Rumah Yang sakit
Septi Dwi Cahyani

Tepat pada pukul tujuh pagi, ketika sang mentari mulai menampakkan sinarnya, di sebuah tempat yang diberi nama rumah sakit.
Di tengah riuh langkah kaki, suara-suara yang bersahutan, dan doa yang terpanjat, konon katanya rumah sakit adalah tempat paling tulus untuk menumpahkan kasih sayang. Tempat manusia menggenggam tangan satu sama lain lebih erat, sebelum akhirnya tiba pada perpisahan antara raga dan jiwa yang kembali memeluk Tuhannya.
Berbagai perasaan dan emosi tinggal di setiap sudutnya.
Namun, pagi itu, ruangan ini terasa begitu sesak. Sesak hingga rasanya aku ingin pergi dan tidak pernah kembali.
Aku menarik napas panjang.
Sekali.
Dua kali.
Tetap saja dadaku terasa sesak.
Jemari tanganku saling menggenggam, lalu melepaskan, kemudian menggenggamnya lagi. Aku mencoba menenangkan diri, tetapi pikiranku justru semakin berisik.
“Bagaimana jika aku pergi? Apakah semuanya akan selesai?”
Memangnya belum selesai?
Aku terdiam.
Kamu cuma takut mengakuinya.
“Tidak.”
Jawabanku terdengar pelan. Bahkan aku sendiri tidak yakin sedang menjawab suara itu atau sedang berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Aku terus memikirkan berbagai kemungkinan. Tentang bagaimana jika. Tentang apakah jika. Tentang segala sesuatu yang mungkin terjadi setelah keputusan itu diambil.
Di dalam hati, selalu ada begitu banyak ketakutan.
Kadang aku ingin bersikap egois.
Kadang aku merasa itu salah.
Kadang aku hanya ingin berhenti memikirkan semuanya.
Aku lelah.
Sesederhana itu jawabannya.
Aku hanya lelah.
Namun, mengapa mengaku lelah saja rasanya begitu sulit?
Karena kamu selalu merasa harus kuat.
Aku menelan ludah. Tenggorokanku terasa tercekat.
Kamu selalu menjadi orang yang mengerti.
“Lalu salahkah kalau kali ini aku ingin dimengerti?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara detak jam yang terdengar semakin jelas di tengah ruangan yang sunyi. Aku menunduk. Kedua tanganku masih menggenggam erat ujung pakaian.
Aku hanya seorang gadis kecil yang berharap, di dunia yang begitu luas ini, suatu hari aku bisa bertemu dengan seseorang yang benar-benar memahamiku.
Katanya, kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi.
Namun, apa gunanya komunikasi jika tidak ada pengertian?
Apa gunanya menjelaskan berulang kali jika pada akhirnya aku tetap harus menjadi pihak yang memahami?
Selalu berada di pihak yang mengerti.
Selalu mencoba mengerti.
Selalu memaklumi.
Lalu, kapan aku boleh menjadi seseorang yang dipahami?
“Apakah tidak bisa, Tuhan?”
Suaraku hampir tidak terdengar.
“Sekali saja.”
Dadaku kembali terasa penuh.
“Berikan aku seseorang yang bisa memahami aku. Tentang segala hal. Tentang rasa sakit yang tidak selalu bisa kujelaskan. Tentang lelah yang sering kali kusembunyikan. Tentang hal-hal yang bahkan sulit untuk kupahami sendiri.”
Aku memejamkan mata.
Untuk sesaat, kedua suara itu kembali diam.
Dan dalam diam itu, aku akhirnya mengerti bahwa mungkin selama ini bukan keputusan yang sedang kucari.
Aku hanya sedang mencari seseorang yang berkata,
“Tidak apa-apa. Kali ini kamu tidak perlu mengerti siapa-siapa. Biar aku yang mengerti kamu.”
Air mataku jatuh.
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, aku tidak berusaha menahannya.
Barangkali, sekali saja aku ingin merasa egois.
Aku ingin menumpahkan segalanya tanpa rasa bersalah. Tanpa keraguan yang kembali menghantui setelahnya. Tanpa rasa sesal karena telah membiarkan emosiku keluar.
Kenapa aku harus selalu menahannya?
Kenapa setiap kali ingin menangis, aku justru sibuk meyakinkan diri bahwa aku harus baik-baik saja?
Kenapa setiap kali ingin marah, aku malah memikirkan perasaan orang lain? Tuhan…
Kali ini saja.
Biarkan aku egois.
Biarkan aku menangis.
Biarkan aku mengakui bahwa aku lelah.
Aku ingin pergi.
Pergilah.
Aku terdiam.
Bukankah itu yang selama ini kamu inginkan? Pergi tanpa harus menjelaskan apa pun. Pergi tanpa harus memikirkan perasaan siapa-siapa.
“Tapi kalau aku pergi?”
Lalu kenapa?
“Bagaimana kalau tidak ada yang mencariku?”
Suara itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban.
Dadaku terasa semakin sesak. Napasku pendek. Kedua tanganku gemetar, tetapi kali ini aku tidak menggenggamnya untuk menahan diri.
“Aku takut.”
Takut apa?
“Aku takut ternyata kepergianku tidak berarti apa-apa.”
Hening.
Kalimat itu akhirnya keluar juga. Kalimat yang selama ini bahkan tidak berani kuakui kepada diriku sendiri.
Aku tidak benar-benar ingin pergi.
Aku hanya ingin tahu apakah kepergianku akan membuat seseorang menyadari bahwa aku pernah ada.
Jadi kamu tidak ingin pergi?
Air mataku jatuh.
“Aku hanya ingin dicari.”
Suara itu kembali diam.
Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa mungkin selama ini aku tidak sedang mencari keberanian untuk meninggalkan siapa pun.
Aku sedang menunggu seseorang memberiku alasan untuk tetap tinggal. Mungkin, jika aku benar-benar pergi, akan ada seseorang yang mencariku. Seseorang yang bertanya ke mana aku pergi.
Seseorang yang menyadari bahwa aku tidak ada.
Seseorang yang akhirnya berkata bahwa mereka membutuhkanku.
Apakah mungkin?
Apakah di dunia yang begitu luas ini aku bisa bertemu dengan seseorang seperti itu?
Seseorang yang tidak hanya datang ketika aku dibutuhkan, tetapi juga tinggal ketika aku sedang tidak mampu memberikan apa-apa.
Seseorang yang tidak memintaku untuk selalu mengerti, karena untuk sekali ini, ia mau mencoba memahami.
Aku tidak tahu.
Barangkali aku hanya terlalu lelah hingga berharap pada sesuatu yang bahkan belum tentu ada.
Namun malam ini, di tengah riuh suara rumah sakit dan doa-doa yang dipanjatkan, ada satu hal yang paling ingin kudengar.
Bukan nasihat.
Bukan kalimat untuk menyuruhku bertahan.
Aku hanya ingin seseorang berkata,
“Aku tahu kamu lelah. Tidak apa-apa. Kali ini, biar aku yang menjagamu.”
Profil
Haiii! Aku Septi Dwi Cahyani.
Aku punya nama pena Caelyora, sebuah nama yang aku pilih sebagai ruang kecil untuk menuangkan cerita, perasaan, dan hal-hal yang kadang sulit aku ungkapkan secara langsung.
Aku suka menulis tentang manusia, perasaan, cinta, kehilangan, dan hal-hal sederhana yang sering kali punya cerita lebih dalam dari yang terlihat. Buatku, menulis adalah salah satu cara untuk memahami apa yang pernah aku rasakan dan mengabadikan hal-hal yang mungkin suatu hari ingin aku ingat kembali.
Kalau kamu ingin mengenal aku sedikit lebih jauh, kamu bisa berkunjung ke Instagram-ku di @septi.cahyani13. Di sana mungkin kamu akan menemukan lebih banyak tentang aku, meskipun belum tentu lebih banyak tulisanku.