, ,

Setelah Gerhana by Earlane_alysse

Setelah Gerhana

 

Earlane_alysse

 

 

Setelah Gerhana

Aku menemukan rumah di sebuah galaksi yang tidak pernah menjanjikan langit tanpa malam.
Di sana, tujuh cahaya bergerak pada jalurnya masing-masing. Tidak selalu sama terang, tidak
selalu terlihat dari tempat yang sama. Namun ketika dipandang bersama, mereka membentuk
sesuatu yang lebih besar daripada sekadar cahaya, sebuah galaksi yang membuat malam
terasa sedikit lebih luas, dan kesunyian terasa sedikit lebih mudah untuk ditinggali.

Aku pernah menjadi seseorang yang takut pada gelap.
Bukan gelap yang datang ketika matahari tenggelam, melainkan gelap yang tumbuh perlahan di
dalam diri sendiri. Gelap yang tidak terlihat dari luar, tetapi cukup untuk membuat seseorang
bertanya-tanya setiap malam:
Apakah aku cukup baik?
Apakah aku pantas dicintai?

Apakah semua yang kulakukan akan membawa aku ke suatu tempat?
Aku pernah berpikir bahwa untuk dicintai, aku harus menjadi versi terbaik dari diriku.
Harus berhasil.
Harus kuat.
Harus tahu ke mana harus pergi.

Aku pikir manusia harus seperti bintang,terus bersinar, bahkan ketika langit sedang gelap.
Sampai akhirnya aku menyadari bahwa bahkan bintang pun tidak selalu terlihat.
Ada awan yang menutupinya. Ada jarak yang membuat cahayanya tampak begitu kecil dari
tempat kita berdiri. Ada malam ketika kita menengadah dan tidak menemukan satu pun cahaya.
Namun bukan berarti bintang-bintang itu berhenti bersinar.
Mungkin manusia juga begitu.

Ada hari ketika aku merasa begitu dekat dengan diriku sendiri. Ada hari ketika aku bahkan tidak
mengenali siapa yang sedang kutemui di depan cermin.
Dan di antara hari-hari seperti itu, aku menemukan sebuah galaksi.
Bukan galaksi yang sempurna.

Di dalamnya ada mimpi yang hampir ditinggalkan, luka yang tidak selalu terlihat, kegagalan,
kesepian, ketakutan, dan perjalanan panjang untuk menemukan siapa diri kita sebenarnya.
Ada suara-suara yang tidak menyuruhku menjadi seseorang yang berbeda.

Mereka hanya mengingatkanku bahwa menjadi manusia memang berarti memiliki banyak sisi:
ada hari ketika kita berani, ada hari ketika kita takut; ada saat ketika kita merasa mampu
menaklukkan dunia, dan ada saat ketika sekadar melewati hari terasa seperti pencapaian.
Mereka tidak mengajariku bahwa hidup akan selalu baik-baik saja.
Justru sebaliknya.
Mereka menunjukkan bahwa tidak apa-apa jika hidup tidak baik-baik saja.
Bahwa aku boleh lelah.
Boleh menangis.
Boleh tersesat.
Boleh tidak tahu harus ke mana.
Tetapi setelah semua itu, masih ada satu hal yang bisa kupilih:
untuk tetap berjalan.
Pelan-pelan, aku mulai memahami sesuatu yang dulu tidak pernah kupikirkan.

Tentang gerhana.
Dulu, gerhana bagiku hanyalah hilangnya cahaya. Sesuatu yang indah tiba-tiba menjadi gelap,
seolah-olah langit kehilangan sesuatu yang seharusnya ada di sana.
Namun semakin lama aku memandangnya, semakin aku mengerti:
gerhana tidak pernah benar-benar mengambil cahaya.
Ia hanya membuat cahaya itu tidak terlihat untuk sementara.
Dan mungkin, aku juga pernah mengalami gerhana.
Ada masa ketika cahayaku tertutup oleh kegagalan, rasa takut, rasa tidak percaya diri, dan
kebiasaan membandingkan diriku dengan orang lain.

Aku mengira aku telah kehilangan diriku.
Aku mengira mungkin aku memang tidak cukup.
Padahal mungkin aku hanya sedang berada di sebuah fase yang belum selesai.
Sebab ada perbedaan antara kehilangan cahaya dan tidak mampu melihatnya.
Dan selama ini, mungkin aku hanya lupa bahwa keduanya bukan hal yang sama.
Aku belajar bahwa mencintai diri sendiri bukan berarti setiap hari bangun dan menyukai segala
sesuatu tentang diriku.

Bukan berarti aku harus selalu percaya diri.
Bukan berarti aku tidak boleh kecewa pada diriku sendiri.
Mungkin mencintai diri sendiri justru sesederhana memilih untuk tidak meninggalkan diri sendiri
ketika semuanya terasa berat.
Tetap bangun.
Tetap mencoba.
Tetap belajar.
Tetap melangkah, meskipun hanya satu langkah kecil.
Sebab tidak semua perjalanan membutuhkan kita untuk berlari.
Kadang, bertahan saja sudah merupakan bentuk keberanian.
Dan mungkin itulah yang selama ini tidak kupahami.

Aku selalu mengira keberanian berarti tidak takut.
Ternyata, keberanian bisa sesederhana tetap berjalan sambil membawa rasa takut itu
bersamaku.
Kini ketika melihat langit malam, aku tidak lagi mencari bintang yang paling terang.
Aku justru memperhatikan bagaimana setiap cahaya memiliki tempatnya sendiri.

Tidak ada bintang yang sibuk bertanya mengapa bintang lain bersinar lebih terang.
Mereka hanya ada.
Mereka menempati langitnya masing-masing.
Dan mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengukur cahayaku dengan milik orang lain sampai
lupa bahwa langit tidak pernah meminta semua bintang untuk bersinar dengan cara yang sama.
Ada yang dekat.
Ada yang jauh.
Ada yang terlihat jelas.
Ada yang harus ditunggu sampai malam benar-benar gelap untuk ditemukan.
Semuanya tetap memiliki tempat.

Begitu pula aku.
Aku tidak harus menjadi matahari.
Aku tidak harus menjadi bintang paling terang.
Aku bahkan tidak harus selalu bersinar.
Aku hanya perlu percaya bahwa ketika suatu hari cahayaku tertutup, itu bukan berarti cahayaku
telah hilang.
Gerhana akan berlalu.
Langit akan kembali terbuka.
Dan mungkin ketika cahaya itu kembali, aku tidak akan menjadi seseorang yang sepenuhnya
baru.

Aku hanya akan menjadi seseorang yang akhirnya mengerti bahwa dirinya tidak pernah harus
sempurna untuk layak dicintai.
Sekarang aku tahu, aku tidak menemukan rumah di sebuah galaksi karena ia membuat
malamku selalu terang.
Aku menemukannya karena di sana aku belajar bahwa malam juga memiliki tempatnya sendiri.

Bahwa gelap tidak selalu berarti akhir.
Bahwa jatuh tidak selalu berarti gagal.
Bahwa kehilangan arah tidak selalu berarti kita tidak akan menemukan jalan pulang.
Dan bahwa perjalanan untuk mencintai diri sendiri tidak harus dilakukan dengan sempurna.
Cukup terus berjalan.
Sebab mungkin rumah bukanlah tempat di mana kita tidak pernah mengalami gelap.
Mungkin rumah adalah tempat yang mengajarkan kita bahwa ketika gelap datang, kita tidak
harus pergi meninggalkan diri sendiri.

Sampai suatu hari, ketika aku menengadah lagi, aku tidak lagi melihat langit sebagai sesuatu
yang jauh.
Aku melihatnya sebagai pengingat.
Aku pernah berada di dalam gelap.
Aku pernah merasa kehilangan cahaya.
Aku pernah mengalami gerhana.
Namun aku masih di sini.
Dan mungkin, itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa cahayaku tidak pernah benar-benar
pergi.

Untuk satu cahaya yang pernah mengajariku melihat gerhana dengan cara yang berbeda,
terima kasih.
Mungkin kau tidak pernah tahu seberapa jauh cahayamu telah berjalan.
Tetapi di suatu tempat, di bawah langit yang sama, seseorang pernah menemukan alasan
untuk tidak menyerah pada dirinya sendiri.
Dan jika suatu hari nanti gerhana datang lagi, aku tidak akan lagi takut pada gelap.
Aku akan menunggunya berlalu.

Sebab kini aku tahu,
aku tidak harus selalu bersinar untuk tetap menjadi cahaya.
Dan kali ini,
aku ingin menjadi cahaya bagi diriku sendiri.


Tulisan lainnya