Perawan Cerdik
Arthaia

Hari itu hawa terasa sejuk karena sisa hujan semalam. Seekor katak betina, panggil saja Katin, sedang bercengkrama dengan seekor ikan koi milik Pak Agus di kolam belakang rumah. Panggil saja ia Telon, karena warnanya seperti kucing yang punya tiga warna.
“Oh, tidak.” Sebuah suara membuat Katin siaga.
“Kenapa?” Telon celingukan hingga membuat permukaan di sekitarnya berkecipak.
“Shush! Setelah ini, kau pura-puralah menangis.” Katin memposisikan dirinya berbaring terlentang, tangan dan kakinya terkulai ke kolam.
“Kenapa kau menyuruhku pura-pura kalau aku memang tidak bisa melakukannya?” Sedikitnya, Telon tersinggung. Ikan tidak punya kantung air mata, jadi meski hidup mereka di air, mereka tetap tidak bisa mengeluarkan air mata.
“Anggaplah kolam ini air matamu.”
Sedetik setelahnya, Katin terbatuk-batuk, kemudian nafasnya tersendat, sebelum tubuhnya sepenuhnya kaku. Namun, ketika seekor nyamuk terbang rendah di antara mereka, lidahnya dengan sigap menangkap dan masuk ke mulutnya. Dalam hati Telon menggerutu, dasar tak becus berakting!
Tak lama, seekor katak jantan mendekat sambil mengeluarkan suara yang, bagi Telon, terdengar aneh.
“Ya ampun!” katak jantan itu menghentikan mantra anehnya ketika melihat Katin. “Dia mati?”
Telon mengangguk perlahan, wajahnya muram. “Sepertinya begitu.” Ikan koi itu masih sedikit kesal karena di suruh berpura-pura melakukan sesuatu yang memang tak bisa dilakukannya. “Sepertinya ia tersedak saat kami mencamil sisa peletku.”
Si katak jantan mendesah. “Sayang sekali, ia mati perawan! Mana masih muda.” Kemudian, katak jantan itu melompat pergi sambil melanjutkan jampi-jampi anehnya.
“Setidaknya tunjukkan belas kasihan!” Telon punya prinsip, hanya ia yang boleh memaki sahabatnya.
“Kau akan lebih kasihan padaku kalau dia berhasil mengawiniku.”
“Ah! Mayat tidak bisa bicara!” Telon terlalu mendalami perannya. “Lagipula, kenapa kau tidak mau kawin dengannya?”
Katin mendesah malas. Tanpa mengubah posisinya, ia mengambil pelet yang mengambang di sekitar mereka dan mulai bercerita sambil mengunyah.
“Banyak katak betina sudah tertipu suaranya.”
Telon tidak mengerti di mana letak pesona jampi-jampi tadi, mungkin karena mereka beda spesies.
“Kerjanya hanya kawin saja. Jangankan merawat anak, sarangpun tidak sudi ia buat.” Katin menjilati jemarinya. “Aku dengar, katanya ia bahkan pernah mengaku-ngaku sarang katak lain sebagai sarangnya!”
“Lalu,” Telon terbakar dengan gosip meski tubuhnya diselimuti air. “Apa yang terjadi?”
“Si betina membelanya. Malang nian, sudah ditipu, dimanfaatkan pula.” Katin bangun dari posisinya. “Tapi seperti katanya, aku masih muda, sayang bila kawin dengan katak sepertinya. Suatu saat aku akan kawin, tapi dengan katak yang bertanggung jawab dan bisa diajak bekerja sama.”
Jika punya alis, Telon sudah mengerutkannya sekarang. “Sejak kapan kau jadi bijak begini…”
“Sejak aku tahu hidup bukan hanya untuk kawin.” Entah betulan atau alasan, yang jelas, Katin paham betul kerasnya bertahan hidup sebagai katak. Kebanyakan manusia menganggap mereka hewan menjijikkan, padahal mereka hanya sedang berburu serangga di kamar mandi atau dekat mesin cuci atau jemuran. Di jalan raya, pilihannya antara ditindas mobil atau santapan burung karnivora. Ke sawah pun, mereka masih berada di bawah bayang-bayang ular.
“Hei, peletmu ini enak. Kapan si Agus memberi makan kalian lagi?” Katin menelan pelet terakhir yang tersisa.
Telon menengok sebentar ke pintu belakang rumah yang hanya beberapa langkah dari kolam. “Biasanya cucunya akan datang sore hari begini dan menumpahkan setoples pelet. Tapi sejak mamak si bocah tahu, ia yang memegang toplesnya sambil memberinya sedikit-sedikit pada anak itu.”
Si katak betina itu menjejakkan sebelah kakinya beberapa kali.
“Aku punya ide.”

