Tolong Peluk Aku di Tulang Belikat  by Mafazal_ 

Tolong Peluk Aku di Tulang Belikat 

Mafazal_ 

 

 

Kepada semua anak pertama perempuan, 

yang diam-diam tumbuh lebih cepat daripada usianya. 

Panggil aku anak pertama perempuan. Yang tumbuh dengan banyak impian, tetapi satu  per satu menguburnya. Bukan karena takut gagal, melainkan karena aku tak pernah sanggup  melihat kecewa di wajah-wajah yang menjadi alasan aku lahir ke dunia ini. 

Kadang aku berpikir, hidup pasti jauh lebih mudah kalau aku sendirian. Tidak perlu  memikirkan siapa pun selain diriku sendiri. Tapi pikiran itu selalu terasa salah, sebab sejauh  apa pun aku ingin lari dari rasa lelah, aku tetap menyenangi wajah adik-adik yang tumbuh  bersamaku. 

Lalu harapan-harapan mulai ditumpuk di pundakku. 

Belajarlah yang rajin. Jadi sarjana. Dapat pekerjaan yang baik. Jadi panutan untuk adik adikmu. 

Tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat itu. Semuanya terdengar seperti doa. 

Yang aneh adalah ketika perlahan aku menjadi pelindung adik-adik, ketika aku sendiri  tidak tahu harus berteduh ke mana saat hujan datang. 

Di balik hati yang rapuh, aku terus belajar terlihat tegar. Sambil terus meyakinkan  diriku bahwa mungkin orang tuaku pun tidak pernah meminta kehidupan menjadi seberat ini.  Mereka juga sedang berjuang dengan caranya sendiri. 

Namun batinku tidak pernah berhenti berperang. 

Bagaimana kalau suatu hari nanti tiba waktunya aku menikah? 

Apakah aku juga harus merelakan mimpi-mimpi yang belum sempat hidup? Bagaimana  dengan adik-adikku? Saat itu mungkin ayah dan ibu sudah semakin menua. Lalu siapa yang  akan menggantikan posisi yang diam-diam sudah disiapkan untukku sejak kecil?

Aku anak pertama perempuan. 

Konstelasi yang dipaksa menjadi utara, padahal mencari arah selatan pun aku masih  tersesat. 

Katanya jangan mengorbankan hidupmu. 

Bagaimana mungkin aku tidak belajar berkorban, kalau sejak kecil aku tumbuh dengan  menyaksikan pengorbanan orang tuaku setiap hari? Rasanya cinta selalu diajarkan lewat  mengalah, lewat menunda, lewat memikul. 

Dan mungkin di situlah aku keliru, mengira mencintai berarti selalu kuat. 

Padahal ada hari-hari ketika punggungku terasa berat sekali. Seolah seluruh harapan  keluarga disimpan di tulang belikatku. 

Kalau suatu hari aku terlihat baik-baik saja, jangan buru-buru percaya. 

Mungkin aku hanya sedang belajar berdiri tegak agar tidak ada yang tahu betapa sering  punggung ini hampir patah. 

Punggungku berat sekali. Tolong peluk aku di tulang belikat.

Gabung Rabu Pagi Club

WhatsApp Community tempat kamu menemukan dirimu sendiri dan berkembang dengan support system dari Rabu Pagi

© 2024 – 2026 | Rabu Pagi Alrights reserved