Di Antara Sejuknya Pohon Sakura by Tomohiro Kure

 

Di Antara Sejuknya Pohon Sakura

Tomohiro Kure

 

 

 

Hembusan halusnya angin meniup senandung indahnya bersama mekarnya bunga sakura di  antara ranting-ranting kecil itu. Aroma lembutnya bunga merah muda itu memikatku untuk  berteduh di bawah pohon itu—membiarkan seuntai isi kepalaku bersambung satu demi satu, seperti kalimat pembuka cerpenku yang mengawali babak awal dari sebuah cerita. Atau sebuah  bait pertama dari puisiku yang mengawali perasaan yang aku ukir dalam setiap baitnya.

Saat ragaku mendekat menuju rumah teduh itu, mataku bertaut kepada seorang lelaki dengan  rambutnya yang rapi dan klimis. Bersama dengan sebuah buku catatan mungilnya, ia mengukir  setiap sajak demi sajak, menyesuaikan alunan angin yang mengusap wajahnya begitu lembut.

Melihat wajahnya saja, aku seolah memandangnya seperti lautan yang tenang.

Saat pena yang menari itu sudah mencapai ujung halaman buku catatan kecil lelaki itu, ia  menutup kembali buku itu—mengayunkan kakiknya dan memusatkan bola matanya ke arahku.  Aku terperanjat saat aku akhirnya tertangkap basah saat kedua pasang mata lelaki itu tertuju  kepadaku. Apakah.. Aku menganggunya?

Semakin kekhawatiranku mendobrak isi kepalaku, semakin dekat suara derap langkah kaki  lelaki itu dari kedua pasang telingaku.

Lelaki berambut klimis itu bertanya kepadaku. “Maaf, apakah kamu ingin berteduh di pohon  yang kutempati barusan?”

Aku menggeleng kepalaku pelan. Aku menghindari kontak mata dengannya. Aku masih malu  saat akhirnya aku tertangkap basah saat mataku memandang sosok laut yang menenangkan itu.

“N-Nggak,” lidahku masih tercekat. “M-maksudku, aku ingin berteduh, tapi…”

“Oh, begitu.” Lelaki itu melembutkan intonasi nadanya. “Kalau gitu, aku nggak sungkan kalau  kamu juga berteduh di tempatku berteduh tadi! Seenggaknya, kalau ada orang di dekatku, aku  jadi nggak sendirian, ‘kan?”

“Aku juga butuh satu rekan perempuan untuk mendengarkan sebuah puisi dari rekan laki-laki  yang memesan jasa tulisku. Apakah kamu bersedia meluangkan waktumu untuk mendengarkan  puisi yang sudah kutulis?”

Nada tanda tanya dari lelaki dengan rambut klimisnya itu melanda rasa bersalahku. Pasti dia  sengaja menganggurkan draf tulisan lainnya yang penting agar aku bisa berteduh  menawarkanku untuk berteduh bersamanya, apalagi ia sempat-sempatnya meminta izin apakah  aku masih memiliki waktu luang untuk mendengarkan puisi yang telah ia rangkai.

Aku tak bisa menolak ajakan lelaki itu. Aku harus bertanggung jawab, aku harap penerimaan  ajakan itu bisa menjadi pengganti permintaan maafku kepadanya.

Yeah, sure. Maafkan aku karena sudah merepotkanmu.”

***

Sekuntum bunga Melati suci itu, 

Mekar saat ia bersinar di atap sekolah. 

Saat bunga itu bertaut kepadaku, 

Ia memancarkan cahaya harapan hidup kepadaku.  

Sekarang, aku baru mengerti. 

Mengapa orang tuamu menamaimu “Melati.” 

Mekar dan berseri, 

Melahirkan denyut cinta yang mengalir dalam nadi. 

Wahai, Kasih, 

Terimalah puisi ini, 

bersama dengan sekuntum bunga dengan namamu yang indah ini.  

Izinkan aku untuk mencintaimu dengan sepenuh hati,  

Meskipun kamu masih berhati-hati. 

Perjuanganku tak hanya berhenti di sini. 

Di balik puisi yang kurangkai hari ini, 

Ia adalah seorang saksi. 

Atas namamu yang abadi.  

Semoga kau ‘kan mencuat tinggi, 

Dan ragamu ‘kan abadi.  

Selamanya.  

***

Puisi yang dibacakan oleh lelaki itu ditutup bersama dengan buku catatannya yang berada di  hadapanku.

“Bagaimana, menurutmu?”

Aku melayang-layang, bersama jantungku yang berdegup tak tahu aturan. Padahal, sudut  pandang puisi ini ditulis untuk perempuan lain, bukan aku. Untuk kali pertamanya, air mataku  jatuh membasahi pipi. Aku tak tahu mengapa. Padahal, puisi ini tak ditujukkan kepadaku.

“Oh, Maaf!” Ia mengambil beberapa tisu kering, dengan gerak refleksnya, ia menyapu bersih  wajahku tanpa izin.

Aku tak bisa menahan tangannya, aku membeku dan masih ada bekas dalam puisi yang  dirangkai itu. Anehnya, itu draf pertama dan itu baru saja ditulis saat lelaki itu duduk di bawah  pohon sakura tepat saat aku memandang wajahnya saat melihat kehadirannya untuk yang  pertama kali.

Aku membuka mulutku, lantas segera mengusap wajahku yang sembab dengan sisa tisu kering  yang diberikan oleh laki-laki itu. “Makasih, ya. Maaf aku tiba-tiba begini.”

“Oh ya,” aku berusaha mengalihkan topik, “Daritadi, kita belum sempat berkenalan. Namamu  siapa?”

“Aksara Sastra,” jawabnya menenangkan. “Orang-orang memanggilku ‘Pengarang Asmara’,  karena tulisanku selalu dihibahkan dari rekan yang ingin mengirim suara-suara mereka kepada  sang pujaan hati mereka.”

Aku sempat mengunci indera pendengaranku saat Aksara menyusun kalimat dari ucapannya  yang penuh dengan kehati-hatian itu.

“Kalau boleh tahu, apa kamu pernah merasakan jatuh cinta?”

Bersamaan dengan angin yang mengelus tubuh kami berdua secara bergantian, Aksara menarik  napasnya perlahan.

“Ya.” Aksara mengukir senyum tipisnya kepadaku. “Cinta itu lahir saat aku bertemu dengannya  di sebuah toko buku.”

“Saat aku masih berada dalam titik bab paling menyesakkan dalam alur kehidupanku, pada hari  itu juga aku mengenalnya saat ia duduk bersama dengan buku-buku lainnya di sebuah rak  klasifikasi buku fiksi. Buku itu hadir dengan kover makanan favoritku saat aku tengah melanda  hampa yang kurasakan saat itu.”

Belum beres Aksara menyelesaikan ceritanya, matanya sempat terbelalak, mengocek tas dan  mengeluarkan sebuah buku novel dengan ilustrasi kover mie ayam yang diberi nama Seporsi  Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna.

“Dan buku ini…” Aksara melanjutkannya sambil menepuk jari telunjuknya tepat pada tulisan  judul novel itu. “Pada awalnya menarik perhatianku karena makanan favoritku adalah mi ayam.  Tapi, setelah aku membacanya sampai selesai… Aku pikir, novel ini bukan hanya berisi seporsi  mi ayam di simpang jalan kota besar.”

“Ada tiga kekuatan yang begitu dahsyat di muka bumi ini; deburan ombak besar di antara laut  yang tenang, gempa bumi dari gunung meletus yang menggetarkan perut bumi, dan seonggok  jiwa manusia yang memilih untuk melangkah kembali atas hidupnya, meskipun ia diterjang  berkali-kali.”

Aku kehabisan kata-kata saat Aksara mengucapkan satu paragraf panjang itu. Bunga sakura  perlahan menggugurkan daunnya, diikuti oleh sapuan angin yang menerbangkan kelopak

bunga merah muda itu bersama dengan rambut hitamnya yang mengikuti irama angin yang  menerpanya.

Hatiku bergetar. Jantungku seolah bergerak kesana kemari tanpa henti sambil memompa  sirkulasi darah yang mengalir deras di seluruh tubuhku.

Wahai pohon bunga Sakura, apa kebijaksanaan yang engkau turunkan terhadap jiwa ini?  

Lamunanku pecah saat Aksara menyerahkan novel ilustrasi seporsi mie ayam setebal 216  halaman itu.

“Kamu mau baca?”

Pertanyaan dari uluran tangan Aksara di hadapan kedua tanganku itu perlahan kujawab dengan  kedua tanganku yang bergetar, akhirnya menerima buku tebal itu dengan begitu hati-hati.

“Kamu.. Mau meminjaminya?” Aku menyorot wajah Aksara sekali lagi. Aku masih ragu dan  belum siap menerimanya secara penuh.

“Mungkin kamu tak membutuhkannya sekarang,” jawab Aksara. “Tetapi, dengan keteguhan  hati atas kejujuran yang aku utarakan, aku yakin kamu akan menemukan jawaban atas cinta  yang masih penuh oleh tanda tanya di pikiranmu.”

***

Tepat pada pukul 15:30, bel pulang sekolah berbunyi. Suara AI Announcer menyerukan  pengumuman pada pukul 15:30 sudah menandakan waktunya para siswa pulang menuju  rumah.

Aku menyimpan novel pemberian Aksara dalam rak penyimpanan khusus laptop atau tablet  yang masih longgar. Entah kenapa, aku ingin memberi perhatian penuh kepada buku itu.  Apalagi, buku itu adalah buku milik orang lain.

Langkahku berjalan cepat tak sabar segera ingin melesat sampai ke rumah. Aku tak berhenti  memikirkan tentang apa yang Aksara ucapkan. Jujur saja, ucapannya begitu kompleks dan  sebagian-sebagian detil kecilnya membuatku kebingungan. Apakah ucapannya memiliki  korelasi tersembunyi agar aku bisa menemukan jawabannya melalui novel yang kupinjam  darinya?

“Aku yakin kamu akan menemukan jawaban atas cinta yang masih penuh oleh tanda tanya di  dalam pikiranmu.” 

Walaupun dalam hatiku masih ada keraguan, mendengar nama lelaki itu, aku lebih memahami  mengapa ia dinamai “Aksara.” Di antara umur kami yang sama-sama berusia 17 tahun, dia  terlihat sangat, sangat berbeda.

Aku cukup mendalami setiap kalimat yang keluar dari tangga nada suaranya yang lembut.  Entah kenapa, sampai sekarang, suara itu begitu menenangkan, seolah nada itu dibangun  menjadi sebuah rumah yang nyaman ditempati oleh siapa saja.

Bagaimana Aksara bisa semenenangkan itu? 

Apakah ia disayangi oleh keluarganya? 

Atau, ia sengaja menyimpan sebuah rahasia yang sengaja ditutup rapat—hingga hanya orang orang tertentu yang mengetahui sisi aslinya?  

Aku perlahan tenggelam setiap aku melihat pohon sakura yang bermekaran saat aku berdiri di  atas stasiun. Mungkin, ucapan Aksara itu benar.

Mungkin, aku akan mengetahuinya saat aku pulang dan membuka satu carik prolog novel yang  ia pinjamkan kelak aku sampai di rumah.

Gabung Rabu Pagi Club

WhatsApp Community tempat kamu menemukan dirimu sendiri dan berkembang dengan support system dari Rabu Pagi

© 2024 – 2026 | Rabu Pagi Alrights reserved