Surat dari Aku untuk Aku
Syaevi
Hai!
Sudah lama aku tidak berbincang dengan diriku sendiri. Bagaimana kabarmu? Aku
harap kamu selalu sehat.
Sekarang, aku sedang mendapat sebuah tantangan untuk menulis karya dengan tema
cinta atau rasa malu yang sulit diungkapkan. Selama ini, aku terlalu sering berkomunikasi
dengan orang lain sampai lupa untuk berbicara dengan diriku sendiri. Namun, mungkin
sekarang waktunya aku memberikan sebuah ungkapan untuk diriku.
Bisa dibilang, kalau aku mengungkapkannya dengan suara keras, mungkin orang-orang
akan menganggapku gila. Jadi, aku memilih untuk menuliskannya. Setidaknya, melalui tulisan
ini, aku bisa berbicara kepadamu tanpa merasa aneh.
Aku selalu bangga dengan setiap langkah yang sudah kamu lalui. Padahal, ada begitu
banyak rintangan, ketakutan, dan kecemasan yang harus kamu hadapi. Bahkan, terkadang
kamu harus berusaha keras untuk menjaga pikiranmu agar tetap jernih dan positif.
Aku percaya pada rasa penasaranmu untuk terus berkembang. Kamu mungkin punya
banyak kekurangan, tetapi jangan lupa bahwa kamu juga punya kelebihan. Tidak apa-apa kalau
hari ini kamu belum menjadi seseorang yang kamu inginkan. Bukankah hidup memang tentang
terus belajar menjadi lebih baik?
Jadi, tak perlu terlalu khawatir dengan omongan orang lain. Tak perlu mengambil
semua tanggung jawab yang sebenarnya bukan milikmu. Biarkan mereka berpikir sesuka
mereka. Tugasmu adalah belajar mengenali dirimu sendiri, merefleksikan setiap keputusan,
setiap langkah, dan setiap hal yang telah kamu lalui.
Jangan lupakan salat lima waktu.
Aku tahu, terkadang kamu masih bolong. Namun, jangan pernah merasa terlalu jauh
untuk kembali kepada Allah, sosok yang menciptakanmu. Kembalilah, lagi dan lagi.
Dan satu lagi, jangan lupa untuk terus berbakti kepada orang tua, ya?
Mereka juga manusia. Mereka pun sedang menjalani hidup untuk pertama kalinya
sebagai orang tua. Mungkin mereka tidak selalu tahu bagaimana harus bersikap, sama seperti
kamu yang juga masih belajar bagaimana menjadi dirimu sendiri.
Jadi, untuk sekarang, fokuslah pada dirimu. Teruslah mencoba menjadi lebih baik,
bukan untuk memenuhi ekspektasi semua orang, tetapi karena kamu ingin bertumbuh.
Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini.
Aku hebat sekali.
Kalau aku benar-benar menyayangi diriku, maka aku juga harus belajar merawatku.
Menjaga tubuhku, mengembangkan potensiku, membuka pikiranku agar lebih luas, serta
memperbaiki pola tidur dan makanku.
Aku tidak harus langsung menjadi sempurna.
Aku hanya perlu terus pulang kepada diriku sendiri.
Dan ketika suatu hari nanti aku kembali sibuk berbicara dengan banyak orang sampai lupa
mendengarkan diriku sendiri, semoga aku ingat bahwa pernah ada surat ini.
Surat yang kutulis bukan untuk orang lain. Melainkan untuk seseorang yang selama ini paling
sering kutinggalkan:
Diriku sendiri.
Good night, myself.


