Perempuan yang Berdiri Di Ambang Dua Jalan by Yasmine Qurrataayyun

Perempuan yang Berdiri Di Ambang Dua Jalan

Yasmine Qurrataayyun

 

 

Peluh telah menguasai seluruh tubuhku, usai tak kuasa berlalu lalang di rumah sakit. Aku harap ini menjadi terakhir kali aku berada di sini. Namun aku malah tertampar realita, sebab Ayah yang kami kira hanya dirawat inap, malah harus segera mendapatkan tindakan di ruang operasi. 

Kulitnya kini menguning. Setiap malam tak bisa beristirahat tenang. Setiap jam dia merintih kesakitan. Aku tak pernah melihat kondisinya separah ini. Apa yang bisa aku lakukan agar rasa sakit yang diderita Ayah bisa segera mereda? 

Tapi, aku sadar. Aku tak bisa melakukan apapun, selain menemaninya di rumah sakit. Bahkan, untuk membeli makan siang di rumah sakit saja aku masih memakai uangnya. Apalagi membayar biaya rumah sakit, pasti aku akan terseok-seok. Ujung-ujungnya, Ayah lagi yang menanggung bebannya sendiri. 

Seandainya aku bisa berdiri di kakiku sendiri, tubuh Ayah yang sudah menua tak mungkin memikul beban seberat ini. Tapi Ayah, tetaplah Ayah. Apapun yang sedang dia derita, dia tak mau aku berubah sendu. Apapun keadaannya, dia tetap mengutamakan diriku, anak semata wayangnya. 

Baru saja aku menduduki kursi ruang tunggu, nafasku mulai tersengal-sengal lagi, usai teringat ucapan Ayah semalam. “Doakan Ayah besok ya, Tara. Biar operasi besok lancar dan Ayah bisa segera pulang,” pinta Ayah dengan suara paraunya. 

Aku hanya mengangguk. Lalu, segera melayangkan kecupan di pipinya. Berharap itu bisa memberikan kekuatan untuk dirinya dalam melawan penyakit. Tapi sesungguhnya, aku tak pandai dalam berdoa. Sebab, aku bukan hamba yang taat. Namun, baru kali ini Ayah meminta sesuatu kepadaku. Maka dari itu, aku akan segera mengabulkannya. Berkatnya, aku kembali berdialog dengan Sang Pencipta. 

Sekitar 20 menit aku tak putus memanjatkan doa di ruang tunggu. Sekaligus, aku meminta ampunan atas segala dosa dan kelalaian dalam menjalankan perintah-Nya. Sebab, selama ini aku sudah berperilaku sebagai manusia sombong. 

Kini, lihat aku! Kakiku sudah kembali menampakkan tanah. Aku sadar dunia ini terlalu besar untukku. Aku hanyalah manusia yang memiliki kemampuan terbatas. Kemarin, aku bisa berbahagia dengan kasih sayang yang diberikan penuh oleh kedua orang tuaku. Namun kini, aku seperti daun yang tertiup mengikuti hembusan angin. Tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan.

Harus aku akui, walau aku sudah mengucapkan segala doa yang aku ketahui. Namun, ada sekelebat keraguan tertanam dalam pikiranku. Bagaimana cara aku menjauhinya? Kalau begini terus, awan gelap akan terus menggerogoti pikiranku. 

Aku harus menyingkirkannya untuk sementara waktu. Maka dari itu, telinga aku fokuskan ke segala suara yang terdengar jelas di ruang tunggu ini. Seperti, ketukan langkah kaki para perawat saat mendorong kursi roda pasien, suara hentakan bersin yang sumbernya dari orang di depanku, sampai suara gesekan pintu toilet. 

Kemudian, giliran mataku yang aku alihkan ke berbagai objek di sekitarku. Seperti, aku teralih ke seorang perempuan yang membawa tempat minum estetik berukuran jumbo. Lalu, berpindah ke seorang pria yang sibuk bekerja di depan laptop, bahkan di saat genting seperti ini. Kemudian, aku menatap juga seorang perempuan paruh baya, yang tak lepas dari buku doanya untuk keselamatan keluarganya yang masih di dalam ruang operasi. 

Seketika aku berhasil mensabotase pikiran gelapku. Lega rasanya, aku bisa lebih tenang sekarang. Aku pun menyandarkan kepala ke tembok. Menikmati keheningan di kepalaku ini. Sejenak, aku ingin mengistirahatkan mata yang beberapa hari ini sulit kupejamkan di malam hari. 

Namun, sebuah tangan menyentuh lenganku dengan lembut. Aku pun kembali menegakkan tubuhku. Siapakah sosok yang sudah menunda waktu istirahatku ini? 

Rupanya, itu adalah Ibu yang baru saja kembali dari sembahyang. Dia kembali dengan sebotol air mineral untukku. Akan tetapi, saat ini aku sedang tak membutuhkannya. Karena tu, aku diamkan dia tergeletak di antara celah tempat dudukku dengan Ibu. 

“Keluarga Ananda Danisha?!” teriak seorang suster dengan lantang sambil melihat ke segala sudut ruang tunggu. Tak lama, pria yang sedari tadi berkuta di depan laptopnya, langsung menghampiri suster. Selang beberapa menit, kami bisa melihat Danisha, gadis cilik yang masih terkulai lemas, akibat pengaruh anestesi. 

Aku pun kembali menyandarkan kepala. Kemudian, meneguk sedikit air mineral itu. Aku melakukannya bukan untuk menghilangkan dahaga, melainkan untuk menjernihkan pikiranku yang sewaktu-waktu bisa kembali didatangi rasa gelisah. 

“Aduh, gusti, Ayah kamu habis ini makannya harus bagaimana ya?’” keluh Ibu kepadaku, usai setengah jam kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. 

Ibu tak berlebihan, karena sudah mengkhawatirkan makanan apa yang bisa dia sediakan untuk Ayah nanti. Sebab, Ayah setelah ini sudah tak memiliki kantung empudu lagi. Maka dari itu, Ayah harus berpisah dengan berbagai jenis makanan yang tinggi lemak dan tinggi kolesterol. 

“Sudahlah, Bu, nanti saja kita pikirkan soal itu,” ucapku yang berusaha menghindari topik pembicaraannya di saat seperti ini. Kekhawatirannya soal Ayah, secara tidak langsung akan membuat kepalaku pusing lagi.

Kecewa dengan tanggapanku, dia pun mengalihkan perhatiannya ke handphone. Mengetikkan balasan untuk pesan-pesan dari banyak orang yang telah menanyakan kondisi Ayah. Dia pindah dari satu kontak ke kontak lainnya. Entah, mereka benar-benar peduli atau tidak. Bisa juga mereka hanya mengirimkan pesan itu untuk formalitas, setelah mendengar penyakit yang diderita Ayah. Buktinya, sampai sekarang tak ada satu pun yang datang menjenguk Ayah, maupun menemui aku dan Ibu. 

Melihat Ibu yang semangat membalas pesan-pesan itu, spontan aku ikut mengecek notifikasiku. Akan tetapi, tak ada satu pun pesan yang muncul. Bodoh. Sejak aku menghilang dari setahun lalu, mana ada yang tertarik dengan keseharianku. Lagi pula, memangnya mereka cenanyang. Dari mana mereka tahu kalau saat ini keluargaku sedang bersedih. Maka dari itu, aku simpan kembali handphone-ku ke saku celana. 

Jari Ibu kembali menyentuhku, kali ini giliran bahuku. Lalu, aku pun menoleh ke arahnya. “Tara, lihat foto ini!” perintah ibu sambil menyerahkan handphone ke tanganku. Aku tak tahu ada hal menarik apa lagi di dalam handphone-nya. 

Begitu handphone sudah berada di genggamanku, terpampang jelas foto seorang pria menjelang usia 30 tahun. Aku pun mengernyit. Apa maksud dari foto ini? Namun, Ibu malah tersenyum lebar. 

“Ini anak teman Ibu, sekarang dia kerja di BUMN, dan lulusan Universitas Indonesia. Usianya lebih tua sedikit dari kamu. Terus, anaknya juga santun. Ganteng, bukan? Tinggi juga lagi,” terang Ibu yang tak henti memberitahu spesifikasi pria itu, yang bahkan tak aku ketahui namanya. 

Aku langsung mengerti sesudah melihat gelagat Ibu. Mungkin dia sudah gerah melihatku berdiam diri di dalam rumah selama ini. Apalagi, aku sudah jarang menikmati dunia luar. Namun sebenarnya, Ibu tak mengerti apa yang terjadi pada perubahan drastisku ini. Ada banyak hal yang tak bisa aku ungkapkan kepadanya, sehingga menutupinya adalah keputusan terbaik yang bisa aku lakukan. 

Aku tak mau berdebat. Ruang tunggu ini tak semestinya membahas persoalan pribadi. Di sini terlalu banyak mata yang memandang. Terlebih lagi, semua orang di sini sedang merasakan ketenggangan yang seperti kami rasakan. 

“Ibu, kita bahas nanti ya,” elakku yang enggan membahas topik perjodohan ini. 

“Kamu ketemu dulu dengan dia, Ra. Kata teman Ibu, anaknya ini, tertarik sekali buat ketemu kamu,” tambah Ibu yang tak sadar semakin memojokkanku. 

Hah, bagaimana bisa dia tiba-tiba mau bertemu denganku? Jangan-jangan Ibu mengirim fotoku ke temannya, lalu mendiktekan karakteristik diriku seperti yang ibu lakukan saat memperkenalkan pria itu. 

Ini tandanya, Ibu benar-benar berharap aku segera menempuh hidup baru dengan seorang pria. Sayangnya, ada sesuatu yang berarti dalam hidupku dan itu sulit untuk aku lepaskan saat ini. Sayangnya, aku masih ingin meraih mimpiku. Apakah Ibu rela membiarkanku menentukan arah jalan hidupku sendiri? 

“Ibu, tapi sekarang Ayah lagi sakit, mana mungkin aku ketemu dengan dia.”

Sorot mata ibu berubah tajam, “Sudah turuti saja permintaan Ibumu ini. Sebelum nanti, kamu menyesal.” 

Sekilas, aku bisa merasakan lirikan-lirikan mata ke arahku. Sepertinya, semua orang di ruang tunggu ini mendengar jelas pekikan suara Ibu. Aku pun menunduk, menahan malu. Mengapa di saat ini, Ibu tak henti memaksakanku dengan kehendaknya. 

Tak kuat lagi aku menahan, akhirnya aku menghilang ke bilik toilet. Awan gelap yang sudah berhasil aku halau, malah kembali datang, berkat paksaan Ibu. Dia tak sendirian, kini air mata juga tergelincir ke pipiku. 

Apakah perempuan memang harus menyegerakan dirinya untuk menikah? Lalu, berbakti kepada suami, membesarkan anak-anak, dan hidup sepenuhnya untuk keluarga? Tapi, dia harus merelakan asa yang lebih dahulu mengukuhkan hatinya. Menghilangkan ego demi keberlangsungan keluarga kecilnya. 

Di usia 27 tahun ini, sudahkah waktunya aku harus memutuskan ke mana arah jalanku? Apakah semuanya harus aku ketahui sekarang juga? Apakah suruhan untuk menikah, sebenarnya karena Ibu meragukan aku bisa berhasil dalam meraih mimpiku sendiri? Apakah ini hanya karena persoalan rahim, yang katanya semakin lama akan semakin sulit memiliki keturunan? 

Semua pertanyaan itu, tak bisa aku temukan jawabannya. Tak masuk akal, mengapa aku sebegitu lemahnya memikirkan persoalan masa depan. Aku kembali teringat Ayah yang hingga kini masih berada di dalam ruang operasi, tak sadarkan diri. Sementara, aku berlarut-larut memikirkan diriku sendiri di sini. 

Ayah. Ibu. Bagaimana kalau mimpiku benar-benar hanya angan-angan belaka? Bagaimana kalau aku lahir hanya menjadi peluh untuk kalian setiap harinya? Bagaimana kalau aku sampai nanti tak bisa membahagiakan kalian? Bagaimana jika hidupku terus begini, tak berjalan ke sisi mana pun? 

Apa sebaiknya aku turuti saja permintaan Ibu untuk menemuinya? Setidaknya, aku tak berdiam diri di ambang dua sisi jalan ini. Bisa saja pria itu benar-benar sosok yang baik, seperti yang Ibu katakan. Mungkin saja, memang dialah sosok yang membawaku ke masa depan yang selama ini aku nantikan. 

Aku hanya bisa berharap, Tuhan akan mengarahkanku ke salah satu jalan itu. Menyudahi ketidakpastian yang aku alami. Apapun itu, biarkan aku hidup seperti bunga yang mekar sendirinya. Aku ingin melakukannya karena kehendakku sendiri. Aku ingin melakukannya dengan berbesar hati. 

Tak ada penyesalan yang menghantuiku. Aku ingin suatu saat nanti, begitu aku memikirkan hari ini, aku justru bersyukur telah yakin untuk menjalaninya. Tapi bagaimanapun itu, aku ingin tetap menjadi perempuan yang berani menunjukkan jati diriku sendiri, tanpa campur tangan siapapun.

Gabung Rabu Pagi Club

WhatsApp Community tempat kamu menemukan dirimu sendiri dan berkembang dengan support system dari Rabu Pagi

© 2024 – 2026 | Rabu Pagi Alrights reserved