Epitaf untuk Pertemuan
Muhammad Raza Pahlawan
Kemarin aku bertemu Ernest Hemingway. Kukatakan padanya, “Bukan Paris,
melainkan dirimu yang tidak berkesudahan.”
Aku ingat obrolan pertama kita. Saat itu, di tempat yang ramai orang berkumpul
itu, entah mengapa kita membicarakan sejumlah buku. Seseorang bertanya tentang
sebuah novel, dan kau jawab, “Kalau tidak salah itu ero-guro-nansensu.”
Aku menyahut. “Ero-guro-nansensu, ya.” Sederhana saja, aku seorang
pembaca Edogawa Ranpo yang tekun.
Lalu kau sumringah sambil berkata, “Oh, kamu tahu juga?”
Dan aku tak pernah melupakan malam-malam selanjutnya.
Kau menceritakan betapa gilanya karya-karya sastra Jepang. Aku ingat kau
pernah menceritakan pengalamanmu membaca Kobo Abe, Kafkanya Jepang itu.
Lantas aku bertanya buku yang mana yang harus kubaca darinya. Kau jawab, Woman
in the Dune.
Setelah hari itu aku memutuskan membaca Kobo Abe. Aku kelilingi
perpustakaan yang hingga hari ini kuhapal betul letak dan urutan bukunya. Kutemukan
dan segera kubawa pulang.
Harus kukatakan, membacanya itu sulit sekali, tapi dengan sebuah dorongan
yang kuat, aku berhasil menyelesaikan dua novelnya sekaligus, Woman in the Dune
dan The Ruined Map. Kurasakan kita makin dekat.
Lain waktu, kau sebut novel Ryu Murakami. Apa kau ingat? Popular Hits of the
Showa Era? Aku menghabiskannya hanya dalam beberapa hari dan aku gemar sekali
melihat senyummu membuncah setelah mengetahuinya. Kau terus bertanya apa yang
kupikirkan tentang buku itu, dan aku berharap kau tak berhenti bertanya.
Aku tulis daftar buku yang kau baca. Kenzaburo Oe, Yasunari Kawabata, Yukio
Mishima. Kubaca mereka dengan ketekunan orang yang tengah jatuh cinta.
Aku selalu membayangkan kita bisa duduk berdua. Barangkali kita membaca
buku yang kita cinta atau mencintai satu sama lain sambil membaca buku. Lalu,
mungkin aku akan katakan kepadamu, “Untukmu perpustakaanku selalu terbuka”
karena kita telah sampai pada tepi bahasa di mana “mencintaimu” tak berhasil
menangkap apa-apa.
Mungkin pada malam-malam yang panjang, aku akan membacakanmu
puisipuisi Nizar Qabbani. Pada malam yang lain, kita saling menghangatkan diri
setelah membaca Slauerhoff. Lalu malam esoknya, mulai melihat kembang api setelah
membaca Aan Mansyur.
Pada kesempatan yang entah, barangkali kau meminjam bukuku dan aku
katakan padamu, “Tinggalkan jejak-jejakmu di antara halaman itu. Barangkali aku bisa
belajar sesuatu.” Niscaya aku menemukanmu pada rak-rak perpustakaanku.
Atau jika waktumu kosong, mari kita kunjungi perpustakaan. Barangkali di sana
aku menemukan kepingan dirimu yang lain. Barangkali kau juga menemukanku di
sanasini. Bahkan, mungkin kita tertawa bersama terhadap buku-buku yang
mengagungkan negara, setelah lama ia membuat kita lupa memikirkan satu sama lain.
Kemudian, kita akan duduk di suatu sudut; membaca satu sama lain;
menceritakan kehidupan yang memberi kita banyak tokoh. Akan kusadari saat itu,
bahwa isi kepalaku adalah pembendaharaan hari-harimu. Semacam kumpulan
kenangan, kutipan, potret, dan hal-hal yang abadi.
Sayangnya, di depanku, antara tanganku dan tanganmu, terbentang jutaan
tahun cahaya.
Aku membayangkan sebuah kemustahilan. Akan tetapi, bukankah manusia
suka bermain-main dengan kemustahilan? Bukankah kita selalu memikirkan apa yang
tidak terjadi dan mungkin terjadi? Bukankah kita selalu membayangkan sebuah dunia
yang lain, di mana sesuatu berjalan seperti kehendak kita?
Barangkali kita memang telah sampai pada tepi bahasa, di mana kata
“perpisahan” bahkan tak menggambarkan apa-apa. Ia tak menyebut-nyebut rentang
perpustakaanku yang sepi, buku-bukuku yang hanya kugenggam sendiri. Ia tak
mengatakan apa-apa soal jarak yang kau tempuh sewaktu kembali ke kampung. Ia
tak mengatakan apa-apa soal kita yang saling melupakan.


