Rumah Yang Lupa Cara Memeluk Penghuninya
Rofifah Hasna’ Mardhiyah Hulu
Rumah yang Lupa Cara Memeluk Penghuninya
Ada sebuah rumah yang sejak lama kutinggali, tetapi entah sejak kapan aku lupa bagaimana
cara memeluk penghuninya. Rumah itu tidak pernah benar-benar runtuh. Atapnya masih
sanggup menahan hujan, jendelanya masih membuka jalan bagi cahaya, dan pintunya masih
selalu kembali terbuka setiap kali seseorang ingin masuk. Dari luar, barangkali rumah itu
terlihat baik-baik saja.
Hanya aku yang tahu, ada beberapa sudut di dalamnya yang terlalu lama dibiarkan gelap.
Aku sering sibuk menyalakan lampu untuk orang lain.
Membiarkan mereka duduk di ruang paling hangat, memberikan selimut ketika mereka
kedinginan, menutup jendela ketika angin terlalu keras, bahkan diam-diam memperbaiki atap
mereka ketika rumah mereka mulai bocor. Aku selalu tahu bagaimana cara menjaga orang lain
agar tidak kehujanan.
Aneh, aku justru sering lupa membawa payung untuk diriku sendiri.
Mungkin manusia memang begitu. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa mencintai berarti
memberi sebanyak-banyaknya, sampai terkadang kita tidak sadar bahwa tangan kita sendiri
sudah gemetar karena terlalu lama menggenggam sesuatu yang bukan milik kita.
Aku pun begitu.
Aku terlalu sering mengorbankan isi rumah ini agar orang lain merasa nyaman di dalamnya.
Kubiarkan dinding-dindingku retak selama senyumku masih bisa membuat seseorang merasa
aman. Kubiarkan diriku kelelahan selama masih ada seseorang yang bisa bersandar. Dan ketika
malam datang, ketika semua orang telah pulang membawa hangat yang kuberikan, aku kembali
sendirian ke rumah ini. Baru kemudian aku melihat betapa berantakannya diriku sendiri.
Ada luka yang belum sempat dibersihkan. Ada tangis yang sengaja disimpan di bawah karpet.
Ada suara kecil yang berkali-kali mengetuk pintu dari dalam, tetapi terlalu malu untuk meminta
dibukakan. Suara itu adalah aku.
Lucunya, aku sering menjadi orang terakhir yang kupikirkan. Aku bisa mengucapkan terima
kasih kepada begitu banyak orang atas hal-hal kecil yang mereka lakukan untukku. Aku bisa
memeluk mereka ketika mereka merasa dunia terlalu berat. Aku bisa berkata, “Tidak apa-apa,
aku di sini.”
Tetapi ketika harus mengatakan kalimat yang sama kepada diriku sendiri, lidahku mendadak
kelu. Barangkali karena aku malu.
Bagaimana mungkin aku mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang masih sering
kusakiti?
Bagaimana mungkin aku memeluk seseorang yang berkali-kali kutinggalkan ketika keadaan
menjadi terlalu berat?
Bagaimana mungkin aku menyebut diriku sendiri kuat, sementara aku tahu betapa seringnya
aku menjadi musuh bagi tubuh dan pikiranku sendiri?
Maka selama ini, terima kasih itu hanya kusimpan. Tidak pernah benar-benar sampai ke bibir.
Ia tinggal sebagai surat yang tak pernah kukirim. Padahal, kalau boleh jujur, aku mencintai
penghuni rumah ini. Aku hanya tidak pernah belajar bagaimana cara mengatakannya. Aku
mencintai diriku dengan cara yang aneh, terlambat, terbata-bata, dan sering kali salah arah.
Aku mencintai diriku ketika aku mengingat bahwa aku masih bangun setelah malam-malam
yang terasa begitu panjang. Aku mencintai diriku ketika, meski berkali-kali ingin menyerah
pada dunia, masih ada bagian kecil dalam diriku yang memilih bertahan satu hari lagi. Aku
mencintai diriku dalam hal-hal yang bahkan tidak pernah kusadari.
Dalam napas yang masih datang tanpa diminta. Dalam langkah kecil menuju pagi. Dalam hati
yang meskipun berkali-kali patah, masih saja memiliki ruang untuk menyayangi orang lain.
Mungkin selama ini aku hanya terlalu sibuk menjadi rumah bagi semua orang, sampai lupa
bahwa aku juga seorang penghuni di dalamnya. Dan rumah yang baik seharusnya tidak hanya
menyediakan tempat berteduh. Ia juga seharusnya menjadi tempat pulang. Jadi malam ini,
untuk pertama kalinya, aku ingin mengetuk pintu rumahku sendiri.
Pelan-pelan.
Takut-takut.
Seolah aku adalah tamu yang sudah terlalu lama pergi. Aku ingin masuk. Aku ingin melihat
segala sesuatu yang selama ini kutinggalkan. Aku ingin membersihkan luka-luka yang belum
sempat sembuh, membuka jendela yang terlalu lama tertutup, dan membiarkan cahaya masuk
tanpa merasa harus memberikannya kepada siapa pun.
Mungkin aku belum pandai mencintai diriku sendiri. Mungkin besok aku masih akan lupa.
Mungkin aku masih akan terlalu keras kepada diri sendiri, masih akan mendahulukan orang
lain, masih akan merasa bahwa kebutuhanku bisa menunggu. Tetapi kali ini, setidaknya aku
tahu satu hal:
aku ingin belajar.
Belajar mengatakan tidak tanpa merasa bersalah. Belajar beristirahat tanpa merasa tidak
berguna. Belajar memberikan kepada diriku sendiri sedikit dari kelembutan yang selama ini
kuberikan kepada semua orang. Dan mungkin, suatu hari nanti, aku tidak akan lagi malu
mengucapkan terima kasih.
Terima kasih karena sudah bertahan.
Terima kasih karena masih tinggal.
Terima kasih karena, meski berkali-kali kusakiti, kau masih memberiku kesempatan untuk
belajar mencintaimu dengan benar.
Maaf karena selama ini rumah ini begitu sibuk melindungi orang lain sampai lupa memeluk
penghuninya sendiri.
Tapi malam ini, kemarilah.
Pulanglah.
Tidak perlu menjadi kuat dulu.
Tidak perlu menjadi sempurna.
Tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Untuk sekali ini, biarkan rumah ini menjadi rumah.
Dan biarkan aku menjadi seseorang yang akhirnya belajar memeluk penghuninya sendiri.


