Penghujung Hidup Si Bakir Tua by Muhammad Raza Pahlawan

Penghujung Hidup Si Bakir Tua

Muhammad Raza Pahlawan

 

Bakir tua yang telah sakit-sakitan terbaring lemah di kamarnya. Bertahun-tahun telah dihabiskannya untuk menggemakan suara rakyat kecil. Namun, tubuhnya ternyata tak selalu sekuat tekadnya. Usia tua telah merenggut sebagian besar dari tenaganya. Ia tak mampu lagi berdiri, berjalan ke barisan-barisan orang berdemo atau ruang-ruang sidang tempat ia gemar sekali mencaci orang. Perjalanannya, tampaknya, telah sampai pada penghujung. 

Laila, anak perempuannya yang paling belia, tengah tertidur di kursi di sebelahnya. Tanpanya, yang ada hanya keheningan, suatu kenirsuaraan yang berbahaya. Sebab, suara-suara datang dari arah yang lain. Entah dari masa yang lampau atau sesuatu yang berada di luar waktu. 

“Mengapa kita tak kunjung sejahtera, Bakir?” tiba-tiba sebuah suara bertanya di dalam isi kepalanya. 

“Sudah berapa puluh tahun negeri ini merdeka, Bakir?” pertanyaan lain menyusul. “Adakah yang salah dengan kita, Bakir?” pertanyaan makin susul-menyusul. 

“Apakah benar kata Gubernur Jenderal Belanda itu, bahwa kita belum siap jadi apa-apa. Kita masih tak pandai memimpin, tak fasih mengelola sesuatu. Maukah kita mengakui kebodohan kita sendiri? Sama dengan kebodohan para pendahulu kita?” 

Bakir menjawab, “Bukan begitu, jika kita mengiyakan kata-kata Gubernur Jenderal itu, artinya kita tak akan merdeka. Mau sampai kapan? Toh, mereka juga tak ada niatan menjadikan kita manusia-manusia yang mampu mengurus dirinya sendiri. Tidak. Kita harus memperjuangkannya sendiri.” 

“Masih belum sejahtera juga.” 

“Semua butuh proses. Semua butuh waktu.” 

“Tak ada yang berjalan, Bakir. Tapi detik tetap berlalu.” 

“Hanya karena perkembangannya lambat, bukan artinya tak ada.” 

“Bicaralah begitu pada orang-orang yang takut esok hari sakit TBC-nya kambuh gara-gara kelamaan kerja di pabrik. Bicaralah pada mereka yang takut dirinya dijual ke luar negeri. Berilah pesan itu kepada orang-orang yang puluhan tahun jadi guru dan hidupnya masih juga melarat. Sampaikan itu kepada mereka yang ditindas.” 

“Kita harus melihat ini dari ukuran jangka yang panjang.” 

“Orang miskin hanya tahu hari ini dan beberapa jam ke depan. Rasa lapar tak mengenal tahun-tahun yang panjang.”

“Begini, Sukarno kan juga bilang, bahwa kemerdekaan itu baru jembatan. Kesejahteraan itu kan bukan sulap. Para anggota pergerakan dulu bukan ahli sihir pula. Mereka tak bisa simsalabim dan tiba-tiba beras murah atau lauk-pauk dekat sekali dengan rengkuhan tangan. Jadi memang ini semua perlu usaha terus-menerus.” 

“Semua orang sudah berusaha terus-menerus tapi masih juga zaman yang cerah itu tak kunjung tiba.” 

“Kita tak menunggu datangnya sesuatu seolah ia datang sebagai nubuat. Kita membangun zaman yang baru.” 

“Lalu bagaimana dengan sekarang?” 

“Masyarakat kita masih terpecah-belah. Orang-orang kaya belajar mengasah taring dan orang miskin belajar cara menipu dirinya sendiri. Semua karena kita belum menyadari jati diri kita sendiri.” 

“Bagaimana orang-orang mengetahui jati diri?” 

“Dengan menengok kembali hatinya dan berbuat segala kebajikan yang membantu sesama.” 

“Bagaimana dengan orang-orang yang tak ingin dibantu, Bakir? Orang-orang yang memutuskan untuk ugal-ugalan; yang diam; yang menyangka dirinya sudah di jalan yang benar.” 

“Biarlah itu.” 

“Bagaimana bila kau hanya menyangka dirimu benar? Bagaimana bila sebenarnya Gubernur Jenderal itu yang benar?” 

“Siapa yang tahu? Tak ada yang tahu. Pada titik ini, aku berpikir bahwa kebenaran pandanganku itu sejauh bisa diperjuangkan.” 

“Dan kau masih salah menghitung-hitung, sebab kau tak berhasil mendirikan apa-apa dari zaman yang baru itu. 

“Waktu tak menyimpulkan apa-apa dan hidup adalah pertanyaan yang terus berlangsung dan bertambah.” 

“Seberapa banyak orang yang telah terselamatkan dari usahamu?” 

Bakir terdiam. Ia merasa tubuhnya makin berat. Di langit-langit kamarnya, seolah langit mendung perlahan datang menutup. Apakah ini akhirnya? 

Ingatannya seperti menariknya ke masa lampau, masa-masa di mana ia pergi dari kampung ke kampung untuk mengadvokasi mereka yang hendak digusur; melakukan penyuluhan terkait masalah hak asasi; duduk di ruang-ruang ber-AC hanya untuk mendebat seorang

pejabat; mendengarkan cerita seorang office boy yang dituntut bekerja lebih dari sepuluh jam sehari; memandang lamat-lamat kepada korban intimidasi seorang pengusaha yang tak tersentuh. 

Semua dilakukannya, lantas apa? 

Lalu dengan suara yang lirih, ia bertanya balik kepada suara itu. “Pernahkah kau bayangkan, Cokroaminoto; Cipto Mangunkusumo; atau Raden Ajeng Kartini, di akhir hidupnya berpikir bahwa diri mereka telah gagal lantaran belum sempat melihat bangsanya bebas dari belenggu penindasan?” 

Suara itu tak menjawab. Barangkali karena tak bisa menjawab atau memang ia sengaja membiarkan kekosongan yang membalas pertanyaannya. 

Kemudian, ia seperti mendengar suaranya sendiri. “Siapa yang tahu? Tak ada yang tahu. Pada titik ini, aku berpikir bahwa kebenaran pandanganku itu sejauh bisa diperjuangkan”, “Dengan menengok kembali hatinya dan berbuat segala kebajikan yang membantu sesama”, “Kita tak menunggu datangnya sesuatu seolah ia datang sebagai nubuat. Kita membangun zaman yang baru”. 

Semua kata-kata yang sebelumnya ia katakan, seakan kian mengabur. Ia rasa dirinya makin jauh dari kata-katanya. 

“Benarkah aku yang mengatakan itu?” 

Untuk beberapa saat ia merasa seperti mengarang sejarahnya sendiri, riwayat hidupnya sendiri. Semua kata-kata itu tak meyakinkan lagi, dan ia harap bisa dihapus angin. Namun barangkali hidup memang kejam bermain-main dengan isi kepalanya. 

Matanya kini memberat. Pelupuk matanya tak lagi mampu menangkap langit-langit. 

Tepat sebelum matanya tertutup, sebuah suara, lain baik dari dirinya maupun suara sekumpulan pertanyaan sebelumnya, tiba di telinganya. Ia katakan, 

“Tak ada yang sia-sia.” 

Entah apakah Bakir meninggal atau tidak dalam keadaan tenang.

Gabung Rabu Pagi Club

WhatsApp Community tempat kamu menemukan dirimu sendiri dan berkembang dengan support system dari Rabu Pagi

© 2024 – 2026 | Rabu Pagi Alrights reserved