Mengapa Warna Lukisanku Menghitam, Bapak?
Tomohiro Kure

Kuwarnai seluruh kanvas itu dengan variasi warna hijau yang diserahkan dari Bapak. Kutundukkan kepalaku. Mengecupkan kuasku di ubin papan kayu warna yang ditengadahkan lengan Bapak. Kuhirup bau cat warna yang masih menguar kuat setiap gurat kuasku menari di atas kanvas. Kupandang lukisanku yang penuh dengan rindang hijau yang indah.
Bapak terkekeh. Tersenyum lebar melihat hasil lukisanku. Sebelum rona hangat wajahnya kembali mengatup kosong.
“Ternyata, kamu masih mencintai kampung halaman, ya?” Lirih Bapak. Hampir tak terdengar. Namun, telingaku berhasil membaca lirihan kecil itu.
Aku menghadap Bapak. Manggut-manggut mengadahkan kepalaku mengusap wajah Bapak. Seandainya aku dilahirkan sebagai manusia, mungkin aku akan memeluk Bapak. Sekelabat kuucapkan sepatah lirihan kecil memecah kosong ruangan kandangku yang sunyi:
Semua akan baik-baik saja, Pak.
Bau asap menusuk hidungku tajam. Kupandang lagi kanvasku yang semulanya harumnya rindang warna hijau memeluk hangat kupu-kupu yang berterbangan di dalam dada.
Lukisanku menghitam. Dilalap oleh rona warna merah darah yang menyelimuti hijaunya kanvasku. Menghanguskan rindangnya hijau itu dalam hitungan detik.
“Tidak …, TIDAK!”
Semuanya sudah terlambat. Warna hijau yang menghangatkan itu sudah mati.
Tubuhku melayang. Adegan mengenaskan itu memutar kembali. Kupandang teman-temanku di hutan yang terbakar dan mati satu persatu. Dengan tubuh mereka yang menghitam terbujur kaku.
Aku baru sadar.
Aku sudah tak relevan lagi.
*

