Ranting Sunyi Rontang
Mela

Kemarau sunyi dengan riuh rerantingan yang menyerka
Gugur layu di timpa sang gersang
Angkasa gundah menghujaninya tak ter-ela
Dengan garang di patahkan batang – perbatang
Timbul teka – teki akankah terus begini
Semesta dengan pahit menghujani
Rerimbunan hutan bukan selamanya tempat sembunyi
Jalar akarnya akankah melontar lagi?
Tapi bahkan tunas yg hampir hancur lebur
Hidup berselira dari tanah yang mengubur
Kematian datang pada keputusasaan yang mendera – dera membakar
Elak tak terindahkan saat tak ada lagi bunga yg bermekar
Tapi tatkala surya
Dengan secercah cahaya mentari memeluknya
Deliran air menyapanya
Datang dalam tenang membisik kalimat penggoda
Tumbuhlah yang tinggi hingga ke angkasa raya
Mekarlah dengan warna bunga tak terhingga
Buat Pelangi iri pada warnanya
Untuknya deliran air dan cahaya mentariku
Terimakasih ku ungkapkan untukmu
Hidup lepas bangkit dari kemarau yang panjang
Tangkai yang kutau semu dengan harap takan kering rontang
Deskripsi singkatÂ
Hai! Aku Mela, aku biasanya berkarya lewat Instagramku @eliwit_i.
Puisi ini berisi tentang gimana langkah hidup yang penuh dengan masalah hampir menuntun ke arah keputusasaan dengan akhir yang selesai. Berturut – turut tidak tau kapan akan berhenti aku hanya ingin berlari, tapi itu bukan jawaban, masalah harus di hadapi dengan berani, dan di perjalanan menghadapinya aku jadi melihat bahwa aku tidak sendiri. Dan dengan harapan baru semua masalah satu persatu terlewat, aku juga berharap semuanya akan baik saja setelah ini.
