,

Menyertaimu hingga Mentari Terbit by Yasmine Qurrataayyun

Menyertaimu hingga Mentari Terbit 

Yasmine Qurrataayyun 

 

 

 

Berjam-jam aku terhuyung-huyung di dalam gerbong bersama saudara-saudaraku, Kakak dan Kumis. Decitan roda yang bergesekan dengan rel, ketukan barang-barang bertabrakan, sampai gemuruh klakson yang dibunyikan masinis, membuat kami yang tersentak-sentak berulang kali. 

Perjalanan panjang ini membuat kami merana. Bahkan, dry food dan minum yang disediakan oleh Mama, jarang sekali kami nikmati. Semoga saja perjalanan ini setimpal dengan penderitaan yang kami lalui ini.. 

Andai saja, Mama berada di samping kami. Pasti dia akan menaruh kami di pangkuannya. Yang ada malah petugas kereta tak peduli. Mau mengeong sekuat tenaga pun, mereka tak akan menggubris kehadiran kami. Apalagi, menenangkan kami adalah hal yang mustahil. Tugas mereka hanya membawa kami dengan selamat sampai tempat tujuan. 

Semakin lama, lelah mulai menyelimuti kami satu per satu. Akhirnya kami hanya melindungi diri dari situasi ini dengan posisi merunduk. Perlahan-lahan kantuk juga menghampiri. Aku lega bisa memotong waktu penderitaan. 

“Halo, Ello, Kaka, dan Kumis, kalian pasti kelelahan ya? Maafkan Mama ya, tidak ada pilihan lagi, selain membawa kalian dengan kereta itu,” imbuhnya iba. 

 

Aku pikir kami bisa bernapas lega, karena telah sampai di tempat tujuan. Nyatanya, kami harus bersabar lagi. Perjalanan kami tak henti disitu. Mama dan Kakaknya membawa kami pergi. Sejam lebih kami berumpal-umpalan dengan barang-barang yang dibawa oleh Mama dari kosan lamanya. 

Sampai sana, kami disambut dengan keluarga Mama lainnya, orangtua Mama dan adiknya. Adiknya begitu kaget melihat kami bertiga. Selama ini, hanya melihat kami dari layar handphone. “Wah, gede-gede, dan gembul sekali, Uni,” ujar adik Mama yang takjub melihat kami yang tepar. 

Kami pun dibawa masuk ke dalam rumah itu. Rumah ini bertingkat dua, tak besar tapi tak kecil juga. Mama pun membukakan pintu kandang kami satu per satu. Begitu kaki depan menginjak lantai rumah ini, langsung saja aku menungging. Merenggang tubuhku yang kaku-kaku. “Yang oren ini besar sekali, pasti galak ya? Namanya siapa?” tanya adik Mama sambil menunjuk ke arahku. “Ello namanya, justru dia anak paling baik.” 

 

Dia malah menyipitkan matanya, seakan meragukan pernyataan Mama. Mungkin dia mengiraku seperti kucing oren pada umumnya, dikenal suka bertingkah. Aku boro-boro nakal, mau keluar rumah saja, aku sudah gemetaran apabila bertemu kucing lain. “Yang ini, siapa? Kayak kucing jepang. Cantik sekali?” desisnya dengan takjub. Kini, tangannya mengelus-elus bulu Kakak. “Eee.. hati-hati, dia justru yang paling galak,” beber Mama khawatir tangan mulus adiknya akan segera memiliki goresan.

“Masa sih?” jawabnya tak percaya. Namun, tangannya malah meraih Kakak. Beruntungnya dia, sebab Kakak sedang tidak bertenaga untuk memberontak dan mencakarnya. 

Kini, matanya beralih ke Kumis yang masih berdiam diri di dalam kandangnya. Di antara aku dan Kaka, Kumis tampak paling tak bersemangat. Mungkin karena dia paling kecil, dan umurnya belum menyentuh usia 1 tahun. Jadi, lebih cepat terkuras energinya “Kalau yang kecil ini namanya siapa?” 

“Dia namanya Kumis, tapi perempuan.” Adik Mama menatap Kumis dengan heran. Mungkin kasihan, namanya tak terdengar tak anggun untuk betina. Tapi mau bagaimana lagi, Mama tak punya stok nama yang mudah diingat. Apalagi, kucing tuxedo itu punya bulu hitam yang menghiasi tepat di bawah hidungnya. 

 

 

Kehadiran kami disini menjadi penampakan asing. Pertama kalinya, rumah ini singgahi anak bulu seperti kamu. Hanya saja kami tak bebas menyelusuri segala sudut rumah. Ada batasan yang harus kami hindari. Terutama ke kamar orang tua Mama. Walau begitu, hal ini tak mengurangi rasa senang kami untuk bisa tinggal disini. Pasalnya, sebelum ini kami mendekam di kamar berukuran 3×2 yang sungguh menyesakkan. 

Dalam kurun waktu singkat, aku sudah bisa menemukan tempat favoritku , salah satunya bersembunyi di dalam lemari biru. Namun, untuk berada di sana aku harus diam-diam. Kalau ketahuan, aku pasti dimarahi para manusia. 

Sedangkan Kakak dan Kumis yang pernah tinggal di jalanan, lebih menyukai berkelana di luar rumah. Beberapa kali Kakak sempat mengajakku menelusuri jalanan. Namun ujungnya, aku hanya bisa berjalan sampai samping rumah ini. Sebab, momen pertama aku menghirup udara kota ini, aku malah dikejar oleh Snowy, kucing putih yang sering kali datang meminta makan ke adik Mama. 

Walau dia berwarna putih, dan mempunyai suara yang lembut. Kenyataannya, Snowy merupakan kucing jantan yang paling berkuasa di perumahan ini. Untung saja, ketika diserang, aku sigap melompat dan bersembunyi di atas genteng tetangga. 

Namun, aku yang kucing rumahan ini, tak pandai meloncat turun. Wajar saja, ini pertama kalinya aku bertengger setinggi ini. Semua ini berkat momen kepepet. Dari pada tubuhku nanti terkoyak dengan cakaran dan gigitan Snowy yang beringas, lebih baik aku menghindar bukan? 

 

Gara-gara kejadian ini, adik Mama harus meminta izin ke tetangga untuk menaiki ke tembok pembatas rumah mereka. Dengan bantuan tangga, tangannya lebih mudah mencapai tubuhku. Dia pun langsung mendekapku erat agar tak terjatuh. Sementara, aku spontan mencengkram bajunya. 

“Aduh, Ello, kamu ini jantan, loh. Kenapa ketinggian 2 meter saja, kamu sudah gemetar untuk bisa turun sendiri,” komentarnya yang tak bisa aku tepis. Berkat dia, aku bisa segera pulang. Jadi aku telan saja omelanya itu. Syukurlah, pagi itu dia masih ada di rumah. Kalau tidak, mungkin baru malam hari aku bisa turun. 

Semenjak itu, aku kapok menghabiskan waktu di luar rumah tanpa ditemani manusia. Aku lebih baik menemani Ibunya Mama selama di rumah. Kalau di sini, aku lebih baik bermain kejar-kejaran dengan Kakak. Atau mungkin, mendengarkan nyanyian

perempuan paruh baya itu yang lirik laguny karangan dia sendiri. Terkadang dia kerap memanjakanku dengan belaiannya. 

 

Hari-hariku di kota ini terasa lebih menyenangkan dibandingkan di kota rantauan Mama. Makananku lebih lezat, gurih dan aromanya lebih menggoda, karena aku makan merek premium. Air minumku pun lebih jernih dan menyegarkan, berkat mesin pancuran air yang canggih. Ini semua berkat keringat dan kerja keras Mama, aku jadi lebih bisa menikmati hidup. Tugasku ini hanya bersikap manis dan bermanja ria, mengugurkan penatnya dan menjadi perlipur laranya. 

Suatu hari, rumah ini terasa sepi usai, kepergian Kumis yang tak sengaja memakan racun tikus yang ditebarkan oleh tetangga. Beberapa bulan setelahnya, Kakak menghilang. Sampai sekarang kami tak tahu penyebab kepergiannya. Namun, Mama berusaha tegar, walau dalam lubuk hati, dia menyadari perginya Kakak tak hanya berkelana di lingkungan sekitar. Melainkan, Kakak sudah berada di rumahnya yang paling kekal. 

Aku pun merasakan bosan. Hanya manusia-manusia ini yang menemaniku. Tapi, tak bisa dipungkiri, mereka punya kesibukan masing-masing. Ibunya Mama memang ibu rumah tangga, namun dia sangat aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar. Kakak Mama, Ayah Mama dan Mama sendiri sibuk mendapatkan uang untuk membeli makan, minuman dan keberlangsungan hidup. Sementara, Adik Mama sibuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah. 

Sesekali kesepian menghampiriku. Aku hanya bisa tidur, dan menikmati waktu sendiriku di dalam lemari biru. Sesekali aku juga mengintip dunia luar lewat jendela kamar Mama, maupun menghirup udara segar dari balkon. 

 

 

Semakin hari, rumah ini juga tak seriang dulu. Datang hari dimana Mama memutuskan untuk membangun keluarga bersama pria pilihannya. Untung saja, Mama masih sempatkan pulang seminggu sekali. Tapi, belum genap setahun pernikahan, perut Mama tumbuh benih yang kelak akan menjadi adikku. 

Begitu tahu, Mama tak tega melihatku. “Ello, maafkan Mama, ya. Sementara waktu ini, kita tinggal terpisah dulu. Bukannya Mama sudah tidak sayang lagi dengan Ello. Namun, Mama sedang mengandung si adik. Mama diminta untuk berjauhan dengan kamu. Maafkan, Mama, ya.” 

Aku pun menatapnya dengan lekat. Mulai dari sini, aku tak seatap dengan Mama. Walaupun begitu, Mama masih luangkan waktu seminggu sekali untuk berkunjung. Hanya saja dia tak lagi membelaiku dengan lembut. Lalu, tugas perawatanku di pegang oleh Ibu dan Adik Mama yang dilakukan dalam sela-sela kesibukkan mereka. 

Kesepian semakin melekat di sanubariku. Aku sudah membahagiakan Mama, sampai dia memiliki keluarga kecilnya. Mengapa tuhan masih memberikan umur kepadaku? Apakah tugasku masih belum selesai di dunia? 

Sehari-hari aku hanya bisa melamun. Melihat langit biru dari celah jendela kamar Mama yang terkadang menjadi tempatku tidur. Lalu, bermain dengan kresek hitam yang suaranya begitu menyalakan insting berburu. Terkadang aku mencuri daun seledri dari belanjaan ibunya Mama, biar penatku hilang.

Kurang dari sebulan, aku menyadari adik Mama lebih sering berada di rumah. Dia bahkan mencuri spot tidurku di kamar Mama. Lalu, setelah itu dia menatap layar kotak bersinar. Jarinya mengetuk-ketuk tombol yang menyatu dengan layar itu. 

 

Aku pun yang kesal karena gangguan dalam waktu sendiriku, hanya bisa protes lewat aksi cakar-cakaran di dipan kasur. Namun, usahaku nihil.“Ello, nakal ya kamu! Jangan cakar-cakar lagi, nanti kamu dimarahi Mama.” gertaknya untuk menyudahi aksiku itu sambil menunjuk-nunjuk ke wajahku. Begitu aku berhenti, matanya langsung kembali menatap ke layar itu lagi. 

Dalam kesenyapan malam, aku berpikir bagaimana cara mengusirnya agar kamar ini sepenuhnya menjadi milikku sendiri. Besok paginya, adik Mama teriak dengan kencang. “BASAH APA INI! KOK PESING SIH!” Aku yang tidur di keset kamar langsung terbangun. Akhirnya, usahaku berhasil. 

“Uni, Ello pipis sembarangan. Di kasur uni lagi. Aku baru aja bersihin sampai 5x. Untung aja aku nemu tips bersihin bekas pipis dia.” rajuknya. 

“Ini, anak nakalnya!” Layar kotak kecil itu diarahkan kepadaku. Kini, aku bisa melihat wajah dari sana. Aku pun mengeong dengan manis, seakan aku tak bersalah. Bisa saja adik Mama yang mengompol, namun melimpahkan kepadaku. 

“Ello, jangan begitu, nurut ya sama adik Mama. Kamu harus bersyukur, karena dia sudah mau bantu merawat kamu.” Aku pun melengos pergi. “Dek, nanti coba dibawa ke dokter aja ya. Mungkin dia birahi, aku rasa sudah waktunya dia di kebiri.” 

“Iya, kak.” 

Suara mama sudah tak terdengar lagi, kini adik Mama menatapku dengan panjang. Lalu, dia mulai kembali duduk di depan layar itu. Sadar perutku mulai kempes, aku pun mendusel-dusel kakinya yang masih nampak di lantai. 

“Kamu mau apa?” tanyanya kini rasa kesalnya telah luluh dengan jurus jituku ini. 

 

Aku pun mengeong dengan lembut dan panjang, memintanya mengekori sampai tangga. Dimana tempat makanan dan minumanku singgah. 

Dia menarik napas panjang. “Kamu lapar ya?” lalu, aku menyundulkan kepala ke kakinya yang jenjang. Menandakan tebakannya itu benar. Dia pun menuangkan dry food ke piringku. Tak sia-sia dia belajar dengan giat, kini dia sudah mengerti jalan pikiranku. 

Dia juga tak lupa mengecek apakah mesin pancuran airku, masih jernih yang semestinya. Aku akui, dia cukup pandai memeliharaku, dibanding ibu Mama. Bukan karena ibu Mama tak telaten, hanya saja adik Mama tak masalah mengais kotoranku. Membersihkan wadah litterbox-ku. Lalu, mengangkat sekarung pasir yang beratnya 20 kg. Aku akui dia perempuan tangguh. 

Mengingat jasanya yang begitu luar biasa biar aku bisa hidup disini, maka dari itu aku putuskan menuruti nasihat Mama. Namun, aku juga tak mau tetap tidur di keset kecil bekas kakinya. Malam itu, aku pun loncat ke sisinya yang lebih dahulu berada di kasur. “Kamu mau tidur di sini juga?” Aku pun menggeliat dilengannya.

“Tapi janji jangan pipis lagi ya, kalau kebelet langsung bangunin aku.” aku pun merebahkan tubuhku di sana. Nyaman sekali bisa tidur di sini. Rontok sudah rasa pegal di punggungku. 

Seperti biasa, aku lebih dahulu bangun dibandingkan para manusia. Aku heran mengapa mereka bisa lelap itu tidur. Apa karena mereka tinggi langit. Jadi mereka lebih siang bangunnya. Jujur saja aku kenapa bisa bangun lebih pagi, karena pencernaan sangat kecil. Jadi, aku butuh asupan lebih dini. 

Aku pun beraksi dengan menaiki dadanya. Lalu, mengeong tepat di telingaku. Ini pasti lebih bersahabat daripada menyirami kasur dengan airku. Benar bukan? Dalam semenit aku menjalankan siasatku ini, dia langsung terbangung dengan air liur yang membasahi dagunya. Terlihat menjijikan, coba saja aku bisa bicara, pasti aku sudah mengekspresikannya. Tapi bodo amat soal itu, yang penting perutku bisa segera terisi. 

 

 

Sudah sebulan lebih, hubunganku dengan manusia pesuruh baruku ini terasa seirama. Dia cukup singgap juga. Jadi sudah bersitegang seperti awal-awal dia merawatku. Semakin lama aku juga bisa memahami dirinya. Selama ini aku menyadari, begitu dia duduk di depan layar, raut wajahnya langsung semrawut. 

Apalagi, saat dia sedang sakit gigi, di depan layar, dia menangis kencang. Entah, kesakitan karena gusinya yang sudah meradang, atau pusing memikirkan menyelesaikan tugasnya yang tak kunjung selesai. Muak dengan hal ini, aku pun naik ke atas meja. “Maaf ya, aku berisik ya, lo.” lirihnya yang merasa bersalah. 

“Meow. Meow.” Artinya, Iya, makanya kamu jangan berisik!. Lalu, aku menatapnya lekat-lekat. “Makasih ya, kamu sudah menghiburku, ternyata kamu kucing yang manis juga, ya.” Aku pun memiringkan kepala. Telingaku bergidik-gidik. Apa aku salah dengar ya. Padahal, aku jelas-jelas tadi membentaknya. 

“Aku pusing banget, Ello. Dosenku baru saja meninggal dunia. Aku merasa sedih, karena aku telah menyia-nyiakan waktunya untuk istirahat di saat dosenku sedang sakit keras. Namun, beliau memilih merahasiakan dan lanjut untuk menyegerakan lulus tepat waktu. Rencana, cuman jadi rencana. Tuhan sudah berkehendak, kini beliau sudah berpulang. Mau bagaimanapun aku tetap harus menyelesaikan skripsiku.” 

Entah karena kekalutannya yang membuat dia hilang akal, sehingga dia menganggapku seorang teman sejenisnya. Padahal aku, tak tahu apa itu istilah dosen maupun skripsi. Namun melihatnya begini, aku jadi iba. Maka dari itu, aku putuskan bertengger di atas meja. Sepertinya saat ini dia butuhkan untuk temani, meskipun aku hanya seekor kucing, tapi aku tahu betul bagaimana menghibur manusia. Cukup dengan menunjukkan perutku yang gembul, pasti dia langsung sumringah. 

Semenjak itu, dia mulai suka bicara panjang denganku. Seakan aku mengerti apa yang dia bahas. Pastinya, aku hanya mengeong-ngeong dan tak beranjak kemana-mana. Dialogku dengannya, akhirnya jadi rutinitas baruku. Membuat hari ke hari, kesepianku akhirnya terhempaskan. 

“Ello, besok kita ke dokter, ya. Maaf aku baru sempat bawa kamu sekarang. Jangan khawatir nanti kamu bakal diperiksa oleh dokter yang baik dan profesional,” terangnya ketika aku sudah masuk pet cargo. Bukannya tenang, aku malah menjadi resah seketika.

Bagaimana tidak, mau sebaik apapun dokter yang aku temui di dunia ini, pastinya bokongku akan dirogoh oleh benda asing. Katanya mereka melakukan begitu untuk mencari tahu suhu tubuhku. Tapi mereka tak tahu betapa tidak nyaman rasanya itu. Memangnya tak cukup dengan menempelkan di ketiak, maupun mulut, selayaknya manusia diperiksa saat demam? 

Sepanjang aku berteriak sekencang mungkin. Sampai klinik pun aku tak henti meminta dikeluarkan. Di ruang tunggu juga banyak hewan yang bernasib sama denganku. Aku semakin ciut, setelah melihat seekor anjing husky yang melolong keras. “Tenang, Ello selama ada aku kamu pasti aku jagain.” Kini dia memasukkan tangannya ke dalam tasku. Mengelus buluku yang sudah meruncing tinggi. 

“Selamat pagi, Ello. Hari ini kamu ada keluhan apa?” tanya dokter yang aku hindari tatapannya. “Begini, Dok, sebulan lalu, dia sempat pipis sembarangan. Apa mungkin karena dia sedang masa birahi? Kalau iya, bisa tidak dia dalam waktu dekat ini dikebiri.” Kebiri? Apa maksudnya? “Paling kami cek terlebih dahulu ya, apakah Ello kondisinya sudah siap atau belum.” 

“Namun, melihat dari karang giginya, dia cukup tebal ya, Mbak. Saran saya sebaiknya di scalling dulu di klinik yang peralatannya lebih lengkap. Itu lebih urgensi untuk saat ini.” Setelah itu, aku pun dibawah olehnya ke klinik yang berada di pusat kota. 

Di sana, aku malah diambil darah. Tentunya, aku meringis-ringis, memberontak untuk mereka melepaskanku. Lalu, darahku dibawah ke ruangan lain. Jangan-jangan manusia-manusia ini akan mencicipi darah segarku?! Apa tidak cukup mereka menikmati daging sapi, kambing, ayam, atau ikan. Katanya, kalau seorang muslim tak boleh makan hewan bertaring. Tapi, mengapa bagian dari tubuhku juga diembat? Membayangkan saja aku trauma. 

Sampai rumah, aku menjaga jarak dengan manusia keduaku itu. Teganya dia membuatku menyiksaku tadi. Seumur-umur ketika aku dibawa oleh Mama ke dokter, tak separah ini. Memang Mama adalah manusia yang paling bisa aku percaya. Kalau Mama tahu, pasti adiknya akan disentil, persis ketika aku buang akhir besar di lantai. 

“Kamu marah ya? Sakit tadi ya? Maaf ya, ini demi kesehatanmu. Soalnya, darah kamu perlu di cek. Biar gigi kamu nanti bisa segera dibersihkan. Kalau hasilnya bagus nanti, artinya kamu bisa ditiduri dengan obat pas scaling. Habis itu, gigi kamu bisa kinclong lagi, deh.” 

Aku pun menatap bayanganku di cermin. Menyeringai sebesar-besarnya sampai menunjukkan taringku yang masih runcing. Apa hubungannya darah sama gigiku? Tadi saja ambil darahnya bukan dalam mulutku, melainkan dari pergelangan kakiku. Kalau soal begini, aku kadang-kadang tak habis pikir dengan jalan pikir para manusia. 

Mau sekesal apapun, tetap saja aku tak bisa merajuk lama-lama. Pasalnya, perutku ini cepat meraung-raung. Tak kuasa, akhirnya aku segera menurunkan ego. Jadinya, aku kembali mendekatinya saat dia sedang menatap layar di meja. Aku kembali berlenggak-lenggok, meminta belas kasihan. Ini semua demi mengisi piringku yang sebenarnya sudah diisi kembali 2 jam lalu. Ujung-ujungnya aku juga tidak bisa jauh, pasalnya nanti aku tidur sebelahnya. Mau bagaimana lagi, tidur di kasur lebih nyaman dibanding di keset yang dekil dan bau tengik itu. Jadi, aku maafkan saja. Sungguh

beruntung dia, karena aku terlahir sebagai kucing yang baik hati dan pemaaf. Tak seamarah dan sedendam Kakak, pasti wajahnya akan penuh goretan. 

Aku duduk layaknya roti panggang di pinggir kasur, menantinya selesai bicara dengan perempuan yang terdengar lebih lugas dan pintar. Setangkapku, perempuan itu mengulas tulisan yang selama ini manusia keduaku kerjakan sampai berlarut-larut malam. Membaca dari wajahnya, tampaknya dia seciut aku saat di klinik kemarin. 

“Menurut saya, penelitian kamu masih bisa dilanjutkan seperti arahan Bapak Sahat. Hanya saja saya ingin urgensinya semakin tonjolkan. Jadi, kamu perlu tambahkan beberapa jurnal untuk data tambahan. Pastikan memakai jurnal yang dipublikasi pada lima tahun terakhir ya.” 

Begitu perempuan itu menghilang dari layar, dia langsung berjingkrak-jingkrakan. Aneh sekali tingkatnya, barusan dia mukanya pucat, sekarang kegirangan tak jelas. Saking senangnya, dia melambungkan tubuhku sampai nyaris kena langit-langit. Mengganggu kenyamananku saja. Lalu, dia mendekap tubuhku dan mencium-cium buluku. Rasanya ubun-ubunku mau disedot olehnya. 

Syukurnya, bunyi dari layar kotak kecil telah menyelamatkanku dari kegilaanya. Dia segera mengangkat dan menempelkan ke telinga. Aku pun bisa bebas rebahan di kasur kembali. “Benar dengan saya sendiri.” Dia menyimak panggilan itu. Namun, otot-otot wajahnya kembali netral dalam seketika. Kali ini kabar apa lagi yang dia khawatirkan? 

5 menit dia berbicara dengan orang itu. Nada suaranya menjadi rendah. Aku menerka-nerka, apa yang sedang dia bahas? Paling setelah ini dia akan segera memberitahuku. Begitu terputus, dia menatapku. Namun, matanya menggenang dan memerah. 

Apakah perempuan itu barusan membatalkan pernyataannya. Sampai menyakiti perasaan manusia kedua? Kalau memang begitu, dia tidak berhak melakukan itu. Hanya aku yang boleh semena-mena dengannya. 

 

“Ello, selama ini pasti kamu kesakitan ya? Maaf aku tak bisa mengurusmu dengan baik ya. Aku buta soal merawat hewan. Bodohnya aku mau merawatmu. Padahal, pas kecil saja, aku memandikan anak ayam dan besokannya mati. Aku terlalu gegabah.” 

Mengapa dia malah membahas diriku, selama ini aku merasa telah cukup dirawat olehnya. Bahkan, sebelum Mama pindah rumah, dia sudah jadi manusia keduaku. BAru setelah itu, Ibunya Mama. Mengapa dia menyesalinya sekarang? 

“Besok kita, ke dokter lagi ya, aku yakin kamu bisa sembuh seperti sedia kala.” ucapnya dengan sesegukan. Air mata sudah meluncur deras. Aku benci melihatnya menangis seperti ini. Bukan hanya karena telingaku yang menjadi berdengung, tapi juga dia jadi terlihat menyedihkan. 

Manusia kedua kembali membawaku ke klinik ini, kami dapat giliran pertama yang masuk menemui dokter. “Melihat hasil kemarin kadar creatine pada ginjal cukup tinggi. Kami khawatir Ello, tak punya banyak waktu. Sebenarnya, kondisi seperti ini pernah terjadi pada pasien kami. Dia bisa sembuh, karena semangatnya dalam hidup. Lalu, pemiliknya yang berusaha keras. Kemudian, kesempatan hidup dari Tuhan. Untuk saat ini, saya sarankan

untuk tiap hari Ello diinfus. Perhatikan jumlah minumnya. Kemudian, beri dia pangan yang punya label renal diet.” 

 

Baru kali aku langsung pengerti penjelasan dokter. Waktuku di dunia akan berakhir sebentar lagi. Sebentar lagi, aku akan menyusul Kakak, Kumis, ibu kandungku bernama Puspa dan saudara kembarku, Ompel yang berpulang melawan virus panleukopenia. Tuhan, akhirnya aku bisa segera bertemu mereka kembali. 

Meskipun ada rasa senang mendengar kabar ini, hanya satu keraguan di hatiku. Apabila aku menghilang secepatnya, bagaimana nasib manusia keduaku ini. Saat ini emosinya masih tak karuan. Kalau aku pergi, dia akan berkeluh-kesah ke siapa. Selama ini aku tak pernah melihat dia bicara dengan manusia sungguhan, selain keluarganya sendiri. 

Jauh dari lubuk hatiku, aku hanya meminta pada Tuhan. Biarkanlah aku menyelesaikan tugasku ini. Biarkanlah berada di sisinya, sampai dia mencapai gelar yang selama ini dinantikannya. Setelah itu, aku akan kembali berkelana menuju rumah kekalku di sana. 

Rutinitasku kembali berubah, bukan hanya makan, minum, tidur, buang air, main hingga melamun. Usai manusia kedua mengerjakan tugasnya di layar, dia akan menusuk jarum di subkutanku pada setiap sore hari. Setangkapku hal ini biar ada cairan tambah yang mengalir ke dalam tubuhku. Demi menurunkan kadar suatu zat yang membuat fungsi ginjalku sekarang ini menjadi bermasalah. 

 

 

Hari pertama, manusia kedua membawaku ke dokter terdekat untuk mengalirkan cairan ke tubuhku. Di sana, dia menceritakan kondisi penyakitku sebagaimana penjelasan dokter yang mendiagnosa. Dokter ini langsung melihatku dengan iba. “Biar, mbaknya tak boncos bolak-balik ke vet. Sebaiknya saya ajarkan caranya.” 

“Memangnya tidak apa-apa, dokter? Saya khawatir nanti saya tidak becus merawat saya.” 

“Tenang, ini mudah dipelajari. Seminggu ini saja infus di sini, hari ini saya yang infus. Seterusnya, saya hanya memperhatikan saja.” Benar saja sampai hari ketujuh, manusia kedua jauh lebih terampil. Semakin hari, aku merasa tubuhku semakin lemas. Namun, aku tak mau menunjukkan didepannya. Aku tak mau membuyarkan pikirannya di saat dia sibuk. 

Satu persatu anak tetangga telah berhasil dia capai. Impiannya semakin mendekat. Aku pun tak bisa lagi duduk di samping layarnya itu. Maka dari itu, setiap ada waktu beristirahat dia langsung menoleh ke arahku. Mungkin, khawatir nafasku tak berhembus lagi. 

Rutinitas ini kami lalui selama 5 bulan. Hingga, tiba harinya dia siap dengan tas yang berisikan layar yang telah dia lipat dan kertas-kertas tebal yang tersusun rapi. Sebelum meninggalkan rumah, dia sempatkan menatap dirinya di kaca. Berulang kali dia mengatur nafasnya. Kemeja tak luput dari pantauannya. Begitu siap, dia meraih blazer yang sudah gantung semalaman. 

“Hari ini adalah hari penting aku, Ello. Doakan aku ya, semoga usahaku terbayar tuntas nanti. Setelah itu, kita bisa menghabiskan waktu lebih lama.” ujarnya sebelum pamit. Sayangnya, kenyataannya tak begitu.

6 jam dia pergi, tubuhku semakin ringkih. Aku sudah kuat lagi menahan nyeri yang sudah menjalar ke segala arah. Di detik-detik ini, aku meminta impiannya bisa tercapai sekarang juga. Aku bisa mendengarkan sayup-sayup panggilan tuhan. Naas, penglihatanku berangsur-angsur kabur. 

Aku masih bisa mendengar tangisannya, setelah berjam-jam hanya hitam yang tampak di mataku. Dia mendekapku erat, segera mencari pertolongan untuk keselamatanku yang mustahil terwujud. “Dokter, tolong kucing saya, saya takut dia tidak selamat.” ujarnya dengan pasrah. 

Dokter itu langsung memeriksaku, bahkan dia membiarkan aku menyelak antrian kucing, usia melihat keputusasaannya. “Maaf, sepertinya dia perlu di rawat inap. Saya sarankan untuk datang ke klinik lain. Dari sini, saya bantu untuk menghubungi dokter setempat, untuk bisa segera diproses.” 

Dia kalang-kabut, sampai roda mobil berpacu kencang. Akibat tak mau membuang-buang waktuku sedikitpun. Sampai sana, aku diperiksa secara detail. Ruang inap jadi perpisahan yang selama ini dinantikan. 

“Ello, aku sudah berusaha keras untuk kesembuhanmu. Namun, apabila kamu sudah ingin pergi, aku akan merelakanmu. Aku tahu selama ini kamu menahan sakit luar biasa. Namun, malam ini biarkanku berusaha terakhir kali dengan menyerahkan keselamatanmu di sini.” ujarnya dengan isakan tangis. 

Sayangnya, aku tak bisa menatap wajahnya di momen ini. Aku pun mengeong kecil, ini menjadi balasanku terakhir pada dialog kami. Begitu membirunya, sampai aku meneteskan air mata. Tangannya kini menyelinap ke dalam kandang, untuk demi menyentuh kepalaku. Dengan tegar, dia keluar dari klinik ini. Sementaara, aku menerima takdir yang selama ini telah menantikanku. 

Keesokannya, kaki sudah kaku seperti patung. Tubuhku telah dibalut kain putih. Sembari menunggu penjemputan, tubuhku di simpan di dalam lemari pendingin. Sebuah lonceng berdering, kini aku sudah tak bisa merespon kedatangannya. Kini jiwanya siap mengantarkanku ke rumah kekal.


Yasmine Qurrataayyun
Lihat portofolio

Tulisan lainnya