, ,

Pasangan Tanpa Perasaan by Adenyaaat

 

Pasangan Tanpa Perasaan

Dia yang selalu siap mengajariku semuanya

Adenyaaat

 

“Mau aku temenin besok?” ujarnya dengan senyum tanpa sedikit pun ada rasa berdosa.

Perempuan ini memang selalu jadi yang terdepan di banyak urusanku. Datang saat aku

memang butuh bantuan. Dia muncul tiba-tiba di kantin saat aku sedang makan siang

Namanya Cika. Tubuhnya mungil dengan rambut sebahu. Kulitnya bersih terawat dan

senyuman lebar yang selalu terpasang di wajahnya. Bukan hal yang sulit untuk laki-laki

jatuh hati pada perempuan ini. Biarpun begitu, tampaknya belum ada laki-laki yang

berhasil memenangkan hatinya.

Kami sudah saling kenal sejak SMP. SMA kami pun sama karena memang rumah kami

tidak terlalu jauh. Kalau dihitung, berarti kami sudah saling kenal hampir 10 tahun dari

pertemuan pertama kala itu. Karena sudah saking lamanya, keluarga kami pun sudah

saling kenal.

Aku masih ingat pertama kali dia menawariku permen di sekolah pada jam istirahat.

Senyumannya masih sama kala itu. Senyuman itu juga yang dia pasang saat menawariku

bantuan kali ini.

“Emang kamu mau nemenin aku ke acara itu?” tanyaku.

Sebuah anggukan kecil sebenarnya sudah membuktikan bahwa dia tidak mau ditolak

olehku. Mau tidak mau, aku harus memberikannya kesempatan untuk mengajariku

sesuatu yang memang aku butuhkan.

 

Jadi, akhir pekan ini ada dua festival berturut. Hari Sabtu ada festival kebudayaan Jepang

dan hari Minggu festival musik. Rencananya aku mau mengajak gebetanku ke festival di

hari Minggu. Masalah yang aku alami sekarang, aku belum pernah mengajaknya pergi

berdua. Aku takut ada momen canggung yang panjang karena aku kehabisan topik

obrolan. Jadi aku butuh latihan kencan di festival hari Sabtu sebagai persiapan esok

harinya.

Kalau berpikir gebetanku Cika, tentu saja salah besar. Perempuan yang jadi gebetanku itu

bernama Cindy. Dia temanku di kuliah saat ini, satu fakultas denganku. Kami sudah

mengobrol beberapa kali dan ternyata punya selera musik yang hampir mirip. Karena

itulah, aku mau mengajaknya ke festival musik di hari Minggu depan.

Nah, perempuan mungil bernama Cika ini berniat mengajariku cara berkencan di festival.

Dia tahu aku bodoh dalam hal ini. Namun, tetap saja idenya aneh dengan ala-ala

berkencan di festival hari Sabtu.

“Tenang, pergi sama aku pasti dapat banyak ilmu,” kata Cika dengan pede-nya.

“Emang kita akan ngapain?” tanyaku lagi.

“Ya nonton festival, layaknya orang-orang di festival,” tukasnya dengan wajah yang polos

berusaha meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Singkat cerita, kami akhirnya janjian untuk pergi di hari Sabtu. Cika memintaku untuk

menjemputnya di rumah. Ini juga yang harus aku lakukan ke Cindy saat kencan

dengannya nanti. Katanya, pantang ketemuan di venue festival. Tempatnya ramai dan

sinyal pasti sulit. Jadi, dia menyarankan untuk pergi bersama dari awal kencan.

Aku sudah sampai di rumah Cika pukul 09.00 pagi. Aku diminta menunggu di ruang tamu

oleh keluarganya. Ini bukan yang pertama aku pergi dengan Cika dan dia bukan tipe

 

perempuan yang suka terlambat dengan janjinya. Bahkan, ada kalanya dia sudah siap

terlebih dulu sebelum aku tiba di tempatnya.

Benar saja, tak lama Cika pun keluar dari kamarnya. Dia pakai baju terusan berwarna

biru lengan pendek. Rambutnya dikuncir dua yang memberikan kesan lugu dan imut.

Aku mau bilang dia sangat menggemaskan hari ini, tapi aku simpan sendiri saja.

Sayangnya, menyimpan kata-kata pujian itu malah membuatku tidak berhenti

menatapnya.

“Ngapain ngeliatin aku kayak gitu? Mikir apaan kamu!” katanya sambil memasang wajah

galak.

Memasang wajah galak pun, Cika tetap menggemaskan kala itu. Jadi aku spontan

tertawa menanggapi marahnya.

“Nah, abis ini aku harus ngapain?” tanyaku.

“Ya ajak pergi dong!”

Aku langsung membukakan pintu rumahnya dan mempersilakan dia untuk keluar lebih

dulu. Setelah memakai sepatu, kamu pun beranjak ke venue festival menggunakan taksi

yang dipesan lewat hp.

Benar saja, aku tidak bisa banyak ngobrol dengan Cika sepanjang perjalanan. Entah

kenapa aku masih terus mengagumi penampilannya hari ini. Bisa dibilang, ini pertama

kalinya Cika bergaya seperti ini di depanku. Biasanya dia mengenakan kaus dan celana

panjang dengan warna yang seirama.

“Hmmmm… Anu…,” kataku.

“Nah, enggak boleh nih ada kata-kata enggak jelas gini. Tentuin topiknya dari sekarang!”

ujar Cika menjelaskan kepiawaiannya.

 

“Ya gimana?”

“Ya coba! Kamu sama aku yang udah kenal lama aja gugup, apalagi sama si Cindy-Cindy

itu!”

Baru beberapa menit pergi saja aku sudah dapat satu ilmu baru yang harus dipraktikkan

besok. Rasanya hari ini akan sangat panjang dengan Cika.

Sesampainya di venue, Cika langsung menjelaskan banyak hal kepadaku. Hal pertama

adalah menghafalkan semua lokasi yang mau didatangi. Jadi, aku diminta untuk

memfoto denah yang ada di pintu masuk. Minum juga jadi elemen penting kala berada

di festival. Jadi, aku tidak boleh membiarkan perempuan yang pergi denganku ini

kehausan. Terlebih lagi kalau cuaca memang sedang panas-panasnya.

“Penting juga nih! Digandeng!” ujar Cika sambil mengambil tanganku dan

menggenggamnya.

“Eh apaan sih kamu!”

Pasti akan sangat ramai di festival. Bergandengan tangan jadi salah satu cara supaya aku

tidak terpisah dengan teman kencan. Terlebih lagi pasangan kencanku sekarang adalah

perempuan dengan tubuh mungil.

Biarpun ini sebuah info berharga, aku masih cukup risih bergandengan dengan Cika.

Kami tidak pernah melakukannya sekalipun biarpun sudah lama kenal. Rasanya seperti

sedang berjalan dengan anak kecil saat bergandengan dengan Cika. Menurutku, ini

seperti berjalan dengan adik ketimbang kencan dengan pacar. Namun, Cika tidak mau

melepaskan tangannya. Jadi kubiarkan saja tangan kami sama-sama basah di cuaca yang

panas ini.

 

Siang pun membuat perut kami berdua kelaparan. Satu ilmu lagi yang diajarkan oleh Cika

kepadaku adalah memilih makanan. Dia bilang bahwa kami harus memilih makanan

yang simpel dan tidak merepotkan.

“Jangan pilih makanan yang bikin mulut kalian belepotan!” katanya.

“Emang kenapa?” tanyaku yang benar-benar tidak tahu alasannya.

“Emang kenapa kata kamu? Coba ulangin lagi! Emang kenapa? Ya, menurut kamu

kenapa?” jawab Cika yang mendadak nyerocos ke arahku dengan wajah marahnya.

Rasanya aku ingin sekali jawab “enggak tahu”, tapi urung karena aku tidak mau kembali

diomelin oleh perempuan mungil ini. Menurutku, amarahnya memang cukup

menyeramkan. Aku sudah sering mendapatkan omelan darinya sejak dulu. Alasannya

pun cukup banyak, pernah karena nilai ulanganku buruk, lupa mengerjakan tugas, atau

tidak peka saat ada teman SMA yang suka padaku.

Mendadak aku jadi ingat omelannya kala itu. Dia benar-benar marah karena aku

melewatkan seorang perempuan manis yang menaruh perhatian padaku. Bahkan, dia

sampai mendatangi perempuan teman sekolah kami dulu dan memohon untuk memulai

lagi obrolannya denganku. Sayangnya, semuanya sudah terlambat. Perempuan tersebut

akhirnya berpacaran dengan orang lain dari sekolah kami juga.

Cika marah besar saat itu sampai-sampai dia tidak mau ngobrol denganku beberapa hari.

Aku tidak suka dengan keadaan tersebut karena aku jadi tidak punya tempat untuk

bertanya. Sampai akhirnya, Cika mau lagi membantuku dengan satu syarat: aku harus

serius kalau mengejar perempuan.

Momen itu pun baru datang sekarang saat aku mau mengajak Cindy, gebetanku, ke

festival musik. Cika pun sekuat tenaga membantu persiapanku supaya berhasil dalam

 

kencan pertama dengan Cindy. Karena itu, aku benar-benar tidak mau membantahnya

untuk alasan apa pun.

Entah sudah berapa ilmu yang Cika bagikan dari POV perempuan sepanjang hari ini.

Mungkin aku juga tidak bisa mengingat semuanya. Namun, aku bisa langsung

mempraktikkannya ke Cika. Hari ini, kami benar-benar seperti pasangan yang sedang

kencan. Aku tinggal mengulang semua yang dilakukan hari ini pada esok hari bersama

Cindy.

“Kita mau pulang jam berapa? Enggak usah malem-malem, ya. ‘Kan aku harus nganterin

kamu dulu!”

“Kamu sudah cukup puas? Atau, masih ada yang mau dipelajari lagi,” balas Cika.

Entah kenapa energi Cika tidak ada habisnya. Dia masih memasang senyumnya setelah

berkeliling di venue festival hari ini. Sesungguhnya aku masih banyak yang ingin

ditanyakan, tapi aku selalu khawatir itu akan membuatnya lebih repot lagi.

“Boleh tanya sesuatu?” tanyaku. Sebenarnya aku cukup ragu untuk melontarkan

pertanyaan aneh ini ke Cika. Namun, aku merasa tidak ada lagi tempat untuk bertanya.

“Kapan aku boleh sedekat itu dengan Cindy?”

Tiba-tiba tubuh Cika mendekat ke arahku tanpa ada peringatan sebelumnya. Bukan

hanya tangan kami saja yang menempel karena bergandengan, ada bagian tubuh lain

yang juga sama-sama bisa aku rasakan. Beruntung tubuhnya jauh lebih kecil dariku. Jadi,

wajah kami tidak bisa saling bertemu. Dia tetap harus mendongak melihatku dan aku

menunduk.

“Begini maksudnya?”

“He’em…,” kata-kata yang bisa keluar dari mulutku saat itu.

 

“Tergantung kencan berhasil atau enggak. Kalau tampaknya enggak lancar, mendingan

kamu enggak usah lama-lama di festival. Langsung pulang aja,” jelasnya.

Cukup lama tubuh kami saling menempel. Karena Cika sepertinya cukup senang, jadi

kubiarkan saja. Lagi pula aku juga sudah tidak punya tenaga untuk melepaskan tubuh

mungilnya tersebut.

Kondisi ini pun berlanjut dalam perjalanan pulang. Tubuh Cika cukup sering menempel di

tubuhku. Aku tidak tahu aroma tubuh kami sudah seperti apa setelah seharian berada di

luar ruangan. Namun, kami sama sekali tidak peduli. Toh, kami berdua sama-sama

nyaman.

Sesampainya di rumah Cika, dia memintaku untuk masuk dulu. Aku duduk di ruang

tamu, tempat yang sama tadi pagi. Cika masuk ke dapur untuk mengambilkan minum.

Aku hanya bisa memandanginya jalan-jalan ke sana ke mari di dalam rumahnya sendiri.

“Eh ngomong-ngomong, kamu udah bilang ke Cindy besok mau gimana?” tanyanya

sambil mengerjakan kegiatan lain.

“Belum,” jawabku singkat.

Cika kemudian diam sambil menatapku. Tatapannya penuh keheranan melihat aku yang

sama sekali minim persiapan.

“Rendra, kamu gila ya! Perginya besok, hari gini belum ditanya mau atau enggak. Buruan

telepon sekarang!”

Aku tahu Cika serius untuk hal ini. Jadi aku bergegas menganil hape dari kantung celana

dan mencari nomor kontak Cindy. Aku tidak mengirimkan pesan terlebih dulu, langsung

menekan tombol telepon. Nada sambung pun langsung muncul. Tak berapa lama, suara

Cindy pun terdengar di speaker hape-ku.

 

“Halo Rendra, kenapa telepon malem-malem?”

“Hmm, gini, Cin. Besok mau pergi ke Asyik Fest yang di Senayan enggak?”

“Jam berapa tuh, Ren?”

“Dari pagi aku jemput aja. Paling sekitar jam 10.00.”

Ada keheningan sejenak di speaker hape. Firasatku mungkin Cindy sedang mencari

alasan untuk menolakku dengan cara yang paling baik. Namun, memangnya ada

penolakan seperti itu? Apa pun caranya, penolakan tetap saja penolakan yang akan

membuat seseorang sakit hati.

“Kayaknya enggak bisa deh, Ren. Aku ada sudah ada agenda buat besok. Tapi, next

mungkin kita bisa pergi bareng. Gimana?”

Benar tebakanku. Penolakan yang paling tidak menyakitkan menurut Cindy adalah

menambahkan dengan janji manis di belakangnya. Aku sakit, tapi aku tetap merasa ada

kesempatan di kemudian hari. Entah kapan.

“Oke deh Cin. Enggak apa-apa. Next kita janjian lagi, ya!”

“Maaf ya, Ren.”

“Enggak masalah Cin. Happy weekend, ya!”

“Kamu juga, happy weekend, ya!”

Telepon pun langsung terputus. Tanpa kusadari, Cika sudah berdiri di depanku dengan

memasang senyum khasnya. Sepertinya dia sudah tahu cerita yang terjadi antara aku

dan Cindy.

“Mau aku temenin lagi besok?” ujarnya dengan wajah sumringah.

 

Entah kenapa, mood aku langsung berubah drastis. Ternyata bukan janji manis yang bisa

mengobati sakit hati. Kalau dihitung, entah sudah berapa ribu kali Cika menyelamatkan

hidup aku. Bahkan, hal sekecil ini saja dia selalu jadi yang pertama. Masalahnya, belum

pernah sekalipun aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Kalau boleh jujur, aku

cukup malu buat itu.

“Emang kamu enggak capek?”

“Enggak, kok! Asal ada syaratnya kalau mau aku temenin besok!”

“Apa tuh?”

“Lakuin semua yang sudah kamu pelajarin hari ini!” katanya memasang muka serius.

Aku mengangguk karena memang semua perintahnya tidak bisa dibantah. Di dalam

kepala, aku kembali mengulang semua kejadian hari ini dan membayangkan esok akan

seperti apa dengan Cika. Mungkin saja tidak seratus persen sama. Mungkin aku akan

berimprovisasi. Bisa jadi juga, Cika yang menambahkan ilmu baru tanpa perlu meminta

izin.

Jam dinding di rumahnya sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Mungkin waktunya

bagiku untuk pulang karena besok harus kembali lagi ke rumah ini, kembali menjemput

Cika. Dia pun mengantarkanku sampai ke pintu depan.

Sesekali aku melihat wajahnya untuk mengeceknya. Entah apa yang aku cek. Mungkin

dia kelelahan atau dia masih tersenyum?

“Cik,” kataku saat keluar dari pintu.

Aku sangat ingin bilang terima kasih. Namun, entah kenapa aku sangat tidak terbiasa

dengan kata itu bila dengan Cika. Terlebih lagi, dia menunggu aku melanjutkan kata-kata

dengan wajah menggemaskan itu.

 

“Iya, Ren?” ujarnya.

“Enggak jadi deh. Sampai besok, ya!” kataku sambil ngeloyor pergi dari rumahnya.

Aku melambai ke arahnya sambil berjalan mundur. Cika sepertinya mengatakan sesuatu,

tapi aku tidak terlalu memperhatikannya. Mungkin kesal karena aku tidak melanjutkan

kata-kata barusan. Yang kudengar hanya perempuan mungil menggemaskan yang

nyerocos tanpa henti.


Tulisan lainnya