Kala Basahnya Sangkala Biru
Mela Septia P.

Termenung berdiam diri memandangi kelabu
Yang dekat dengan kelam selalu ditunggu
Gemuruh berdengung bagai lantunan lagu
Basah tenang perlahan menyapa diriku
Memori lampau terputar diribuan rintik tiran
Bergenang terkenang beramai sang hujan
Petir menyambar emosi yang tersalah
Kerap dianggap teriakan sang amarah
Sebagian tak mengerti yang lainnya tak peduli
Dari teriakan tak tertahan kilat hilang kendali
Cahaya yang memanggil berjuta kali
Putus asa membantu kelabu yang telah berpasrah diri
Sangkala yang menyita perhatian mata
Berganti warnanya tanpa di tanya
Sinar mentari mewarnai kini sudah berganti
Bersembunyi dari basahnya awan tak berseri
Kadang yang dipuja tidak harus selalu sang biru
Hirup pikuk kelam juga menyapa dengan lembut
Dingin menggerogoti hingga tulang tidak selalu
Lalu gemuruh kilat nya bukan berarti tersulut
Salamku untuk si awan kelam
Untuk sentuhan hujan bagi Alam
Untuk nyanyian lewat mahluk kecil yang berdatangan
Untuk suasana dingin menyapa perlahan
Terimakasih aku ucapkan.

