
DI UJUNG PERON LETIHMU
Popi Hikmah
Di bawah lampu peron yang mendengung redup
Pada gerbong terakhir yang menolak buru-buru
Aku menemukan matamu yang kelam, tak hidup
Bersandar pada tiang yang mulai membekas letihmu
Kemejamu sedikit kusut di bagian lengan
Matamu terpejam singkat, berperang dengan sisa tenaga
Sementara tas lusuh itu kau dekap erat di pangkuan
Andai aku bisa mendengar rencana besarmu memukul atasan itu
Decit rel melengking mulai membuatku takut
Ada rasa yang mendadak runtuh dan tumbuh bersamaan
Aku tak tahu namamu, tak tahu kemana roda besi ini akan mengantarkanmu pulang
Namun melihat bahumu yang turun beristirahat, aku ingin menjadi teduh yang kau cari
Kereta mulai menghilang dari pandanganku
Meninggalkan riuh kota yang mulai padam
Dan di antara derak rel yang konstan
Aku jatuh cinta pada lelahmu
Pada setiap hembusan napas berat yang akhirnya kau lepaskan
Selamat beristirahat
Duhai cintaku yang tak bernama
Semoga semesta mempertemukan kita di kebetulan lain

