Pohon yang Tumbuh Tanda Manusia yang Mati
Adenyaaat

Menurut data dari RT setempat, pemilik rumah yang ada di sudut cluster ini bernama Pak Gunawan. Pekerjaannya sering membawanya untuk selalu pindah dari satu kota ke kota lain. Sesekali dalam beberapa bulan, Pak Gunawan pun akan tinggal di luar negeri barang 2-3 pekan.
Rumah sudut ini pun akhirnya disewakan kepada anak muda bernama Duko sejak tiga tahun lalu. Namun, setahun ke belakang ini, rumah tersebut sepertinya jarang mendapatkan sentuhan tangan manusia. Rumput liar sudah tumbuh tinggi hingga sepinggang orang dewasa.
Daun kering dari pohon di depan rumah pun sudah menjadi ubin di halaman depan. Pohon mangga besar tersebut sudah ditanam Pak Gunawan sejak pertama kali membangun rumah ini. Berarti umurnya sudah hampir 10 tahun.
Sudah sejak Duko menempati rumah tersebut, pohon mangga itu hampir tidak pernah diurus. Rantingnya sudah banyak yang terlalu panjang hingga menjorok ke jalan. Belum lagi ada banyak buah busuk yang masih menggantung setelah dimakan kelelawar.
Kekacauan ini terjadi sejak Duko pindah ke kantor baru yang berlokasi di pusat kota. Untuk bisa sampai ke sana, dia harus menghabiskan waktu hingga satu jam lebih di jalan.
Itu juga kalau semua keadaan normal. Kalau lagi ada truk mogok atau hujan deras, durasi perjalanan bisa tambah satu jam lagi.
Dia sudah berangkat sejak pagi-pagi sekali untuk menghemat biaya dan juga waktu. Motor dan sepatunya baru kembali ada pada malam hari saat orang-orang sudah terlelap di kamarnya masing-masing.
Saat ini, Duko masih tinggal sendiri. Belum ada perempuan yang masuk ke dalam hidupnya. Kadang, bagian ini yang membuat tetangganya sedikit khawatir. Pernah ada satu waktu, Duko disapa oleh Pak Rizal, tetangga persis di sebelah rumahnya.
“Hari ini pulang malam lagi Mas Duko?”
“Eh, iya Pak Rizal,” balas Duko singkat dan langsung ngeloyor pergi lagi.
Dia memang jarang berkomunikasi dengan warga sekitar. Kalau bisa menghindari basa-basa itu, Duko akan memilih langkah tersebut. Ngobrol seadanya. Kalau bisa, tidak perlu ngobrol sama sekali.
Lambat laun, wajah Duko pun berubah menjadi tidak segar. Kerutan dan flek hitam sudah mulai bermunculan, padahal usianya belum genap 30 tahun. Masih butuh waktu beberapa tahun lagi buat usianya masuk ke dalam kepala tiga.
Kulitnya pun menggelap lantaran terpapar matahari dan cahaya laptop setiap harinya. Belum lagi mata panda yang entah kapan sudah menghiasi wajahnya.
Mengurus dirinya saja tidak bisa, apalagi mengurus lingkungannya. Rumahnya penuh debu di mana-mana. Mungkin Duko pun sudah lupa di mana dia menaruh sapu dan pel.
Hari ke hari, pohon mangga di depan rumah ini pun makin rimbun. Ranting dan daunnya sudah mulai menutupi atap rumah. Buah busuk pun tidak lagi menggantung, tetapi sudah berserakan di halaman rumah.
Beberapa kali Pak RT setempat meminta petugas kebersihan untuk memangkas ranting yang sudah mulai mengganggu. Namun, langkah itu tidak bertahan lama. Beberapa pekan setelahnya, ranting sudah memanjang lagi sampai menutup sebagian rumah.
Pohon tersebut mungkin tahu keadaan orang yang tinggal di rumah tersebut. Belakangan ini, Duko sudah jarang pulang. Dia sering lembur hingga tengah malam
hingga memutuskan untuk menginap di kantor sampai esoknya. Kadang, dia tinggal di kantor hingga empat hari dan baru pulang.
Tampilan rumahnya pun sudah kacau saat Duko pulang. Bangunan tersebut seperti sudah tidak dihuni bertahun-tahun.
Bukannya tidak peduli dengan lingkungan, tubuh Duko hanya sudah sangat lelah dengan semua yang telah dia kerjakan. Dia hanya ingin tidur di kasurnya dan bermimpi untuk hidup yang lebih baik di masa depan.
Tak sampai semenit tubuhnya menempel, jiwa Duko sudah berpindah ke dunia lain. Bayangan cerah langsung terlihat oleh Duko. Seperti berada di dalam rumah yang terawat. Penghuninya pun mengenakan pakaian rapi dan bersih, begitu juga wajahnya yang cerah.
Duko tidak bisa melihat wajah penghuninya dengan jelas, tapi selalu terlihat tersenyum. Mereka pun seolah mau memberikan apa pun, seperti mempersilakan Duko duduk hingga memberikan makanan di atas meja.
“Ini di mana?” tanya Duko
“Kamu ada di rumah,” jawab salah satu penghuni rumah.
“Rumahku bukan di sini. Aku mau pulang sekarang. Aku lelah sekali, mau tidur saja di rumah,” ujar Duko sambil berdiri dari kursinya. Dia merasa ini bukan tempatnya lantaran terlalu bersih.
“Kamu tidak seharusnya tinggal di sana, kecuali kamu mau melakukan satu hal,” balasnya lagi.
Duko terdiam. Dahinya mengerut. Tubuhnya yang ingin diajak berlari mendadak seperti dipaku di atas tanah.
“Aku harus apa?”
“Bertemanlah dengan pohon di rumah kamu,”
“Aku tidak bisa! Aku tidak punya waktu untuk itu!”
“Kalau begitu, tinggal di sini saja sama kami,” ujar salah satu penghuni sambil menarik tangan Duko. Duko hanya bisa mencoba melepaskannya sambil berteriak lantang. Dia mencoba menendang, memukul, sampai mendorong tubuh orang-orang yang mencoba menahannya.
Duko pun terbangun dari tidurnya. Tubuhnya basah kuyup akibat keringat. Napasnya terengah karena kelelahan seperti baru saja menyelesaikan lari 100 meter. Jam dinding masih menunjukkan pukul 04.00 pagi.
Belum waktunya untuk bangun memang, tapi tidur lagi pun pasti sulit. Terlebih lagi, Duko masih merasa ketakutan akibat mimpi yang menyuruhnya untuk tinggal di tempat yang bersih. Akhirnya, dia memilih untuk terjaga sampai suara adzan Subuh berkumandang sebelum memberanikan diri untuk tidur lagi
Baru pukul 13.00 siang Duko bisa bangun dari tidurnya. Tubuhnya sangat lemas akibat tidur terlalu lama. Pikirannya belum terkumpul dan masih ngawang entah ke mana. Hal pertama yang dia lakukan setelah bangun tidur adalah membuka laptop dan menyalakannya.
Dibukalah situs AI, menulis prompt untuk membuatkannya surat pengunduran diri. Sedetik kemudian, surat tersebut sudah jadi lengkap dengan alasan. Duko hanya perlu mengeditnya sedikit untuk langsung mengirimkannya ke perusahaan tempatnya bekerja. Singkat cerita, hanya dalam beberapa hari dia sudah tidak bekerja di perusahaan tersebut.
Duko pun bisa kembali beraktivitas seperti manusia normal, merawat diri dan lingkungan tempat tinggalnya. Tentu saja merapikan pohon mangga di depan rumah yang sudah rimbun.
“Eh Mas Duko, udah lama enggak kelihatan,” sapa Pak Rizal dari rumahnya.
“Iya Pak Rizal, lagi libur. Jadi bisa ngurusin pohon ini sudah lebat banget,” jawab Duko sambil terus memangkas ranting yang sudah panjang.
Duko pun mengumpulkan buah-buah mangga matang dari pohon tersebut dalam sebuah karung. Mungkin ada 3-4 kg totalnya. Tidak mungkin kalau dihabiskan sendiri. Jadi, dia hanya mengambil dua buah dan sisanya dibagikan ke tetangga. Untuk tetangga dekatnya, masing-masing rumah bisa dapat dua buah lagi.
Dengan begitu, Duko jadi bisa makan mangga di rumah sendirian. Mangga yang sangat kuning dan manis. Setiap irisan mangga yang dia masukkan ke dalam mulut seperti memberikan ingatan tentang hidupnya yang tidak terurus. Tak terasa air mata mengalir di pipinya.
“Seharusnya hidup itu seperti ini, bisa makan mangga langsung dari pohon,” ujarnya.
Setelah menghapus air mata, Duko kembali ke laptopnya dan mulai memburu pekerjaan baru. Pekerjaan yang memberikan dia hidup layaknya manusia, bisa bersosialisasi dengan tetangga sambil mengurus pohon di rumah yang disewanya. Sebuah pencarian yang pasti akan sangat sulit.
