat bernuansa putih dengan beberapa makhluk berkaki dua yang menutupi mulut dan tubuh mereka dengan warna putih pula. Mereka dengan tidak sopan meraba-raba tubuhku. Menyilaukan mataku dan membuka paksa mulutku.
Aku sangat ketakutan, beberapa kali aku mencakar mereka dengan kuku-kukuku yang panjang, tapi kedua makhluk itu terlalu tangguh. Mereka tak juga melepaskanku.
Aku dimandikan lagi. Kali ini bulu-buluku dikeringkan dengan angin yang hangat, membuatku bisa merasa sedikit lebih tenang dan akhirnya merasa mengantuk.
Kala aku membuka kembali mataku, aku telah kembali ke rumah itu. Rumah yang mereka bilang sebagai rumahku dan Aldo, serta wanita tua itu menyebut dirinya sebagai majikanku.
Aku mengira semuanya akan baik-baik saja. Setidaknya perutku selalu terisi penuh dan aku tidak lagi merasa kesepian. Kasih sayang yang mereka berikan melebihi apa pun yang pernah aku harapkan. Minusnya, mereka masih sering membawaku ke tempat makhluk berkaki dua serba putih itu dan menyuntik paksa diriku dengan hal-hal yang mereka sebut sebagai ‘untuk kesehatanku’.
Hari sial tidak ada di kalender, begitulah menurut pepatah mereka.
Ketika itu aku menunggu Aldo pulang ke rumah. Aku selalu memilih jendela karena dari sanalah aku dapat melihat dengan jelas pemandangan di luar dan mendengar dengan jelas pula suara langkah kakinya.
Lama kutunggu, Aldo tidak juga tiba. Malah beberapa makhluk berkaki dua yang tidak kukenal mengetuk pintu rumah. Mereka membicarakan sesuatu dengan si wanita tua yang membuat raut wajahnya berubah. Dia lalu pergi dengan tergesa-gesa. Mengurungku di dalam rumah tanpa terlebih dahulu memberiku makan.
Saat kembali, hari telah berganti malam. Si wanita tua berjalan dengan langkah gontai, lalu terjatuh tepat di depanku yang sedang menunggu di atas sofa.
Aku menggosokkan tubuh kepadanya, berharap dia mengerti kodeku yang sedang kelaparan. Bukannya memberiku makan, wanita tua itu malah menarik tubuhku ke dekapannya. Dia menangis. Awalnya pelan, lalu berubah kuat. Beberapa tetangga sekitar ikut masuk ke dalam rumah. Lalu pelukan itu berganti kepada mereka.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas saat ini, aku ingin sekali melihat Aldo.
Aku baru bertemu lagi dengan Aldo setelah wanita tua itu membawaku ke tempat yang kutinggali sekarang. Dia membawaku ke dalam mobilnya dan seperti biasanya, aku akan berdiri di samping jendela. Menatap jalanan yang bergerak dengan penasaran.
Wanita tua itu membawaku ke sebuah tempat asing dengan banyak makhluk berkaki dua berlalu-lalang. Tidak ada rerumputan, tidak ada sofa yang empuk, dan tidak ada kucing sepertiku yang bisa diajak bertengkar. Sepertinya tempat ini akan membosankan.
Aku dan wanita tua itu melewati lorong yang panjang. Beberapa kali kami berpapasan dengan makhluk berkaki dua serba putih. Sebelum akhirnya kami sampai di depan sebuah pintu—yang lagi-lagi putih—dan si wanita tua menarik napas panjang sebelum memberanikan diri membukanya.
Di sana aku kembali melihat Aldo. Dia sedang terbaring nyaman di atas kasur dengan beberapa alat memenuhi tubuhnya. Suara mesin yang terus berdetak kencang membuatku ketakutan. Aku hampir saja keluar dari ruangan ini jika saja pintu putih itu tidak terlalu berat untuk kubuka.
Mau berapa kali pun aku menggosokkan tubuhku kepada Aldo, dia tak kunjung bangun. Biasanya dia akan mengelus pelan tubuhku sambil tersenyum. Senyuman manis yang selalu menghilangkan perasaanku yang ingin kabur.
Sejak hari itu aku tinggal di ruangan serba putih bersama Aldo, dan si wanita tua selalu datang menjenguk dengan wajah penuh deraian air mata. Dia selalu mengatakan kepadaku untuk mendoakan Aldo. Aku tidak begitu mengerti, namun aku ikut merasa sedih.
Makhluk berkaki dua akan silih berganti memasuki ruangan ini. Terkadang jumlahnya terlalu banyak hingga memaksaku bersembunyi di bawah tempat tidur Aldo. Lama-kelamaan aku menjadi terbiasa dan menemukan tempat favoritku di ruangan ini.
Ya, jendela. Tempat di mana aku bisa mengawasi Aldo sekaligus mengamati taman di bawah dari matahari terbit hingga terbenam. Kapan-kapan aku ingin bermain dengan Aldo di taman itu. Aku sudah tidak sabar ingin merasakan rumputnya yang selalu dipenuhi embun.
✦ ✦ ✦
Entah sudah berapa kali matahari berganti posisi dengan bulan. Aku yang mulai jenuh sering membuat keributan. Setiap kali aku berbuat keributan, wanita tua itu akan datang dengan wajah yang memerah. Alasannya selalu saja sama: karena aku memainkan tali panjang yang menggantung di atas tangan Aldo atau karena aku mengacak-acak selimutnya.
Hari ini dia kembali datang. Tak seperti biasanya, dia tidak langsung memberiku makan atau mengoceh padaku sebentar. Dia malah langsung berlari menuju Aldo dan memeluknya dengan erat. Beberapa makhluk berkaki dua yang sering memasuki ruangan melepaskan satu per satu alat-alat yang mengikat Aldo, lalu berdiri di samping si wanita tua dengan salah satunya mengelus punggung si wanita tua yang terus meraung bagaikan orang kesakitan.
Aku sangat ketakutan. Apakah orang-orang itu memukuli si wanita tua hingga dia menangis sejadi-jadinya? Bukankah seharusnya wanita tua itu senang dengan Aldo yang sudah dilepaskan ikatannya?
Pintu putih itu terbuka sedikit. Mungkin ini sudah waktunya aku keluar bersama Aldo dan si wanita tua. Tempat ini tidak aman lagi. Aku mengeong pelan, berharap si wanita tua berhenti menangis dan Aldo bangun dari tidurnya yang panjang.
Namun tak ada yang menghiraukanku. Tangisan si wanita tua makin membesar dan tubuh Aldo perlahan ditutupi kain putih yang membuatku tidak bisa melihat kembali sosoknya.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku merasakan kembali perasaan yang sama ketika melihat ibuku berhenti mengeluarkan susu dan tak bergerak lagi, membuatku harus berkelana mencari makanan sendiri.
Kali ini—tanpa perlu diangkat—aku naik ke tubuh Aldo. Aku mencoba mengais kain putih yang menutupi wajahnya, akan tetapi tidak berhasil. Aku malah diturunkan kembali oleh makhluk berkaki dua serba putih yang mulai kubenci.
Aku benar-benar ketakutan sekarang. Aku membutuhkan pelukan Aldo atau si wanita tua saat ini juga. Aku terus mengeong dan mengeong, menggosokkan tubuhku pada kaki si wanita tua, memintanya dengan sangat untuk kembali mengangkat dan membiarkanku menaiki tubuh Aldo.
Usahaku gagal. Setelah beberapa lama—mungkin hampir satu jam—tangisan wanita tua itu akhirnya mereda. Kini digantikan oleh tatapan kosong dan racauan tak jelas.
Aku akhirnya bisa duduk di atas perut Aldo. Perutnya berhenti naik turun dan suhu tubuhnya yang dingin tidak lagi terasa karena terhalang kain putih. Aku merasa nyaman, namun entah mengapa hatiku tidak merasa demikian.
Aku memberontak kala beberapa makhluk berkaki dua memaksaku meninggalkan tubuh Aldo. Aku terus mencakar dan menggigit kulit mereka, mencoba mempertahankan posisiku di atas tubuh Aldo.
Entah mengapa aku merasa jika saja aku turun dari tubuh Aldo, aku tidak akan bisa menaiki tubuhnya lagi selamanya.
Si wanita tua yang sebelumnya duduk tertunduk, bangkit dari kursi. Dia menggendongku. Aku yang masih memberontak dan tidak mengenalinya, tak sengaja melukai lengannya. Darah segar mengalir keluar, namun dia tidak marah. Dia malah menuruti keinginanku. Dia memelukku. Kali ini sangat erat dan tubuhku terasa basah kala bersentuhan dengan kelopak matanya.
Aldo dibawa pergi bersama kasurnya dan si wanita tua tidak berkata apa-apa. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kala pintu putih itu tertutup, tubuh Aldo sudah tidak lagi terlihat.
Dia pergi. Dan hari ini adalah hari terakhir di mana aku dan si wanita tua melihatnya. Lalu hari-hari berikutnya dijalani tanpa Aldo yang tak kunjung pulang. Si wanita tua juga tidak lagi menunjukkan senyuman yang sama. Walaupun sudah kembali ke rumah, aku tetap merasa kesepian.
Aldo, aku akan mengingat namanya. Dia adalah makhluk berkaki dua yang jahat. Dia tidak kunjung pulang untuk menemukanku atau sekedar mengelus kembali tubuhku. Dia meninggalkanku. Sendirian, bersama si wanita tua yang terus menangis menatapi fotonya.

