Cermin Nabastala
Septi Dwi Cahyani

Aku adalah bulan yang datang kala baswara bersembunyi,
setelah sandyakala menyapa.
Ketika malam datang menyelimuti,
aku terlihat paling bersinar
dalam kehampaan ruang.
Aku mengira bahwa
aku satu-satunya pemilik cahaya.
Namun nyatanya,
cahaya itu bukanlah milikku seutuhnya.
Melainkan sebuah
cermin dari baswara
yang sudah jauh bersembunyi di belakangnya.
Sejak awal,
sinar aslinya tidak pernah benar-benar bisa disembunyikan.
Ia hanya dipinjamkan,
merambat dalam kesunyian,
hanya bisa terlihat
tanpa pernah bisa dimiliki dan digenggam.
Aku adalah bulan,
bagian dari nabastala,
yang bahkan tidak memiliki pijarnya sendiri.
Sejak awal,
aku hanyalah pengantar pesan,
saksi bisu dari keagungan mentari dan bulan.
Aku mencoba mengambil sinarnya,
membersihkannya dari debu kegelapan,
lalu memancarkannya kembali
dengan segenap renjana
dan mengembalikannya pada sang mentari.
Menjadi temaram
yang lembut dan menenangkan.
Aku hanyalah setitik cahaya
dalam sunyinya kegelapan,
yang berusaha menemani
cahaya terang yang memiliki seorang tuan.
Dan ketika fajar datang menyapa,
aku kembali ke persembunyian,
merelakan panggung
agar baswara bersinar seutuhnya,
membawa harsa bagi semua.
Aku dan baswara
berjalan berdampingan
dalam takdir semesta, memberi ruang
dan memahami bahwa ada keindahan dan kehormatan
dalam memberi ruang bagi cinta sejati.
Ternyata, aku hanyalah pelengkap
dalam keindahan dan keagungan
mentari dan bulan.
Barangkali, sesekali aku ingin menjadi gerhana,
bukan untuk memadamkan pijarmu,
hanya untuk tahu bagaimana rasanya
berada sedekat itu dengan sumber cahaya.
Namun aku tahu,
kedekatan tidak selalu berarti memiliki.
Bahkan langit pun mengenal jarak
sebagai bagian dari keseimbangannya.
Sebab pada akhirnya, aku tetaplah bulan
yang mengitari takdirnya sendiri,
dan engkau tetaplah baswara
yang memiliki cakrawala
untuk kau terangi.
Mungkin aku bukan cahaya.
Mungkin aku bukan mentari.
Mungkin aku bukan alasan
langit menjadi indah.
Namun aku tetap ada.
Menjadi bulan
yang tak pernah meminta
untuk menjadi matahari.
Menjadi cermin
yang tak lagi sibuk mempertanyakan
mengapa ia tak memiliki cahaya sendiri.
Ketika arunika kembali menyibak ufuk,
aku tak lagi merasa kehilangan panggung.
Sebab akhirnya aku mengerti,
langit tidak pernah meminta
semua benda langit
untuk menjadi matahari.
Ada yang ditakdirkan menjadi pijar,
ada yang ditakdirkan memantulkan cahaya,
dan ada yang cukup menjadi dirinya sendiri
di antara luasnya nabastala.
Profil
Haiii! Aku Septi Dwi Cahyani.
Aku punya nama pena Caelyora, sebuah nama yang aku pilih sebagai ruang kecil untuk
menuangkan cerita, perasaan, dan hal-hal yang kadang sulit aku ungkapkan secara langsung.
Aku suka menulis tentang manusia, perasaan, cinta, kehilangan, dan hal-hal sederhana yang
sering kali punya cerita lebih dalam dari yang terlihat. Buatku, menulis adalah salah satu cara
untuk memahami apa yang pernah aku rasakan dan mengabadikan hal-hal yang mungkin suatu
hari ingin aku ingat kembali.
Kalau kamu ingin mengenal aku sedikit lebih jauh, kamu bisa berkunjung ke Instagram-ku di
@septi.cahyani13. Di sana mungkin kamu akan menemukan lebih banyak tentang aku, meskipun belum tentu lebih banyak tulisanku.