Makuku by Muhammad Raza Pahlawan

Makuku

Muhammad Raza Pahlawan

 

 

 

“Apakah Adrian menceritakan sesuatu sebelum ia meninggal?” Suara itu lembut dan sendu. Kerut keningnya yang resah membebani pundakku setelah pemakaman usai.

Alih-alih menjawab sesuatu, aku malah menangis. Tangan ibunda kekasihku itu memeluk tubuhku pelan. Barangkali air mata kami telah bersatu, bercampur dalam kedukaan. Apa yang harus kukatakan kepada Ibu Adrian? Bagaimana menjelaskannya?

Aku menggelengkan kepala. Aku tak tahu harus apa selain menggeleng, berpura-pura tak tahu. Barangkali Adrian terganggu kejiwaannya; mungkin ia terjebak dalam delirium yang panjang dan tak kunjung terbangun; barangkali ia kesurupan. Ibunya tak akan percaya ceritanya. Tak akan ada yang percaya.

Setelah hari itu, aku pulang menyimpan rahasia. Akan tetapi, makin kusimpan kisah ini, kurasakan akalku juga meredup. Aku jadi mudah sakit-sakitan, gampang bermimpi buruk, dan selalu takut melihat pohon.

Jadi aku menimbang-nimbang, pada akhirnya aku harus menuliskannya. Aku harus memuntahkan segala kemuakan ini, frustrasi yang ditakdirkan oleh tangan-tangan gaib kosmik, bahkan mungkin jejak-jejak okultisme yang purba dan belum sempat dicari tahu.

Sekitar tiga pekan yang lalu, Adrian dikirim pulang dari pulau tempatnya bekerja, sebuah pulau kecil di perairan Pasifik. Ia direkrut oleh sebuah perusahaan tambang untuk membabat hutan.

 

Ia sampai di rumah dengan bantuan empat orang. Keadaannya sudah begitu kacau. Kesadarannya timbul-tenggelam. Kadang, ia terlihat tampak baik-baik saja, tetapi pada momen berikutnya ia seperti orang mengigau, menatap pohon sambil tertawa-tawa.

Lalu kesehatannya menurun drastis, sampai-sampai kutemukan ia pingsan di ruang tengah. Saat itu, aku segera membawanya ke rumah sakit. Ia demam tinggi, dan entah apa lagi penyakit yang menjangkiti.

Di rumah sakit, ia koma selama seminggu. Aku dan keluarganya bergantian menjaganya dari hari ke hari. Lalu, sampailah pada suatu siang, di mana Adrian siuman. Ia seperti terbangun dengan isi pikiran yang benar-benar jernih.

 

 

Aku bertanya-tanya apakah memang kesehatannya telah pulih kembali? Dengan gelisah, tanpa diduga, ia mendesakku mendengarkan ceritanya. Cerita aneh, lebih aneh lagi karena diceritakan olehnya dengan nada yang serius. Kami telah menjadi pasangan yang bersama-sama nyaris sepuluh tahun dan aku tahu betul bahwa cerita supranatural sama sekali jauh dari kepribadiannya.

Akan tetapi itulah yang terjadi, ia membicarakan soal orang-orang yang hilang, seorang wanita yang memperingatkan semua orang untuk jangan menebang pohon di daerah tertentu, dan darah yang mengalir di tanah.

Bahkan, Adrian memintaku mencarikan buku catatannya sebagai bukti. Ia tulis beberapa cerita yang ia dapat dan peristiwa yang dialaminya. Aku menyimak saja, berharap itu membantunya sembuh.

Namun, tidak. Kesehatannya menurun lagi. Mendadak Adrian tertawa-tawa lagi. Tawa yang asing dan kosong, seolah itu hanya sekumpulan suara tanpa emosi yang jelas.

Beberapa hari dipenuhi igauan. Adrian meninggal dunia. Barangkali sebaiknya memang begitu, sebab ia telah menderita teramat sangat. Dunia tampak tak ingin merangkulnya lagi.

Kuharap, tulisan ini bisa meringankan kengerian yang kami tanggung bersama. Meski semua terdengar tak masuk akal, dan aku hanya menunda-nunda orang untuk tidak percaya.

***

 

Setelah kapal yang mengangkut tim pembuka lahan itu sampai di pelabuhan kala menjelang sore, mereka berbondong-bondong turun dan berjalan menuju ke mess sementara yang telah disiapkan. Hanya kesunyian yang menyambut mereka. Tak banyak orang yang bertugas di tepi laut itu.

Dari kejauhan, Adrian melihat seseorang tengah berdiri di depan mess. Semakin dekat, semakin jelas rupanya. Ia adalah seorang pemuda yang kuyu. Wajahnya pucat, kantung matanya yang gelap membuat mengundang perasaan iba, dan badannya agak bungkuk. Vitalitas pemuda itu tampak nyaris lenyap seutuhnya. Tatkala rombongan itu sudah berada di hadapannya, ia menyambut para pendatang itu dengan semacam keramahan yang seadanya saja dan agak dibuat-buat.

Ia adalah seorang asisten lapangan bernama Timothy. Di depan barisan itu, ia menjelaskan sedikit tentang apa yang akan para pekerja dapatkan di dalam mess itu dan peraturan apa yang perlu dipatuhi. “Aku berharap kalian bisa sedikit merasa nyaman di mess ini.” ujarnya dengan senyum tipis yang lebih mengesankan sebuah kekhawatiran sebagai bagian penutup.

 

 

Pada sebuah kesempatan nyaris tengah malam, karena belum nyaman untuk tertidur, Adrian bangkit dari matrasnya dan pergi merokok di belakang mess. Ia duduk dan menyulut koreknya. Tatkala api menyala itu ia baru sadar beberapa meter di sebelahnya ada juga orang yang sedang merokok.

Ia menengok dan menganggukkan kepala kepada orang itu. Kawannya dalam gelap itu membalas dengan mengangkat rokoknya. Orang itu adalah Timothy.

“Belum tidur, Pak?” tanya Adrian canggung, tanpa menghadap ke arah lawan bicara. “Sedang agak sulit.” jawabnya lirih.

Adrian menengok sedikit, mencoba menunjukkan perhatian lebih. “Pusing, ya, dengan proyek ini?”

Ada jeda yang terjadi sebelum Timothy menjawab pertanyaan itu. Alih-alih memberi jawaban yang memuaskan, ia malah bilang agar Adrian berhati-hati dan banyak berdoa.

“Ke mana orang-orang dari tim sebelumnya? Mengapa messnya sepi semua?” Jeda lagi. “Mereka… pulang lebih awal.”

“Pulang?”

Timothy tak merespon lagi. Ia bangun dan pergi begitu saja, meninggalkan Adrian dengan perasaan sesal barangkali telah memberikan pertanyaan yang salah.

Barulah dari seorang juru masak yang banyak bicara di kantin, Adrian mengetahui sedikit kepingan peristiwa yang telah terjadi. Juru masak itu menyarankan tiap-tiap orang dari para pekerja untuk mengguratkan doa-doa pada pintu kamarnya supaya menolak kuasa gaib yang jahat. Sebab, konon, para pekerja di dalam tim sebelumnya hilang secara mendadak karena diculik oleh para penunggu hutan sekitar tiga bulan yang lalu.

Pihak perusahaan tentu menyanggah, bagi mereka itu pernyataan konyol. Sebagai gantinya, mereka hanya bilang bahwa para pekerja sebelumnya banyak yang kabur meninggalkan tanggung jawabnya. Namun, kenapa? Kabur ke mana? Lewat mana? Ada banyak pertanyaan yang bisa diungkit Adrian.

Mereka punya waktu satu hari penuh untuk beristirahat, tapi Adrian lebih tertarik menggali lebih lanjut tentang apa yang terjadi. Maka pada malam harinya, ia mendatangi si juru masak yang tengah duduk-duduk di teras messnya dengan niat menelusuri.

Juru masak itu adalah pria berbadan kurus, mengenakan satu setel pakaian basket berwarna biru dari tim yang entah dari mana asalnya. Rambutnya hitam keriting berminyak, dan kulitnya kecoklatan sedikit kusam.

Adrian berjalan mendekat dengan kedua tangan yang berlindung di dalam saku jaket. Pada jarak pandang dua ratus meter, si juru masak menengok ke arahnya dan melambaikan tangan.

“Aku sedang mencari kawan merokok.” ucap Adrian sambil tersenyum lebar. “Boleh aku ikut duduk di teras ini? Kawan-kawanku sudah tertidur.” Ia mengeluarkan kotak rokok dan korek api dari dua kantung celananya.

 

Juru masak itu mempersilakan duduk di sebelahnya. Keduanya saling berkenalan, dan Adrian mengenalnya sebagai Nathan. Ia dulunya seorang koki di sebuah restoran bintang tiga di kota kelahirannya, kemudian mengadu nasib dengan mendaftar sebagai juru masak untuk perusahaan tambang.

Adrian mengisap rokoknya dan menghembuskannya perlahan. Jemarinya mengait dan kakinya menghentak-hentak pelan, berusaha mengusir perasaan kikuk. “Apa kau pernah melihatnya? Para hantu atau roh atau apapun itu? Aku mendengar saranmu tentang guratan di pintu, dan aku penasaran. Apakah tim sebelumnya melanggar sesuatu yang membuat para penunggu di sini marah?”

Nathan melihat ke arahnya sebentar, matanya terbuka lebar seakan baru dirinya yang menanggapinya dengan sungguh-sungguh. “Melihat? Tidak. Tak ada siapapun yang melihatnya di sini. Tapi kami sadar betul orang-orang itu, para pekerja di sini, sebenarnya bukan kabur. Memangnya mau kabur ke mana? Ke laut? Ada berapa perahu yang bisa berlayar mengangkut puluhan orang begitu? Jika iya, harusnya pengawas juga sadar, mana mungkin nyaris seratus orang kabur tak terlihat?

 

“Masuk ke dalam hutan? Itu masih mungkin. Tim pencari dikirim untuk menyisir wilayah itu, bahkan mereka sampai mengepung tempat tinggal para penduduk lokal yang berada di tengah hutan. Mereka berpikir barangkali para pekerja itu diculik atau memang melarikan diri lalu bersembunyi di sana. Akan tetapi, bahkan setelah semua rumah itu diobrak-abrik, mereka tak menemukan orang-orang yang mereka cari.” lanjutnya.

“Kenapa orang bisa berpikir bahwa mereka kabur? Apa pula sebabnya mereka jadi begitu? Tidak mungkin, dong, mereka mendadak tak ingin bekerja?”

Nathan hanya mengangkat bahu, lalu mengusap-usap lututnya. Raut wajahnya amat khawatir. “Entah, mungkin mereka bertemu hewan buas di hutan? Ada masalah dengan administrator? Tak ada yang tahu. Tapi yang pasti, mereka tak ada, hilang tanpa jejak.”

“Atau sebenarnya ini memang kutukan. Toh, sebelum proyek ini dilaksanakan, tim ekspedisi sudah ditolak mentah-mentah di tanah ini.” lanjutnya setelah sebentar memberi jeda.

“Ada apa?” Adrian mulai dijalari perasaan ngeri.

“Aku mendengar ini dari seorang etnograf yang menjembatani komunikasi antara penduduk lokal dan tim ekspedisi. Etnograf itu bertemu dengan seorang wanita sepuh, Matu Sari. Ia semacam kepala suku di sini, tinggal jauh di dalam hutan sana. Wanita itu bersikukuh menolak pembabatan hutan untuk kepentingan tambang. Ia berkali-kali menyebut soal pohon-pohon suci Makuku.”

“Pohon suci Makuku?”

“Menurut tetua Matu Sari, ada sebuah kawasan di hutan ini, sebuah area spesifik yang mereka namai Makuku, yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang tak boleh ditebang. Mereka adalah pohon-pohon suci. Suku lokal percaya bahwa pohon-pohon Makuku adalah kelompok pohon paling awal yang hidup di pulau ini. Mereka adalah para orang tua, atau bahkan leluhur, dari semua pohon yang lain. Maka penduduk lokal pantang menebang pohon di area Makuku, sebuah daerah melingkar di sisi sungai yang menjadi nadi pulau. Masalahnya, menurut perhitungan para peneliti, wilayah itu termasuk yang akan dikosongkan.

 

“Penduduk lokal percaya bahwa pohon-pohon suci Makuku tidak pernah berbelas kasih kepada mereka yang mengganggunya. Siapapun yang bikin gara-gara, niscaya mati.” jawabnya Nathan pelan. “Tapi kita semua tahu bahwa perusahaan

tambang tak akan mendengar hal semacam itu. Mereka malah menggunakan kekerasan untuk mengosongkan area pembukaan lahan.

“Penduduk lokal tak bisa berbuat apa-apa sewaktu menemukan kapal-kapal berisi bulldozer, ekskavator, dan puluhan truk itu sampai di pulau ini. Aku datang bersama kapal-kapal itu.

“Esok harinya, proyek dilaksanakan. Para mandor itu mengerahkan para pekerja untuk menebang pohon-pohon di daerah Makuku, tak tahu dan tak peduli yang mana pohon yang dimaksud. Hari itu semua tampak baik-baik saja, tak ada gangguan apa-apa. Terlebih, proyek itu dilindungi oleh sekelompok tentara.

“Bunyi gergaji mesin terdengar dari berbagai arah. Debu-debu beterbangan memenuhi udara. Daun-daun melayang-layang, lalu jatuh ke tanah yang lembab. Sinar matahari yang mulanya bersahabat, kini menjadi penyebab orang-orang mulai sakit kepala.

“Batang-batang pohon rebah di sana-sini dan diangkut dengan mesin-mesin yang dibawa dari dalam kapal. Sepatu bot tak henti-hentinya menginjak ranting yang patah di permukaan tanah. Beberapa babi hutan, rusa, dan kijang menatap dari kejauhan, seolah kebingungan dengan apa yang terjadi dengan rumah mereka.

 

“Setelah berjam-jam mendengar deru dan desing teknologi yang menggantikan cicit burung, hari beranjak gelap. Matahari hendak tenggelam, menunjukkan waktu untuk bersiap pulang. Suara desing berhenti, dan mereka semua kembali ke dalam mess, bersih-bersih, dan tertidur untuk menyambut hari esok yang bukan milik mereka.

“Asisten lapangan yang bertemu dengan kalian sejak hari pertama itu, ia orang pertama yang menyadari hilangnya para penebang. Memangnya apa itu bila bukan fenomena gaib?” Nathan mematikan api rokoknya ke asbak.

“Itu alasan mengapa mereka mendatangi lebih banyak orang? Semerta-merta hanya untuk melanjutkan proyek meskipun mereka tahu ada yang tidak beres dengan ini semua?” tanya Adrian.

“Mereka tak peduli. Mereka yakin betul orang-orang itu kabur entah ke mana. Dan siapapun yang tersisa di pulau ini tak boleh pergi, kecuali para pelaut yang diperintahkan menjemput tenaga kerja baru. Betapa kejam dan bodoh.”

“Tak boleh pergi?”

“Mereka menerapkan isolasi sepanjang para pekerja yang hilang itu belum ditemukan. Penelusuran masih berlangsung, tapi kau pasti tahu bahwa proyek tambang ini juga mesti tetap berjalan. Alasan yang tak masuk akal tak mungkin diberi pertimbangan.”

Sayangnya, perbincangan itu berhenti hanya sampai di situ. Nathan menyadari waktu sudah sedemikian larut dan ada pekerjaan yang membutuhkan kebugaran esok hari.

 

Sepanjang malam, Nathan beberapa kali terbangun karena mimpi buruk. Yang pertama, dalam mimpinya pintu kamarnya terbuka dan sebuah bayangan hitam yang besar masuk ke dalam kamarnya. Lalu mimpinya berubah ketika ia mencoba tidur untuk kedua kali, di mana ia melihat sekumpulan orang terbang ke langit, melayang entah ke mana. Mimpi terakhir, ia tersesat di tengah hutan. Kali ketiga terbangun, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul empat pagi dan ia enggan untuk melanjutkan tidur yang tak memberinya nyenyak.

Dengan keadaan lesu, hari itu Adrian berangkat kerja. Bersama rekan-rekannya mereka menaiki truk yang melesat menuju area hutan. Tepatnya, area hutan Makuku. Sepanjang jalan itu, ia melihat sungai yang mengalir tak jauh dari jalanan utama. Akan tetapi, yang mana batas-batas daerah Makuku, ia tak tahu. Para mandor pun pasti tak tahu. Hanya etnograf dan wanita sepuh bernama Matu Suri itu yang tahu.

Langit mendung saat itu, dan ia merinding membayangkan para pekerja yang telah hilang. Batang-batang pohon di sekitar seakan kapan saja bisa berjalan dan

menghempaskan mereka. Dari sisi-sisi yang gelap, ia takut menemukan ada roh-roh hutan yang siap menyergap rombongannya kapan saja.

Masuklah truk itu ke lokasi yang pohon-pohonnya telah ditebang. Melihat hasil pekerjaan para penebang sebelumnya, tangan Adrian mendingin. Angin berhembus makin kencang. Ia merasakan orang-orang di sekelilingnya begitu tegang, seperti berhadapan dengan kengerian yang entah.

Mereka sampai, satu persatu melompat turun dari truk. Kemudian mereka semua berjalan mengambil posisi. Tak lama kemudian, mesin-mesin menyala. Gergaji mesin siap membelah. Adrian berusaha keras menyingkirkan semua bayangan buruk di dalam kepalanya dan mulai mengangkat gergaji besi.

 

Di hadapannya, sebuah pohon besar berdiri kokoh. Ia nyalakan gergaji mesin itu, dan mencoba mengikis batangnya perlahan. Serbuk-serbuk kayu beterbangan. Lalu, seiring gigi pemotongnya masuk lebih dalam, getah pohon itu mengalir turun. Atau yang ia pikir begitu.

Cairan itu berwarna merah gelap. Adrian mundur, cairan itu menyembur ke mana-mana. “Getahnya banyak sekali.” Banyak, terlampau banyak. Ada semacam keraguan yang membingungkan, mengapa seperti ada perasaan familiar yang asing dari pekerjaan ini. Bukan sebuah perasaan familiar yang akrab, tetapi justru tak diharapkan.

Ia berhasil mengikis pohon itu dalam rupa seperti sebuah mulut yang menganga, supaya pohon itu jatuh ke arah yang diinginkan. Namun tepat setelah ia mencabut gergaji mesin itu, ia menyadari berasal dari mana perasaan familiar yang dialaminya.

 

Dari belakangnya, ia mendengar suara jeritan. Ia segera berbalik badan, dan melihat rekannya yang baru saja berhasil menebang pohon. Batang itu sudah rebah di tanah. Akan tetapi rekannya itu mundur perlahan-lahan, memancing orang-orang untuk bertanya kepadanya.

Di hadapannya, pohon yang sudah ia kikis, kini terjatuh dengan suara berdebum yang keras. Ia menoleh ke depan. Di tengah tunggul pohon itu bukan kayu, melainkan sebuah daging. Pandangannya berpindah kepada batang pohon yang sudah di tanah. Itu adalah tubuh manusia. Jadi bukan getah yang keluar darinya, melainkan aliran darah. Ternyata perasaan familiar yang tadi didapatinya adalah aroma darah yang membuat tercekat.

Dalam penuturannya, Adrian tak mampu menjelaskan apa yang ia lihat. Tubuh-tubuh manusia yang terbelah di dalam batang pohon; darah yang menggenang luas, membasahi serbuk-serbuk kayu; urat-urat dan otot berserakan; dan kengerian itu bertambah dengan kesadaran bahwa semua itu masih segar. Artinya, mereka yang terpotong gegaji mesin sejatinya masih hidup di dalam pohon, entah bagaimana caranya. Setelah tubuh-tubuh itu ditarik keluar, wajah mereka berhasil dikenali, yaitu para pekerja yang sebelumnya menghilang mendadak suatu malam. Jadi selama ini mereka disembunyikan di dalam sana, tak mampu meminta pertolongan, tak bisa berteriak.

Di sekelilingnya, sumpah serapah terdengar dari mulut semua orang, diliputi kebingungan yang mistik, yang merebut energi hidup dari setiap orang yang bisa mengindera. Sebuah perasaan lemah, kecil, dan rapuh menggerogoti tulang dan dagingnya. Alam telah menghukum mereka. Alam telah mengutuk mereka.

Perutnya mual luar biasa; ia tekan masker yang menutupi wajahnya, seolah bau darah itu berhenti menyerbu hidungnya; kakinya limbung dan nyaris jatuh, membuatnya berjalan menjauh dengan tertatih-tatih; tubuhnya seperti ikut tercabik-cabik; kesadarannya bagai hancur berserakan.

Sebuah insting purba bangkit di dalam dirinya. Ia edarkan pandangan ke sekeliling. Ia jatuh berlutut, kedua jemari tangan melilit dan mengepal. Air matanya jatuh. Dari mulutnya ia memohon ampun berkali-kali pada kekuatan supranatural yang pasti tengah tertawa-tawa. Semacam tawa yang ia bawa pulang ke kota kelahirannya.

 

Ia terus membawa tawa itu hingga ke rumah sakit. Dan betapa seram untuk mengingat bahwa ia tertawa seraya berkata “Tak pernah kusangka gergaji mesinku akan memotong manusia” tepat sebelum ia tak bernyawa lagi.

 

Gabung Rabu Pagi Club

WhatsApp Community tempat kamu menemukan dirimu sendiri dan berkembang dengan support system dari Rabu Pagi

© 2024 – 2026 | Rabu Pagi Alrights reserved