Aku Hanya Ingin Jadi Awan
Athaya Pacha
Aku Hanya Ingin Jadi Awan
Sebab menjadi bintang berarti berpisah darimu
Aku menangis di hari kelahiranmu. Kakek menggendongku pergi, memisahkanku dari Ibu.
Kala itu aku tidak mengerti bahwa Ibu sedang meregang nyawa karenamu.
Aku membentakmu ketika kau mulai berjalan. Aku kesal kau menyentuh semua barangku,
bahkan mengambil mainan favoritku. Kata Ibu, saudara harus berbagi, karena toh kita berasal
dari rahim yang sama.
Tapi ketika kau masuk ke sekolah yang sama denganku, aku dengan bangga menggandengmu
ke kelas ketika anak-anak kecil lain digandeng orang tuanya. Selama di sekolah, akulah
penjagamu. Aku akan memastikan kau belajar dengan baik, tidak lupa makan siang, dan
tentunya tidak diganggu siapapun.
Aku akan selalu mengingat pesan Ibu, “kau adalah contoh untuk adik, maka jadilah contoh
yang baik.”
Juga pesan kakek, “jadilah bintang kelas.”
Aku tak pernah menganggap itu sebagai beban. Apa yang salah dengan menjadi bintang yang
bersinar hingga menerangi sekitarnya? Bintang itu cantik, menjadi penghias malam yang
menemani kisah pengantar tidur. Dan jika aku berhasil bersanding bersama bintang lainnya,
kami menjadi rasi, dan orang bisa menentukan jalan dengan membaca kami. Bukankah itu
contoh yang baik?
Satu hal yang kulupa, kita akan lelah jika terlalu lama menatap bintang.
Aku lupa kau masih berpijak di bumi, dengan langkah kecilmu yang patah-patah menyusulku.
Aku menyadarinya ketika menemukan tulisan bengkokmu di kertas yang terselip di antara
buku tulis.
“Kenapa aku nggak kayak kakak?”
Seketika cahayaku redup.
Seketika semua pujian, hadiah, peringkat, kedudukan, piala dan segala yang kudapat terasa
kosong.
Di mana letak salahnya? Aku menuruti pesan Ibu dan kakek, bahkan Ayah yang jarang pulang.
Aku menjadi anak yang baik, tidak meninggalkanmu ketika anak-anak lain membuatmu
menangis, tidak membuat masalah di sekolah, dan sering mencetak prestasi yang dipamerkan
ke perkumpulan keluarga.
Aku… bintang. Bintang adalah setara matahari.
Maka siapapun yang terlalu dekat dengan bintang akan terbakar.
Begitu bodohnya aku berpikir kau menjauh karena kau membenciku. Rupanya, kau
melakukannya demi menyelamatkan dirimu sendiri.
Tapi, aku… masih ingin di dekatmu.
Aku ingin bergandengan tangan denganmu di taman, bertukar es krim yang kita beli karena
milikku cokelat sedang milikmu stroberi, mengusak rambutmu yang sudah tersisir rapi hanya
agar kau mengomeliku, menyembunyikan ponselmu agar kau tidak bisa bermain game seharian
dan memilih untuk bicara padaku.
Apakah mungkin bintang menjelma awan?
Dengan begitu, aku akan bisa menghalau sinar mentari yang menyilaukanmu, membawakanmu
hujan agar kau bisa bermain dan tertawa karena sekolah diliburkan, bahkan menciptakan
daratan baru ketika kau mendaki puncak gunung. Oh, aku ingat bagaimana kau membicarakan
istana langit yang kau potret ketika kau dan kawan-kawanmu pergi ke gunung.
Bahkan bila aku menghilang karena menguap atau hujan, aku akan kembali lagi. Aku akan
mengarungi ombak angkasa, lalu hawa dingin akan membentukku sebelum angin membawaku
pergi.
Kembali padamu.


