Ambilkan bulan, Ma by Donna Monica

Ambilkan bulan, Ma

Donna Monica

 

Saat mendongakkan kepala ke arah langit di malam hari, apa yang terlihat? Kalau di perkotaan
dengan segala polusi cahaya dan polusi udaranya, mungkin hanya bulan. Kalau beruntung,
sesekali Venus atau Mars juga menunjukkan cahayanya—itu pun kalau berhasil menembus
awan yang hampir selalu ada di wilayah tropis ini. Selebihnya, hanya kehampaan yang gelap.
Tapi Candra tahu, langit menyimpan banyak hal yang mengagumkan walau tak selalu terlihat
mata.

Perkenalan Candra dengan benda-benda langit di mulai di usia delapan tahun, saat Papa dan
Mama membawanya ke planetarium. Gemerlap bintang dan nebula seperti butir-butir pasir
kristal yang tak terhitung jumlahnya, menghipnotis dan membawanya masuk ke dunia asing
nan magis di mana pesawat ulang-alik adalah alat transportasinya dan planet-planet adalah
rute pemberhentiannya. Malamnya, Candra kecil menangis karena langit malam yang ia lihat
dari halaman rumah berbeda dengan yang ia lihat di planetarium. Mama menghiburnya
dengan menceritakan kisah tentang asal usul namanya.
Candra. Artinya bulan.

Saat Mama mengandung, air ketubannya pecah di malam hari. Papa bergegas membawa
Mama ke rumah sakit, menyetir panik dengan kaki yang terus menekan pedal gas dan tangan
yang terus menekan klakson. Mama berbaring di kursi belakang, dibanjiri peluh, setengah
sadar. Tiba-tiba, sudut matanya menangkap pemandangan di luar jendela mobil. Saat itu bulan
purnama. Bulan yang terang berpendar seakan mengekori mereka, terus terlihat dari jendela
mobil, menjadi jangkar yang memaut kesadaran Mama sampai tiba di rumah sakit. Maka
itulah, Candra dinamai Candra.

“Candra, bulan kadang tak muncul di langit. Kadang juga hanya muncul seujung kuku. Atau
setengah lingkaran. Tapi bulan selalu ada di langit walau tak terlihat. Juga di sini,” Mama
pernah berucap sambil mengusap pipi Candra kecil. “Candra adalah bulan yang menyinari
hidup Mama.”

Candra percaya kata-kata itu. Dan mungkin karena itulah Candra tidak menangis ketika, tiga
tahun kemudian, Mama meninggal. Mama sudah tak terlihat lagi, jasadnya dipendam jauh di
dalam tanah. Tapi tak terlihat bukan berarti tak ada, jadi kenapa ia harus bersedih? Seperti
kisah peri bulan yang turun ke bumi setiap purnama dalam buku dongeng yang pernah
dibelikan Mama, Mama hadir untuk Candra setiap malam meski hanya dalam bisikan.
…Iya, kan?
“Candra, Candra. Ayo keluar, bulannya pasti cantik sekali malam ini.”
Papa hanya memeluk Candra sambil menangis ketika ia mengatakan, di malam pemakaman
Mama, bahwa Mama mengajaknya keluar untuk melihat langit.

“Candra, gravitasi bulan begitu kuat hingga menarik air laut di bumi, menjadikannya pasang
surut. Mengagumkan, bukan? Mungkin bahkan cukup kuat untuk bisa menarikmu, Candra.”
Di usia tiga belas tahun, Candra tidak sengaja mendengar bisik-bisik om dan tantenya dengan
Papa ketika mereka datang menengok Candra yang patah tulang setelah jatuh dari jendela
lantai dua. Apakah ada sesuatu yang salah dengannya?
“Candra, lihat. Bulan malam ini berwarna merah. Matahari, bumi, dan bulan membentuk garis
lurus sehingga cahaya matahari tak sampai ke bulan.”

Malam itu Candra menangis meraung-raung karena warna merah bulan mengingatkannya
akan Mama yang berlumur merah di hari kematiannya.
“Candra, tidak keluar untuk melihat bulan purnama malam ini? Ayo, ayo.”
Setelah masuk SMA, Candra berpura-pura tidak mendengar suara itu agar ia tidak dijauhi
teman-teman sekelasnya lagi.
“Candra, hari ini Mars akan ada di dekat bulan, cantik sekali.”
Rasanya sulit sekali.
“Candra, Candra.”

Candra muak dengan bulan, muak dengan namanya, muak dengan dirinya sendiri. Mama yang
ada dalam kepalanya adalah sisi gelap bulan yang tak disinari matahari. Lubang hitam yang
mengisap seluruh kehidupan Candra. Tapi…
“Candra, malam ini fase bulan sabit terakhir sebelum bulan tertutup sepenuhnya besok. Tidak
mau menyapanya dulu?”
“Tidak, Mama. Aku sedang belajar. Besok ujian proposal skripsiku, aku sudah cerita ke Mama,
kan?”
Sebagaimana bulan terbit, tenggelam, dan memiliki fase-fasenya sendiri, ada kalanya suara itu
begitu kuat dan membuat Candra sesak sampai ia membanting seluruh barang di kamarnya
untuk meredam suara itu. Dan, ada kalanya juga ia berdamai dengannya. Pergerakan bulan
pun menunjukkan betapa waktu terus berlalu, dan mungkin kini Candra sudah sukup dewasa
untuk memahami dan menavigasikan hidupnya sendiri.
Ting.
Suara notifikasi menarik Candra dari lamunan sesaatnya. Ia meraih ponsel dan membaca
pesan yang baru muncul itu. [Good luck ujian proposal besok!! Jangan begadang malam ini
(* ́▽`*) Btw jadwal ke psikiater lagi lusa kan? Kabari ya jam berapa, nanti aku temani.]
Langit menyimpan banyak hal yang mengagumkan walau tak selalu terlihat mata. Jika bulan
terasa begitu intens sampai membebani, masih ada konstelasi bintang dan awan nebula dan
sabuk asteroid dan meteor dan entah apalagi.

Candra tersenyum, jemarinya mulai membalas pesan dari temannya itu, yang nama kontaknya
diakhiri dengan emoji bunga matahari.

Gabung Rabu Pagi Club

WhatsApp Community tempat kamu menemukan dirimu sendiri dan berkembang dengan support system dari Rabu Pagi

© 2024 – 2026 | Rabu Pagi Alrights reserved