Secercah Harapan di Tengah Halaman Terbengkalai
Yasmine Qurrataayyun

Halaman di rumahku tak berkonsep selayaknya konten rumah yang berseliweran di media sosial. Ada rasa iri di dalam diriku usai mengetahui halaman mereka tumbuh begitu harmoni. Mendatangkan ketenangan dengan tumbuhnya monstera, pisang-pisangan atau tanaman lainnya yang penuh estetika. Atau setidaknya ada bunga-bunga seperti lily, anggrek atau mawar yang kelopaknnya mewarnai halaman.
Semasa kecil, rumah kami punya pemandangan yang serupa. Saking indahnya, setiap hari aku sempatkan untuk menyapa semua tanaman, pohon hingga bunga yang tumbuh di halaman ini. Terutama bunga melati yang menjadi kesayanganku. Sebab, wangi khasnya selalu membuatku terngiang-ngiang.
Sayangnya, nasib mereka tak selama yang dibayangkan. Semua itu akibat dari keteledoran kami. Satu-persatu tanaman dan bunga di halaman menjadi layu dan berguguran. Inilah momen patah hati pertama yang aku rasakan dalam hidupku.
Sejak itu, tempat ini menjadi obyek yang enggan kami pandangi. Keindahannya hanya menjadi sebatas memori yang aku simpan sendiri. Apa boleh buat, aku juga tak terampil dalam persoalan tanaman. Sehingga, halaman rumah kami menjadi lahan kosong yang terbengkalai.
Bertahun-tahun kami menghiraukan pemandangan ini, namun pandemi menjadi awal dari secercah harapan. Ayah yang dahulu biasa bolak-balik keluar kota, mau tidak mau harus bekerja di rumah. Banyaknya waktu luang, membuat hatinya tergerak untuk menyulap lahan kosong ini.
“Paket!” teriaknya kurir usai meletakkan kardus besar di teras rumah kami. Aku pun segera membuka pintu dan berniat memboyong paket itu masuk. Awalnya aku kira itu adalah pesananku yang sudah berhari-hari aku tunggu-tunggu kedatangannya.
Namun, saat melihat betapa besarnya paket itu, aku malah terkejut. Selang beberapa menit, Ayah datang menghampiriku dengan pisau tajam di genggamannya. “Itu paket Ayah,” singkatnya sambil tersenyum.
Dia pun bertekuk lutut di hadapan paket itu. Pelan-pelan dia mengulitinya di tempat. Aku hanya melongo dan menerka-nerka apa isi di dalamnya hingga bisa sampai sebesar itu.
Kurang dari semenit, Ayah berhasil menjatuhkan kardus-kardus yang membalutnya. Akhirnya, tertampak jelas isi di balik itu. Ada dahan dan daun-daun. “Hah, Tanaman?” ucapku dengan spontan.
“Iya, ini bibit pohon alpukat.” jawab Ayah dengan binar-binarnya mata. Seakan dia melihat bayi yang baru lahir dari kandungan seorang ibu. Tak sabaran, Ayah langsung mengeksekusi bibit itu sendirian.
Semakin hari, ada saja teriakan ‘Paket!’. Ayah semakin sibuk memenuhi tanah-tanah kosong itu dengan bibit yang dia temukan di internet. Semenjak itu, Ayah berkomitmen untuk merawat, menyiram, dan memupuk bayi-bayinya.
Awalnya, aku tak masalah apabila lahan kosong itu diisi dengan satu sampai tiga bibit pohon. Toh, sudah waktunya kita memberikan ruang untuk tanaman lain. Namun, lama-kelamaan teriakan “Paket” jadi begitu sering. Sampai akhirnya, hal ini sudah mulai mengangguku.
“Ayah terlalu banyak beli bibit pohon, seharusnya halaman kita sisihkan sebagian untuk tanaman hias. Biar halaman ini tampak seperti dulu aku kecil!” protesku saat Ayah sedang asyik memanjakan bayi-bayi kecilnya.
Namun, bukannya Ayah kesal dengan keluhanku ini, dia malah mencoba membuatku mengerti di balik aksinya.
“Sini, Ayah jelaskan dulu.” ucapnya sambil menyuruhku duduk di kursi taman.
Aku pun duduk dan mencoba mendengarkan agendanya beberapa bulan ini. Obrolan sore itu, dibuka dengan kilas balik saat Kakekku masih ada.
Sepertinya Kakekku punya andil besar dalam kebiasaan baru Ayah ini. Bagaimana tidak, Kakekku merupakan seorang petani di Kota Mangga yang pandai memperoleh hasil bumi.
“Kamu ingat tidak buah yang terakhir kali dikirimkan oleh Bibimu?” tanya Ayah kepadaku.
Tentu saja aku mengingatnya, sebab saat itu aku yang menerima kiriman tiga dus mangga. Isinya ada mangga cengkir, gedong, dan arumanis. Saking melimpahnya, kami tak mampu menghabiskannya. Alhasil, sisanya aku olah menjadi es lilin.
“Kalau kamu tahu, jenis mangga gedong yang waktu itu datang sebenarnya berasal dari pohon di halaman depan rumah Kakek. Nah, Kakeklah yang menanam dan merawat kedua pohon itu sendiri.”
Oh, maksud Ayah dua pohon mangga yang selalu menjadi tempat aku dan sepupu-sepupuku bermain benteng itu. Dahulu, kami sangat senang sekali bermain di dekat pohon-pohon itu.
Dahannya begitu tebal dan daunnya juga rimbun. Berkat dia, kami tak merasakan teriknya sinar matahari di siang bolong.
“Sebelum Kakek menanam mereka, sebenarnya saat itu pohon mangga mudah sekali ditemukan dimana-mana. Bahkan, setiap rumah setidaknya punya satu pohon mangga di halamannya. Namun, tiba-tiba saja Kakek ingin menanam mangga lagi. Padahal, belakang rumahnya saja sudah ada kebun mangga.”
Aku pun mulai menerka-nerka mengapa Kakek melakukan itu. Apa karena jenis mangga yang ingin dia tanam saat itu belum tumbuh di kebunnya sendiri?
“Kira-kira kamu tahu alasannya kenapa kakek menanam pohon mangga lagi?” tanya Ayah seakan bisa membaca pertanyaan dalam pikiranku. Kemudian, dia memberikan jeda untuk otakku mencerna jawaban.
Dari pemikiran sederhanaku, bisa saja Kakek melakukan itu hanya menyalurkan kegemarannya dalam bercocok tanam. Apalagi, dia seorang petani, tentunya pohon dan tanaman sudah menjadi dunianya selama berpuluh-puluh tahun.
Namun, begitu aku menyampaikan apa yang dibenakku. Ayah kurang puas dengan jawabanku. “Hmmm… bisa jadi itu alasan lain Kakek, namun dia punya tujuan utama yang lebih bermakna.”
“Kalau bukan sekedar gemar lalu apa, Yah? Pasti ada jawaban yang lebih masuk akal lagi kan?” tanyaku yang masih tak terbayangkan jawaban sebenarnya.
Bukannya menjelaskan dengan cara sederhana, Ayah memintaku memasang telinga baik-baik. Dengan prengat-prengut, aku membiarkan Ayah melanjutkan kisah Kakek.
“Pagi itu Kakek menyiapkan dua biji mangga yang siap untuk dia tanam. Dengan semangat, dia menggali tanah di halaman depan sendirian. Tiba-tiba lewatlah tetangganya yang sangat akrab dengan Kakek. Melihat Kakek begitu terampil menggali tanah, akhirnya dia penasaran dan putuskan untuk mampir dan menyaksikan dengan jelas apa yang sedang Kakek lakukan.
Begitu tahu Kakek sedang menanam biji mangga dia tertawa sambil berkata, ‘Bodohnya kamu! Untuk apa kamu menanam mangga. Sekarang kamu sudah uzur, sia-sia saja menanam mangga. Toh, kamu tak sempat menikmati buahnya.”
Aku mendengarnya malah menjadi kesal. Aneh, mengapa ada saja orang semacam tetangga Kakek yang suka mengecilkan usaha orang lain. Padahal, orang yang mereka tertawakan punya harapan besar di balik usahanya itu.
Entah apa maksud tetangga Kakek berkata seperti itu. Bukan maksud membelanya, tetapi Ayah sempat bilang, memang cara Kakek yang menanam dari biji mangga itu butuh waktu tumbuh sampai 10 tahun.
Di situlah aku bisa membaca sudut pandang tetangga Kakek. Dia berpikir usaha Kakek hanya menguji kesabaran saja. Belum lagi, hama dan cuaca ekstrim yang mengancam proses pertumbuhan pohon itu.
Namun hal yang disesalkan, dia telah menyamakan usaha Kakek seperti investasi bodong. Berakhir dengan waktu, tenaga, dan pengeluaran yang akan menjadi sia-sia. Padahal, belum tentu ini terjadi.
“Bukannya Kakek kesal dengan ocehannya itu, dia malah percaya diri mengungkapkan alasannya dengan bijak. ‘Kalau saja nanti saya tak diberi umur panjang untuk bisa menikmatinya, pasti kelak anak dan cucu saya yang akan menikmati buah dari pohon mangga ini, setidaknya saya sudah melakukan hal yang berarti untuk mereka.
Begitu mendengarnya, Tetangga Kakek langsung terdiam dan manut-manut saja. Siapa sangka, usaha Kakek ternyata berbuah manis. Lihatkan sekarang, pohon itu benar-benar diberkahi seperti yang Kakek harapkan.”
Mendengar kisah itu aku menjadi terharu. Aku tak menyangka, rupanya dia begitu memperhatikan anak dan cucunya sampai sejauh itu. Seketika aku bersyukur, karena Kakek tak goyah dengan perkataan tetangganya.
Kini, hatiku sudah lebih melembut. Angan-anganku perihal mempunyai halaman seindah di konten home inspo sudah tak begitu menggebu-gebu lagi.
“Selain dari kisah Kakek, ada alasan lain yang membuat Ayah begitu semangat menanam bibit-bibit ini.” ujar Ayah yang rela membiarkan beberapa menit waktu berkebunnya dialihkan dengan bertatap mata lebih lama denganku. Begitu juga dengan diriku. Telingaku sudah siap kembali menyimak kisah yang akan dia sampaikan oleh Ayah selanjutnya.
“Kamu ingat tidak pohon kelapa itu berasalnya dari mana?” tanya Ayah sambil menunjuk ke pohon kelapa yang berada di luar pagar rumah kami. Aku kembali mengangguk.
Seingatku Ayah membawa bibit pohon kelapa itu dari kebun mendiang Pamanku. Setelah berkunjung ke sana, dia bilang, dia melihat begitu banyak buah kelapa yang berjatuhan ke tanah. Berkat kuasa tuhan, buah-buah itu berhasil tumbuh dan menjadi bibit dengan sendirinya.
“Awalnya, ini cuman dari satu pohon kelapa yang sempat Pamanmu tanam. Namun, begitu telatennya dia merawat pohon itu, sampai sekarang pohon itu berhasil beranak pinak. Hingga akhirnya, kita juga bisa menanamnya di rumah.”
Setelah Paman berpulang, Ayah tak mengharapkan harta sepeserpun dari peninggalannya. Akan tetapi, bibit kelapa di kebun menjadi satu-satunya peninggalan yang bisa dia terima, rawat, bahkan menjadi suatu hal yang bisa dia kenang dari semasa hidup kakaknya.
Kini, pohon kelapa ini sudah berumur 6 tahun. Tubuhnya sangat tinggi menjulang. Keberhasilan Ayah dalam merawat pohon kelapa ini, membuatku bergurau untuk segera memelihara monyet. Sebab, semakin lama semakin sulit pohon ini untuk digapai buahnya atau bahkan dipanjati batangnya.
“Selama ada pohon kelapa ini di depan rumah. Keberkahannya bukan kita saja yang syukuri. Tetapi, orang-orang sekitar pun turut bersyukur.” sambungnya sambil menatap pohon kelapa yang daunnya tertiup angin dengan anggunnya.
Benar kata Ayah. Selama pohon kelapa itu tumbuh dan berbuah, orang-orang yang melewati depan rumahku tak henti tersenyum dan melirik ke arahnya. Bahkan, ada saja yang berhenti sejenak. Hanya untuk berfoto bersamanya. Mungkin bagi mereka mereka menemukan sebatang pohon kelapa di dalam kompleks perumahan merupakan hal yang langka dan unik.
Tak hanya itu, sering kali ketika kami kedapatan di depan rumah, mereka akan bertanya asal-usul pohon kelapa ini. Lalu, berujung melontarkan pujian begitu melihat betapa suburnya dia. Bahkan, para tetangga sempat menjadikannya sebagai topik hangat seakan dia primadona di kompleks ini.
Menyadari begitu ramainya pengaruh pohon ini, kami pun memberikan keberkahan ini ke orang sekitar rumah. Sejauh ini, penjual keliling, ibu-ibu yang senam di komplek, dan anak-anak yang suka bermain bola di lapangan. Mereka semua sudah pernah menikmati kelapa ini.
Reaksi mereka sangat lucu dan unik setelah menikmati kelezatan dari manis air degan dan lembut daging kelapa. Bahkan, ada yang merasa nikmat dari buah kelapa ini tak ada tandingannya.
“Setiap Ayah lihat reaksi orang-orang itu meminum buah kelapa ini. Ayah jadi ikutan senang. Di sisi lain, setiap kita kasih buah ini ke orang lain, sama saja kita sudah meneruskan kebaikan Pamanmu.”
Mungkin itu juga yang membuat ayah berinisiatif mengirimkan bibit kelapa ini ke mertua Kakakku yang tinggal di seberang pulau. Barangkali, begitu pohon kelapa tumbuh di sana akan bernasib serupa. Semakin banyak pohon kelapa yang tumbuh semakin banyak sumber kebaikan Paman.
“Dari sini, kamu sudah paham kan, mengapa Ayah begitu betah di halaman bersama bibit-bibit ini?”
Aku pun tersenyum lebar, menerima penjelasannya yang begitu panjang tanpa merasa defensif. Dari dua penggalan kisah ini, banyak hal yang baru aku sadari. Tentunya, Ayah ingin meneladani perbuatan baik Kakek dan Paman. Sekarang dia, berusaha mewujudkan cita-cita barunya itu.
Sementara itu, percakapan singkat kami merubah maknaku terhadap pohon. Selama ini, aku melihatnya sebagai ornamen di sebuah ruangan yang hadir sekedar memberikan kesejukan mata. Namun kini, aku memahami kalau mereka hadir memberikan resonansi bagi kehidupan makhluk hidup di sekitarnya.
