Bukan Karena Badai by Septi Dwi Cahyani

Bukan Karena Badai

Septi Dwi Cahyani

 

 

 

Pohon tumbuh

dari akar yang diam-diam menguat,

dari air yang cukup,

dan cahaya yang datang

setiap pagi tanpa pernah diminta.

 

Ia menjulang tinggi,

memberi teduh kepada siapa saja

yang singgah di bawah tubuhnya.

 

Barangkali ia tidak pernah tahu,

bahwa selama hidupnya

ia telah menjadi napas bagi banyak kehidupan.

 

Begitu pula manusia.

Kita tumbuh dari akar yang berbeda.

 

Dengan batang yang tak selalu lurus,

dengan cabang yang memilih arah masing-masing,

dengan luka yang terkadang

tak terlihat dari luar.

 

Kita ingin tumbuh tinggi.

Ingin menjadi tempat berteduh.

Ingin memberi sesuatu

kepada dunia yang kita tinggali.

 

Namun sering kali,

kita terlalu sibuk memberi,

sampai lupa memeriksa akar sendiri.

 

Siapa yang tahu

apa yang terjadi di dalamnya?

 

Kita sibuk tumbuh.

Sibuk menjadi tempat berteduh.

Sibuk memberi cahaya

kepada kehidupan di sekitar kita.

 

Sampai lupa

bahwa akar kita sendiri

juga perlu disiram.

 

Kita membiarkan sesuatu tinggal

luka, takut, kecewa,

atau apa pun yang perlahan

mengambil ruang di dalam diri.

 

Awalnya kecil.

Hampir tidak terasa.

 

Lalu ia tumbuh,

menetap,

dan tanpa kita sadari

mengambil kehidupan

yang seharusnya masih bisa tumbuh.

 

Mungkin kematian

tidak selalu datang dengan suara.

Kadang ia datang perlahan,

diam-diam,

seperti akar yang membusuk

di bawah tanah.

 

Gabung Rabu Pagi Club

WhatsApp Community tempat kamu menemukan dirimu sendiri dan berkembang dengan support system dari Rabu Pagi

© 2024 – 2026 | Rabu Pagi Alrights reserved