Pasti Ada yang Lebih Bagus
Adenyaaat

Halaman beranda sebuah situs jual-beli game sudah terbuka sempurna hanya dalam waktu 5 detik. Sayangnya, Yuri butuh waktu hingga 100 tahun untuk menentukan satu game yang akan dia beli. Tentunya bukan tanpa alasan. Yuri perlu memikirkan segala kemungkinan yang akan muncul di masa depan bersama game tersebut. Salah satu langkah saja bisa membuat kehidupannya hancur lebur berantakan.
Pandangan pertamanya langsung tertuju pada satu game yang lagi diskon besar-besaran. Game tersebut langsung muncul bagian paling atas beranda website tersebut. Harganya cukup masuk akal dengan kondisi finansial Yuri saat ini. Tidak lebih dari biaya listriknya selama satu bulan. Tidak juga lebih mahal dari cicilan kendaraan yang harus dia bayar tepat waktu. Hanya saja, game ini tidak bisa dimainkan sebentar. Dalam sekali menyalakan laptop, player harus melihat layar paling tidak 3 jam. Kalau Yuri memilih game ini, dia harus memangkas waktu tidurnya di malam hari. Satu-satunya kelebihan dari game ini cuma tidak ada tamatnya. Yuri bisa memainkan game ini sampai meninggal dengan catatan dia tidak pernah bosan.
Karena masih banyak hal buruk di dalamnya, Yuri masih melanjutkan pencarian di halaman yang sama. Lalu, bertemulah dia dengan game yang tidak kalah murahnya. Sama-sama sedang diskon besar. Dia merasa tidak akan rugi kalau beli game yang satu ini. Ceritanya bagus, mekanik di dalam game-nya juga aduhai. Ciri-ciri game yang sulit membuat player-nya bosan. Hanya saja, lagi-lagi, ada pertimbangan lain yang membuat Yuri sulit untuk memilihnya. Sidequest dalam game ini terlalu banyak bahkan melebihi cerita utamanya. Hanya mengerjakan misi utama akan membuat game ini kurang lengkap. Namun, terlalu banyak menggarap misi sampingan hanya akan memperlambat cerita game. Pada akhirnya, Yuri yakin dia akan lebih cepat bosan.
Pencarian pun dilanjutkan kembali. Tidak terasa sudah lebih dari 15 menit dihabiskan di depan layar laptopnya. Belum ada satu pun game yang dipilih. Namun, dia belum mau menyerah untuk itu. Yuri pun kembali menyelam makin dalam di situs tersebut.
Muncullah satu game yang sepertinya bisa dijadikan pilihan. Sebuah indie game dari pengembang asal Kanada mendadak menarik perhatian Yuri. Judulnya singkat, tapi sudah cukup menggambarkan keseluruhan cerita. Tugas player dalam game tersebut hanya menggerakkan karakternya untuk mengantar barang ke tempat tujuan.
Game yang seharusnya cukup mudah bagi Yuri yang sudah menasbihkan diri sebagai gamer sejak usia 8 tahun. Tidak perlu banyak berpikir. Hanya mengikuti semua yang diminta di dalam game-nya saja. Bahkan, tidak perlu ketangkasan jari-jemari dalam memainkannya. Kalaupun misinya gagal, player hanya perlu mengulangnya kembali
sampai berhasil. Selama 30 tahun berikutnya, sudah ratusan game dicobanya dan genre ini yang selalu bikin Yuri jatuh hati.
“Mungkin game ini jodohku,” ujarnya dalam hati.
Dilihatnya video trailer sampai beberapa review dari player yang sudah memainkannya. Semuanya memberikan jempol ke atas untuk game ini. Yuri juga menilai game ini sangat masuk akal untuk dibeli lantaran harganya yang sangat-sangat terjangkau. Saat tidak diskon saja, harganya tidak sampai Rp100 ribu. Mungkin dengan sisa uang yang ada, Yuri bisa memilih game lain untuk dimiliki.
Alhasil, Yuri kembali menyelam untuk menemukan game lain untuk melengkapi keranjang belanjanya. Satu per satu game dia lihat sambil sesekali dibaca review dari para player lain. Bukan hanya itu, Yuri pun melihat video trailer, review, hingga reaction sebelum benar-benar memasukkannya ke keranjang.
Tanpa sadar, dia sudah menghabiskan waktu satu jam di depan laptopnya. Satu jam yang rasanya terbuang tanpa satu pun ada hasilnya. Pikirnya mungkin ini waktu terbaik untuk istirahat sejenak. Lalu, dimatikanlah laptopnya.
Aktivitas lain yang dilakukan oleh Yuri pun tidak membuat pikirannya jauh dari game yang sudah dilihatnya tadi. Dia masih mencari baik dan buruk jika memilih salah satunya. Apakah itu sebuah game yang tepat? Apakah harganya tidak terlalu mahal? Bahkan, pikiran tentang apakah dia bisa menyelesaikan game-nya pun muncul silih berganti di dalam kepala.
Ditinggalnya kegiatan lain dan kembali ke mejanya. Menyalakan laptop dan membuka kembali situs game tersebut. Yuri kembali menyelam lebih dalam di sana. Tanpa sadar dia sudah melihat puluhan game hanya dalam waktu singkat. Tidak semua game dia ingat. Hanya saja, belum ada yang benar-benar menarik hati Yuri. Kalaupun ada, dia mau membandingkannya dengan game genre sejenis. Keputusan yang membawanya menyelam lebih dalam lagi di situs game tersebut.
Setiap kali menggulirkan halaman hatinya selalu berbisik, “pasti ada yang bagus”. Setiap kali dia menemukan sebuah game yang bagus, Yuri pasti yakin ada yang lebih bagus setelahnya. Semua game harus dibandingkan supaya tidak salah beli. Terlebih lagi kalau harga game yang dipilih sangat mahal. Yuri berpikir dia harus senang saat memainkannya nanti. Tidak bosan-bosan. Kalau bisa, dia bisa mengulangnya setelah tamat.
Bagian paling menyedihkan dari pencarian ini adalah Yuri tidak bisa membeli semua game yang dia anggap bagus. Uangnya tidak cukup. Mengingat uangnya terbatas, game yang dia pilih harus yang terbaik menurutnya. Tidak membuatnya cepat bosan juga tidak terlalu menyita waktu saat memainkannya. Kalau memang ada game seperti itu dan
harganya murah, dia mau membeli dua game dengan genre berbeda. Sayangnya, sudah berjam-jam dia mencarinya pun tidak kunjung menemukan game seperti itu.
Selalu ada kurangnya. Selalu ada yang menghambatnya untuk tidak memilihnya. Saat game-nya cocok, harganya tidak. Saat harganya cocok, Yuri keberatan kalau hanya beli satu. Kalaupun harganya cocok, game-nya akan mengambil hidup Yuri terlalu banyak.
Lalu Yuri teringat tentang sebuah cara psikologi yang mengajarkan caranya sebelum membeli sebuah barang. Seseorang seharusnya menunda pembelian sekitar 72 jam atau 3 hari. Katanya, jika dalam waktu tersebut seseorang masih memikirkannya dan tetap ingin membelinya, berarti barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Kalau hasrat tersebut hilang, berarti barang tersebut sebenarnya tidak dia butuhkan.
Yuri mau mencoba cara tersebut. Dia tutup laptop dan berjanji tidak akan melihat situs jual-beli game tersebut selama tiga hari dari sekarang. Dia pun menyimpan rapat-rapat semua pertimbangan yang ada di dalam dirinya. Sesekali memang rasa itu muncul hingga memaksanya membuka kembali situs tersebut. Namun, Yuri berkeras hati untuk tetap melanjutkan tirakatnya sampai tiga hari.
Tiga hari kemudian, Yuri kembali masuk ke dalam dirinya. Menanyakan kembali apakah dia benar-benar menginginkan salah satu game yang dilihatnya kemarin. Batinnya masih berbicara bahwa dia tetap butuh game tersebut. Dia harus mengisi waktu luangnya dengan tetap bermain game. Dibukalah kembali laptopnya, dimasukkan alamat situsnya, dan dimasuki lagi satu per satu game yang beberapa hari lalu dilihatnya.
Kabar buruknya, periode diskon sudah berakhir dan harga game pun kembali jadi tidak ramah kantong. Rasa kecewa menyelimuti perasaan Yuri. “Kenapa kemarin tidak beli saja salah satunya!” makinya dalam hati. Kalau sudah begini, mau tidak mau Yuri harus mulai cari game dari awal lagi.