, ,

Till We Bicker Again, Darling by Athaya Pacha

Till We Bicker Again, Darling

 

Athaya Pacha

 

Selama dua dekade aku hidup, aku selalu dibuat bertanya-tanya tentang hubungan Opa

dan Oma. I mean, look at them!

Opa adalah tipikal pensiunan PNS yang menghabiskan masa tuanya dengan menonton

 

televisi sepanjang hari, sedangkan Oma masih mengikuti kegiatan RT bersama para ibu-

ibu dan tante-tante. Oma rajin mengabariku dengan foto berlatar tempat yang

 

dikunjunginya, juga tak pernah lupa mengirim sejumlah uang untuk mahasiswi yang

mulai gila (aku). Bahkan, Oma selalu menyempatkan main game agar tidak ketinggalan

rank. Sedangkan suaminya, bisa dihitung berapa jumlah bubble chat yang dikirimnya

padaku. Dan sepertinya, beliau punya jawaban template.

Lagi apa.

Ya.

Semangat.

Aku curiga itu bot otomatis, bukannya Opaku yang hampir seumur negara.

Selain perbedaan yang cukup mencolok tentang penggunaan teknologi itu, sikap mereka

juga seperti bola karet yang dilempar. Tak terhitung berapa kali Oma mengomel,

sedangkan Opa malah cengengesan atau bahkan balik melawan, padahal beliau memang

salah. Pernah sekali, Opa berusaha bercerita padaku tentang masa mudanya, tapi

kemudian Oma memotongnya.

“Udahlah Pa. Lupa ya lupa aja. Nggak inget kan?”

Asli, aku ketakutan setengah mati kalau Oma jadi istri durhaka. Memangnya Opa nggak

sakit hati ketika bersusah payah menggali ingatannya yang—sepertinya—lumutan itu?

Tapi yang kuingat, Opa hanya menjawab sok tahu,

“Enggak kok, saya masih ingat.” Lalu mereka saling tebak-menebak kejadian di Orde Lama

hingga periode awal Orde Baru.

Kadang, Oma juga akan marah-marah kalau Opa menyalakan televisi, tapi ponselnya juga

memutar video dan ia meletakkannya di telinganya.

 

“PAPA! PILIH SALAH SATU! UDAH DIBILANG DARI KEMAREN KAN?! JUAL AJALAH TV

NYA!!”

Opa tak mau kalah, “saya dengarin kok, TV nya.”

Aku menyimak kelanjutan debat mereka sambil menyesap es kiko.

Tapi, Oma yang terlihat garang terhadap Opa itu bisa juga mengambil sisinya. Di suatu

malam liburan tahun baru, aku pulang ke rumah dua lansia itu lantaran Mami dan Papi

kencan ke luar kota. Ketika tiba waktu makan malam, aku duduk di kursi sebelah Oma.

Tahu apa yang beliau bilang?

“Eh, minggir sana. Itu kursi Opamu.”

Aku yang masih terkejut dengan perkataannya hanya melongo dengan mulut selebar

piring dihadapanku.

“Nana, minggir. Itu Opamu bentar lagi selesai mandi.”

Oma… baru saja mengusirku? Aku? Cucu kesayangannya?? Tapi, yang membuatku lebih

kaget adalah fakta bahwa beliau menjaga tempat duduk Opa. Maksudku, ada empat kursi

di sini, dan beliau mengharuskan Opa duduk di hadapannya.

Malam harinya, aku tidur dengan Oma sebagaimana biasanya aku kalau menginap di

rumah mereka. Lalu, aku iseng bertanya,

“Oma-Opa pernah saling bilang ‘I love you’ nggak sih?”

Meski gelap, aku bisa melihat matanya melotot sampai aku khawatir bakal keluar dari

tempatnya.

“Ya pernahlah!” nada jawabannya lebih terdengar seperti omelannya ketika Om, alias

anak bungsu Oma menjahiliku dulu.

“Pengen denger deh waktu Oma-Opa bilang gitu.”

Beliau berdecak. “Ngapain. Bagus kamu besok ikut Oma belanja.”

Bilangnya begitu, tapi ketika beliau mendekapku, jantungnya berdegup bertalu-talu

seperti festival Dugderan. Aku yakin, banyak lagi kejadian seperti ini. Pastinya, arwana

kesayangan Opa yang hidup di sebelah televisi menjadi saksi. Bagaimana tidak? Dia kan

tidak bisa menonton televisi karena rumahnya terletak bersebelahan dengan kotak 55

 

inci itu. Jadi alih-alih menjadi teman menonton Opa, dialah penontonnya. Aku tebak, judul

sinetronnya begini: Istri Majikanku Marah Tapi Masih Rajin Memasak Untuknya.

Lalu suatu ketika, istri majikan ikan arwana itu terbaring di brangkar rumah sakit.

Diagnosa dokter membuat Mamaku hampir pingsan: Leukimia. Penyakit itu pernah

merenggut nyawa seseorang dari keluargaku juga, jadi ketika Oma diduga memiliki

penyakit yang sama, sulit bagi kami untuk terus optimis.

Malam minggu adalah giliranku berjaga. Mama sudah pulang sejak siang karena harus

menjemput adikku pulang sekolah. Sayangnya, aku terlambat datang karena jadwal

organisasi yang padat. Lampu-lampu kota menemaniku sepanjang jalan menuju rumah

sakit. Sesampainya di depan kamar rawat inap bernomor 127 itu, mataku menangkap dua

lansia yang sedang tenggelam dalam pembicaraan serius. Jadi, aku memilih menjadi

telinga saja.

“Saya… nggak bisa. Nggak bisa kalau nggak sama kamu.” Suara Opa terdengar lemah.

Oma berdecak. “Anakmu ada tiga, semuanya punya uang. Pensiunanmu juga ngalir terus.”

“Uang nggak pernah jadi masalahnya.”

“Anakmu yang nomor dua bisa masak, nggak usah takut kelaparan.”

“Beda. Kemarin telurnya nggak ada rasanya.”

“Kok bilang ke aku, sih? Kan dia yang masak.” Suara Oma meninggi satu oktaf. “Kalo bosan

masakan dia, minta si nomor tiga bawa kamu ke restoran. Anak itu kecilnya pilih-pilih

makanan, besarnya nggak jauh beda.”

“Kamu cepat sembuh saja.” Aku tidak bisa menentukan apakah Opa betulan berdoa,

karena ia seolah menuntut.

Oma menghela nafas. “Aku juga udah capek pakai infus terus.”

Aku terus berdiam di sana, mendengarkan ocehan mereka yang sesekali berdebat. Orang

yang tidak mengerti akan menangkap hubungan mereka buruk, hampir toxic, malah. Aku

salah satu yang gagal memahaminya.

Pada akhirnya, mereka selalu mengungkapkan rasa dengan hal yang tidak terlihat

romantis.

 

Dan setelah bumi menelan Oma, itulah pertama kalinya aku melihat air mata mengaliri

pipi Opa. Ia tak berkata apapun, hanya terus menggenggam sapu tangan yang, baru

kusadari, memiliki bordir inisial nama mereka.

Beberapa waktu setelahnya, Opa sering sekali ‘menarik perhatian’ dari anak-anaknya dan

mendapatkan hadiah berupa omelan. Entah karena masalah televisi, ponsel, atau pergi

dari rumah tanpa pamit. Dan setiap omelan yang beliau dapat akan beliau lawan, seolah

beliau sengaja melakukannya. Setiap kali begitu, aku melihat lawan bicaranya sebagai

Oma.

Oma, ternyata ada rindu yang disampaikan dengan cara yang unik. Selayaknya Oma yang

menyampaikan cinta dengan cara yang hanya bisa Opa pahami.

 

Aya Pacha

Ini dia perempuan Jawa yang sok paten dan hinggap di Medan. Rupanya, betah juga dia di

 

kota asal penulis favoritnya, Ika Natassa. Maka dari itu, menulis bukan lagi urusan haha-

hihi, melainkan jalan ninjanya untuk mengerti rasa dan manusia.


Athaya Pacha Athaya Pacha
Lihat portofolio

Tulisan lainnya