, ,

Sepatu di Bulan Juni by Mafazal

 

Sepatu di Bulan Juni

 

Mafazal

 

 

Untuk setiap ayah yang mencintai dengan cara yang tidak selalu

pandai diucapkan.

Terkadang ada kenangan yang tidak dimaksudkan

untuk tinggal di kepala. Ia menetap di dalam jiwa yang

tak akan pernah pudar meskipun tua akan menyapa.

Kenangan itu terjadi pada suatu pagi di bulan juni,

ketika matahari baru saja naik ke singgasananya dan aku

baru mengenakan pakaian bersiap-siap untuk berangkat.

 

Hari itu seharusnya menjadi hari yang aku tunggu-

tunggu. Sebuah janji terbaik sepanjang hidup ku. Saat

 

libur tiba, ayah akan membelikan aku sepasang sepatu

baru. Janji kecil, tetapi cukup untuk membuat seorang

anak menghitung hari dengan penuh kegirangan.

Aku sudah siap untuk melangkahkan kaki keluar. Saat

itu juga janji dibatalkan. Ibu menghampiriku dengan

suara yang begitu pelan, seakan rapuh sudah

mengikutinya semenjak subuh datang.

“Ayah belum punya uang sekarang. Beli sepatu nya

nanti ajaa, ya.” kalimat itu menggantung di udara. Aku

tidak langsung menjawab. Kecewa, pasti. Rasanya

 

seperti melihat pintu yang sudah terbuka, lalu perlahan

ditutup kembali tepat di depan mata.

Anehnya, bahkan di usia yang masih terlalu muda,

aku merasa mengerti. Barangkali, kedewasaan tidak

selalu datang bersama pertambahan umur. Kadang ia

hadir sebagai keterpaksaan lalu menjadi kebiasaan.

Aku mengangguk pelan. Setelah itu langkah ku

tergerak ke teras rumah dengan satu niat sederhana aku

tidak jadi ingin sepatu itu.”

Namun langkahku terhenti di ambang pintu sebelum

sempat menginjak teras. Dari balik pintu, aku mendengar

suara ayah yang sedang menelepon seseorang. Beliau

meminjam uang kepada seorang teman yang aku juga

kenal karena mendengar namanya disebutkan.

Dunia mendadak sunyi. Angin masih berembus. Panas

nya matahari tak lagi kuhiraukan. Yang tersisa hanya

suara ayhaku yang terdengar begituu hati-hati di ujung

telepon.

Hari itu aku belajar sesuatu yang tidak pernah

diajarkan sekolah ternyata seorang ayah bisa

menyembunyikan kesulitannya hanya agar anaknya

 

tetap percaya bahwa dunia baik-baik saja. biarlah dia

yang merasa pahitnya hidup, anaknya jangan.

Aku ingin berkata, “Sudah, tidak usah beli sepatu.”

Tapi keberanian tidak pernah kunjung datang. Aku hanya

berdiri memantung, menelan rasa bersalah yang bahkan

belum kemengerti namanya.

Beliau menoleh kepadaku, lalu tersenyum saat

menyadari kehadiran ku. Senyuman yang kini kupahami

betapa berat harganya.

“Udah siap? Ayok beli sepatu.”

“Nggak usah beli sepatu. Sepatu lama masih bagus

kok, Yah.” Akhirnya kalimat itu lolos dari kedua bibir

ku.

“Ngak apa-apa. Ayo beli sepatu baru aja. Ayah ada

uangnya, kok. Ngak usah khawatir.”

Semenjak hari itu aku sadar, Ayah adalah seorang

pembohong yang hebat dan aku membiarkan diriku

mempercayainnya.

Delapan tahun berlalu, sepatu itu entah sudah ke

mana. Mungkin solnya sudah aus, talinya sudah putus

atau mungkin saja sudah berakhir di dalam tong sampah.

Hanya kenangannya yang tidak pernah berakhir.

 

Selama delapan tahun, ada dua kata yang terus

kutahan di tenggorokan. Terlalu malu untuk diucapkan.

Terima kasih atas sepatu yang begitu aku impikan.

Terima kasih atas harga diri yang rela disisihkan demi

memenuhi sebuah janji. Terima kasih karena waktu itu

ayah rela memikul rasa malu sendirian sementara aku

pulang dengan sepasang sepatu dan hati yang gembira.

Semakin dewasa, kenangan itu semakin menyakitkan.

Bukan karena aku tidak mengerti, justru karena akhirnya

aku mengerti. Aku mulai takut pada satu hal bagaimana

jika waktu lebih cepat daripada keberanianku untuk

mengucapkan terima kasih.

Hari itu juga, aku memberanikan diri. Aku ingin

mendengar suaranya, tetapi begitu suara itu menjawab

disebarang. Seluruh ingatan tentang pagi di bulan juni

kembali mengetuk. Dengan napas yang berkali-kali

tersangkut dan suara yang patah-patah di setiap kalimat,

aku menceritakan kembali. Tentang ibu yang memintaku

memahami keadaan. Tentang teras rumah. Tentang

telepon yang diam-diam kudengar.

Lalu, tanpa sempat kutahan lagi, dua kata itu akhirnya

jatuh dengan suara yang patah-patah. “Makasih, Ayah.

 

Diseberang sana, tidak ada jawaban. Hanya diam dan

hening. Diam yang lebih fasih daripada bahasa apa pun.

Ketika beliau akhirnya berbicara, suaranya ikut pecah.

Ada jeda yang berusaha disembunyikan, ada napas yang

terdengar berat. Aku tahu air mata sedang bekerja di

sana.

Dan di balik jarak 401 kilometer itu, aku menyadari

sesuatu. Ternyata ucapan terima kasih tidak pernah

terlambat untuk sebuah cinta. Ia hanya membutuhkan

keberanian yang kadang datang delapan tahun kemudian.

 

👟

 

Bionarasi: Hai, kenalin. Aku Mawaddah Fakhrizal, tapi

orang-orang lebih sering memanggilku Mafazal. Aku

lahir di Aceh, pada suatu bulan Mei. Sekarang aku

sedang menjalani hari-hari sebagai mahasiswi tingkat

akhir yang mulai akrab dengan skripsi. Di sela semua

itu, membaca sudah menjadi therapy untuk

mempertahankan kewarasan in this economy, dan

menulis adalah cara paling tenang untuk menyimpan

cerita. Love you guys.


Tulisan lainnya