, ,

Tentang Rasa yang Tak Terucap by Almasyifa Ge

Tentang Rasa yang Tak Terucap

 

Almasyifa Ge

 

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para siswa berbondong-bondong keluar kelas dengan

penuh semangat. Ada yang berlari menuju gerbang sekolah. Ada yang nongkrong di kantin terlebih

dulu. Ada pula yang langsung bermain bola di lapangan. Di antara mereka, Arka berjalan menyusuri

koridor dengan langkah gontai. Kepalanya tertunduk dan kedua bahunya merosot.

Saat istirahat, ia tidak sengaja melihat Ayu sedang tertawa bersama Raka, sang ketua OSIS.

Arka yang tadinya ingin menemui gadis itu mengurungkan niatnya. Sekotak cokelat yang tadinya

ingin ia berikan kepada Ayu berakhir di tempat sampah.

Ayu merupakan gadis yang populer di sekolahnya. Selain karena parasnya yang menawan, ia

pandai bermain musik dan selalu menjadi juara kelas. Hampir semua siswa lelaki di sekolah ini ingin

menjadi kekasih Ayu. Arka salah satunya. Sudah lama Arka menyimpan rasa pada gadis itu. Namun,

ia tak cukup berani untuk mendekatinya.

TIN! TIN! Suara klakson mobil dari kejauhan membuat Arka tersadar dari lamunannya.

Bergegas ia menghampiri mobil itu dan masuk ke dalamnya.

“Ibu ngapain klakson-klakson, sih? Kan malu dilihat sama yang lain!” gerutu Arka pada Ibu.

“Ya abis kamu dipanggil dari tadi enggak nyaut-nyaut. Ya udah akhirnya Ibu klakson deh,”

ucap Aira seraya menatap putra sulungnya melalui spion depan. Sementara Arka hanya mendengus

kesal.

Perjalanan pulang siang itu begitu sunyi. Baik Arka maupun Aira sama-sama tidak bersuara.

Setibanya di rumah, Arka langsung melengos menuju kamarnya tanpa mengucap salam.

“Kenapa dia?” tanya Gian pada istrinya. Aira pun menceritakan apa yang terjadi kepada Gian.

“Kayaknya, dia lagi ada masalah, deh. Tadi pas keluar dari sekolah mukanya lesu gitu,”

pungkas Aira. Raut wajahnya tampak khawatir. Sementara Gian hanya menatap pintu kamar Arka

yang tertutup.

“Coba kamu ngomong sama dia deh, Yang,” cetus Aira tiba-tiba.

Gian mengernyitkan dahinya. “Loh, kok aku? Kan, biasanya kamu yang jadi tempat curhat

dia.”

“Ya enggak papalah sekali-kali. Lagian kamu jarang ngobrol sama dia, kan?”

Gian terdiam mendengar ucapan istrinya. Ia sebenarnya ingin lebih sering berbincang

dengan Arka, tapi terkadang ia tidak tahu harus memulai dari mana.

 

Setelah berpikir sejenak, Gian akhirnya melangkahkan kakinya menuju kamar Arka. Sebelum

mengetuk pintu, Gian menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Entah mengapa, berbicara

dengan remaja seusia Arka lebih menakutkan dibanding berbicara dengan istrinya sendiri.

Tok tok tok!

“Ada apa, Yah?” tanya Arka begitu ia membuka pintu.

“Ehm, Ayah mau ngobrol sebentar boleh?” Arka terkejut mendengar ucapan ayahnya.

Namun, akhirnya ia mempersilakan Ayah masuk ke dalam kamarnya.

Gian memasuki kamar Arka perlahan. Rasanya sudah lama ia tidak memasuki kamar ini.

Meski begitu, tidak banyak yang berubah dari kamar itu sejak terakhir kali ia masuk. Deretan buku

berbaris rapi di rak buku yang dibeli Gian 10 tahun silam. Lalu, tatapan Gian tertuju pada sebuah

komik yang tergeletak di atas meja belajar.

“Wah, kamu masih punya komik ini, ternyata?” Gian terkekeh seraya membolak-balikkan

halaman komik itu. Itu adalah buku yang pertama kali Arka beli ketika duduk di bangku Sekolah

Dasar. Komik itu yang mengantarkan Arka pada hobi membacanya sampai sekarang.

“Mau ngobrol apa, Yah? Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Arka.

Gian terdiam sejenak. Setelah diingat-ingat, selama ini ia hanya berbicara dengan Arka

ketika ada sesuatu yang penting.

“Enggak, kok. Ayah cuma pengen tahu kabarmu aja. Rasanya akhir-akhir ini, kita jarang

ngobrol, ya.” Gian tersenyum tipis. “Padahal, dulu kamu ke mana-mana selalu sama Ayah, loh. Kamu

bahkan sering menangis kalau Ayah tinggal ke luar kota.”

“Kamu lagi ada masalah, ya? Tadi Ibu cerita, katanya kamu dipanggil-panggil enggak nyaut.

Sampai akhirnya Ibu klakson,” ucap Gian hati-hati.

“Jadi, Ayah ke sini gara-gara disuruh Ibu, ya?” simpul Arka yang membuat Gian panik.

“Enggak juga, sih. Ayah emang pengen ngobrol sama kamu,” elak Gian sembari berusaha

menyembunyikan kepanikannya.

Arka yang melihat gerak-gerik Ayah hanya menggelengkan kepala.

“Yah,” panggil Arka pelan.

Gian menoleh. “Ya?”

“Dulu gimana cara Ayah confess ke Ibu?”

Gian mengernyitkan dahi. “Confess tuh apa, Ka? Merk sepatu?”

Mendengar itu, Arka tertawa terbahak-bahak. “Itu converse, Yah. Confess tuh maksudnya

menyatakan perasaan.”

“Ooh.. Hm, dulu Ayah enggak melakukan itu, sih.”

“Loh, terus gimana kalian bisa pacaran dan menikah?”

 

Gian tersenyum seraya mengingat masa lalunya dengan Aira. “Dulu, Ibumu tuh cewek yang

cukup populer di sekolah. Banyak orang yang ngejar Ibu dan minta Ibu jadi pacarnya. Tapi semua

cowok ditolak. Katanya sih, Ibu pengen fokus belajar aja.”

Arka terkejut mendengar ucapan Ayah. Ia baru tahu kalau ibunya merupakan gadis populer

di sekolah.

“Terus gimana cara Ayah meluluhkan hati Ibu?” tanya Arka penasaran.

“Kamu masih ingat Om Irfan, kan?” Arka mengangguk. Om Irfan merupakan sahabat Ayah

sejak SMA.

“Dulu, Om Irfan tuh naksir sama Tante Gita yang merupakan sahabat ibumu. Terus, karena

Om Irfan takut Tante Gita enggak nyaman kalau mereka cuma pergi berdua, akhirnya dia ajak Ayah.

Eh, ternyata Tante Gita juga ajak Ibumu waktu itu. Nah, sejak itu, kami berempat jadi sering

nongkrong bareng.

“Tiga bulan kemudian, Om Irfan dan Tante Gita akhirnya pacaran. Sementara Ayah dan Ibu

tetap berteman. Waktu itu, Ayah belum berani menyatakan perasaan Ayah. Apalagi, Ayah cuma

anak lelaki biasa yang enggak punya banyak prestasi. Pencapaian terbesar Ayah paling cuma juara

lomba makan kerupuk pas Agustusan. Itu pun pesertanya cuma tiga orang.” Arka tertawa geli

mendengar cerita ayahnya.

“Tapi, selain itu, Ayah merasa belum cukup baik untuk jadi pendamping ibumu. Apalagi, saat

itu Ayah masih SMA dan belum punya penghasilan sendiri. Ayah juga masih belum tahu apa yang

bakal Ayah lakukan setelah lulus. Jadi, Ayah memutuskan untuk memendam perasaan Ayah waktu

itu.

“Sayangnya, setelah kami lulus, Ayah dengar kabar kalau Ibu sudah punya pacar. Di situ Ayah

sedih dan menyesal karena Ayah enggak sempat mengungkapkan perasaan Ayah. Sejak itu, Ayah

mulai melupakan Ibu dan fokus kuliah sambil kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.”

Arka tertegun ketika mendengar bagian itu. Ia tak menyangka kalau ayahnya pernah melalui

masa-masa sulit. Seumur hidupnya, Arka tidak pernah melihat Ayah kesulitan. Ayah selalu

tersenyum dan tidak pernah mengeluh. Arka curiga, jangan-jangan, selama ini Ayah selalu

menyimpan semuanya sendiri.

“Ayah kira, kisah Ayah dan Ibu berakhir di sana. Tapi ternyata, takdir berkata lain.” Gian

tersenyum tipis. Masih tersimpan jelas di benaknya pertemuan pertama dengan Aira setelah sekian

lama.

Malam itu, hujan turun dengan deras. Gian melajukan motornya dengan kecepatan sedang

ketika matanya menangkap seorang perempuan yang tampak kebingungan di depan mobil. Gian pun

memelankan laju motornya dan menghampiri perempuan itu.

 

“Mobilnya kenapa, Mbak?” tanya Gian dengan kencang. Takut suaranya tenggelam di antara

rintik hujan.

“Enggak tahu nih, Mas. Tiba-tiba enggak mau nyala,” ucap perempuan itu. Tatapannya masih

tertuju pada kap mobil yang terbuka.

“Mbak udah telepon montir?” tanya Gian kemudian.

“Udah, Mas. Cuma katanya butuh waktu …” Ucapan perempuan itu terhenti. “Eh, Gian?”

Gian terpaku menatap perempuan bermata bulat itu. Suara rintik hujan yang deras tiba-tiba

menghilang begitu saja dari telinganya.

“GIAN!”

“Eh, sorry. Kenapa, Ra?”

“Kita neduh dulu, yuk. Montirnya masih lama kok,” ucap Aira seraya berlari menghampiri

Gian. Tanpa aba-aba, perempuan itu sudah duduk di jok belakang motor Gian.

Meski terkejut, Gian akhirnya melajukan motornya menuju warung kopi terdekat.

“Kamu apa kabar?” tanya Aira setelah mereka tiba di warung kopi.

“Aku baik. Kamu gimana?”

Aira mengangguk pelan. “Yah, seperti kelihatannya.”

“Kamu ngapain malam-malam sendirian?” tanya Gian kemudian.

“Tadi aku habis ketemu teman di dekat sini.”

Tak lama kemudian, seorang lelaki datang membawakan pesanan mereka. Segelas kopi susu

untuk Gian dan segelas susu cokelat hangat untuk Aira. Mereka pun menikmati minuman mereka

dalam diam seraya memandangi hujan yang turun.

“Hm, Ra, aku boleh nanya sesuatu?” Gian memecah keheningan di antara mereka.

“Boleh. Tanya aja.”

“Kamu … masih sama Dio?” tanya Gian hati-hati.

Aira tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Enggak, udah lama putus.”

“Kalau boleh tahu kenapa kalian putus?”

Aira tampak berpikir sejenak.

“Eh, kalau enggak mau jawab, enggak papa, ya,” tambah Gian buru-buru.

“Haha.. Enggaklah, santai.” Aira menatap lurus ke depan. “Sebenarnya enggak ada alasan

spesifik, sih. Mungkin karena di awal kami terlalu menggebu-gebu kali, ya. Waktu itu, kami hampir

ketemu setiap hari dan Dio juga sering kasih aku hadiah. Rasanya, waktu itu kami benar-benar

enggak bisa jauh satu sama lain.

 

“Tapi, mungkin karena teralu terlalu terbawa suasana di awal, lama-lama perasaan kami

mulai luntur begitu aja. Apalagi, waktu itu aku cukup sibuk kuliah dan ikut organisasi. Jadi, kami

semakin jarang menghabiskan waktu bersama. Mungkin, dari situlah kami perlahan mulai menjauh.”

Gian mengangguk-anggukkan kepala. Dalam hati, ia merasa lega karena Aira masih sendiri.

Sejujurnya, Gian belum benar-benar melupakan Aira. Sebanyak apapun kesibukan yang ia jalani,

 

perasaannya kepada Aira tak hilang begitu saja. Jika diberi kesempatan kedua, Gian tak akan menyia-

nyiakannya. Mungkin, inilah saat bagi Gian untuk menyatakan perasaannya.

 

“Kayaknya aku enggak cocok buat cinta-cintaan, deh. Aku merasa belum siap untuk

membagi kehidupanku dengan orang lain. Lagian, ngurus diri sendiri aja susah, ini malah disuruh

ngurus orang lain,” celetuk Aira yang membuat Gian terpaku.

“Jadi, Ayah enggak jadi confess waktu itu?” tanya Arka.

Gian menggeleng. “Lagian, kalau Ayah tetap confess, pasti Ayah ditolak, Ka.”

Arka terkekeh. “Iya juga, sih.”

“Jadi, mau lanjut enggak, nih?” tanya Gian.

Arka mengangguk penuh antusias. Gian pun melanjutkan ceritanya.

Sejak pertemuan malam itu, Gian dan Aira saling bertukar pesan. Jika keduanya sedang

senggang, mereka menyempatkan bertemu. Mereka membicarakan banyak hal, masa-masa SMA

yang indah, kenangan di waktu kecil sampai mimpi-mimpi yang tak pernah mereka ceritakan pada

siapapun.

Seiring berjalannya waktu, Gian menyadari bahwa perasaannya pada Aira semakin besar.

Sempat terpikir olehnya untuk mengatakan yang sebenarnya pada Aira. Namun, ia takut

perasaannya ini malah membuat Aira menjauh darinya. Hingga kemudian, Aira mengatakan sesuatu

yang tak pernah Gian duga.

“Gi, gimana kalau kita pacaran?”

“Eh, bentar bentar! Jadi, akhirnya yang ngajak pacaran tuh Ibu?” seru Arka di tengah-tengah

cerita Ayah.

Gian tertawa kecil dan mengangguk. “Eh, tapi kenapa kamu tiba-tiba pengen tahu soal ini,

Ka? Kamu lagi dekat sama cewek, ya?” tanya Gian yang membuat Arka terkejut.

“Enggak, aku cuma penasaran aja, kok.”

“Ah, yang bener?”

Arka terdiam sejenak. Selama ini, Arka selalu menceritakan masalahnya kepada Ibu. Namun,

setelah mendengar cerita Ayah, Arka merasa bisa mendapat sudut pandang yang berbeda. Setelah

menimbang-nimbang, akhirnya Arka menceritakan apa yang ia alami hari itu.

 

“Jadi, sebenarnya alasan kamu enggak berani deketin Ayu tuh karena takut ditolak atau

karena kamu merasa kalah saing sama Reno?” tanya Gian setelah mendengar cerita putranya.

“Raka, Yah bukan Reno. Tapi bukannya dua-duanya sama aja, ya?”

“Ohya maaf Ayah lupa.” Gian tergelak, lalu mimik wajahnya kembali serius. “Beda, dong.

Kalau yang pertama berarti kamu enggak siap dengan penolakan. Kalau yang kedua berarti kamu

enggak percaya dengan dirimu sendiri.”

Arka tertegun mendengar penjelasan ayahnya. Ia sendiri tidak tahu alasan ia begitu takut

mendekati Ayu. Apa benar karena ia takut ditolak? Atau jangan-jangan, ia tidak percaya dengan

dirinya sendiri?

Melihat Arka yang tampak kebingungan, Gian kembali melontarkan pertanyaan. “Sekarang

gini, deh. Kira-kira dalam lima atau sepuluh tahun ke depan, mana yang paling kamu sesali?

Menyatakan perasaanmu lalu ditolak atau enggak pernah menyatakan perasaanmu sama sekali?”

Arka tampak berpikir sejenak. “Enggak pernah menyatakan perasaan sama sekali.”

“Nah, berarti kamu tahu kan, apa yang perlu kamu lakukan sekarang?”

Arka menatap ayahnya dan tersenyum.

“Ya udah istirahat, gih. Ayah mau bantu Ibu dulu,” ucap Gian seraya bangkit dari duduknya.

“Yah,” panggil Arka.

Gian menoleh.

“Makasih ya,” ucap Arka tanpa berani menatap mata ayahnya.

 

Gian tersenyum kecil. Lalu ia menghampiri Arka dan menepuk bahunya lembut. “Sama-

sama, Nak. Kalau ada apa-apa, jangan ragu cerita ke Ayah, ya.”

 

 


Tulisan lainnya