Di Antara Kaki Yang Berhenti Melangkah
Namun Hati Yang Berbicara
Amiruddin Dial Al Hak

Di dalam dada, ada suara yang tak pernah benar-benar diam.
Yang selalu berkata, “Melangkahlah.”
Namun disaat itu ada langkah yang memberi jeda seakan berkata, “Tunggu, kau belum siap.”
Aku berdiri di ambang keputusan, dengan tangan yang dingin dan pikiran yang riuh.
Jantungku mengetuk lebih keras setiap kali keberanian mencoba tumbuh,
Namun ketakutan selalu datang membawa bayang-bayang kegagalan.
Aku ingin berlari, tetapi kakiku mengenal ragu.
Aku ingin berbicara, tetapi lidahku dipenuhi kemungkinan buruk.
Malam menjadi saksi, betapa seseorang bisa terlihat tenang ketika di dalam dirinya sedang terjadi perang yang panjang.
Tak ada darah, tak ada suara senjata, hanya hati yang berkali-kali patah oleh pikirannya sendiri.
Lalu aku mengerti: barangkali dewasa bukan tentang membungkam ketakutan, melainkan belajar berjalan meski ia terus berbisik di belakang.
Maka malam itu, aku tidak memilih untuk menjadi berani.
Aku hanya memilih untuk tetap melangkah meski takut.
Sebab mungkin, keberanian bukanlah ketiadaan rasa gentar, melainkan keberanian untuk berkata:
“Aku takut, tetapi aku tidak akan menyerah pada ketakutanku.”